Naropal Araca; Penahitam Music & Art Camp Fest 2015

Sabtu, 24 Januari 2015

14:00

Langit sedang coklat-coklat keibuan. Cuaca yang bersahabat untuk berwisata ke pegunungan. Sedikit berbenah dan merapikan penampilan, jalanan siap untuk ditaklukan.

14:30

Ekspektasi mulai tinggi. Sembari menunggu lampu kembali hijau di suatu perempatan, telah dibayangkan bagaimana akhirnya sebuah festival seni digelar di perbukitan. Pena Hitam Art & Music CampFest. Perpaduan antara pameran kesenian dan konser dengan tuan rumah adalah alam. Oh, ternyata lampu telah berganti hijau. Jalanan adalah pembunuh nomor satu. Mari kembali berkonsentrasi.

16:00

Tak sulit untuk berada di sini. Pintu masuk Gunung Banyak, Paralayang, Kota Wisata Batu. Memberikan Rp, 5.000 pertama untuk tiket dan Rp, 5.000 kedua untuk menitipkan sepeda motor. Suguhan pertama yang ditawarkan sungguh menawan. Cuaca yang dingin sedang seru-serunya berkonfrontasi ketat dengan kehangatan event ini. Senyum-senyum yang tersungging di pipi seluruh pengunjung mengisyaratkan bahwa event ini tidak main-main.

16:00 – 16:20

Sejenak wara-wiri di lapak-lapak yang juga menjadi menu suguhan event ini. Barang-barang yang dijajakan begitu beragam. Mulai dari rilisan fisik band-band lokal yang kemungkinan tak akan ditemui di Disc Tarra, paket-paket rilisan band-band yang sudah sulit ditemukan, sandang-sandang kreasi anak negeri, kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Oh ini tanggal tua. Sayang sekali.

16:30

Pekan Raya Indie. Begitulah kira-kira yang terlintas di kepala. Frasa tersebut muncul seketika menyaksikan karya-karya gambar yang dijagokan pada pameran ini. Bukan apa-apa, tapi ketidaktahuan pada apa-apa tentang karya seni visual membuat mata dan pikiran lebih terfokus pada tenda yang menjadi rumah singgah bazar dan karya-karya ini. Tenda barak yang biasa digunakan oleh tentara kini menjelma sebagai payung dari para manusia dengan disiplin yang berbeda. Kita tunggu saja ulasan dari teman-teman lain yang lebih berkompeten perihal pameran ini dan bagaimana menurut hemat mereka.

17.00

Ajer sedang memamerkan musiknya. Doni dan kawan-kawan membuat suasana yang dingin menjadi ambigu. Menjadi nuansa. Tidak begitu semarak namun mampu membuat kaki tak mau beranjak. Sejatinya kaki ini memijak pada lahan terakhir dari rute festival. Panggung musik adalah garis terakhir yang ditawarkan. Tapi cerita tidak sampai di situ tentu saja.

17.30

Kabut mulai turun. Indah sekali meskipun hanya disaksikan sendiri. Senja mulai berpulang. Berpamitan kepada siapa-siapa yang hadir dan menyaksikan. Tak lupa kepada band Crimson Diary yang mulai bersiap memainkan setlist mereka. Menghilangnya senja tak membuat kehangatan ikut sirna. Lagu-lagu Crimson Diary menjadi api unggun bagi para pengunjung yang baru saja menyelesaikan tur mereka di tenda pameran dan lapakan. Hangat sekali.

18.30 – 20.15

Ternyata beberapa baris di atas adalah omong kosong. Dingin sekali! Tentu saja cuacanya. Kabut kian menebal. Langit berubah menjadi pekat keunguan. Adalah Megatruh yang harus bertanggung jawab mengatasi kebekuan. Acara ini rupanya memang telah terkonsep dengan sangat matang. Urutan pengisi acara saja sudah diprediksikan dengan masak. Bagaimana tidak, mereka menempatkan band ini pada timing yang akurat.Megatruh tahu persis bagaimana untuk ‘ngangetno jangan’ (menghangatkan makanan). Memberikan bara yang cukup sebelum malam benar-benar datang. Sebuah aksi teatrikal yang mereka selipkan di tengah-tengah penampilan mereka membuat pit kian penuh sesak. Ini dia. Bergerombol lebih rapat adalah cara terefektif mengelabui dingin yang menusuk.

Ditandai dengan bantingan gitar vokalis mereka, Megatruh turun panggung. Kegiatan dilanjutkan dengan ngobrol santai di atas panggung. Dipandu oleh para dedengkot yang memprakarsai terselenggaranya event ini. Bincang-bincang seputar awal mula terselenggaranya event ini dan hiruk pikuk pra acara serta ngerasani (obrol-obrol) perkembangan seni budaya di kota Malang. Lepas cangkrukan duet paling gres kota Malang menampilkan kebolehannya. Mereka adalah Bie Paksi dan Vania. Sepasang yang menamakan diri Wake Up, Iris. Spesial sekali karena ini adalah panggung pertama mereka. Musik bernuansa folk ala-ala Eropa Timur menjadi sajian yang manis menemani berangkatnya malam. Akhir pekan yang nikmat sekali.

20.30 – 21.30

Dedengkot indie rock kota Malang mulai memainkan setlist kesukaan. The Morning After menjadi penutup pertunjukan musik live band malam itu. Semakin rapat dan semakin hangat. Nada-nada sumbang dari para pengunjung yang ikut bernyanyi bersama Bambang vokalis The Morning After mengalkulasikan gempita event hari pertama. Yang kemudian dilanjutkan oleh kebolehan para jockey memainkan turntable, ini waktunya kaki berjalan-jalan.

21.30 – !%&^@#&^!

Kembali ke dalam tenda pameran dan lapakan, susana mulai terasa lengang. Dingin jangan ditanya. Beberapa lapakan telah bersiap untuk mematikan lampu dan beristirahat guna menyambut hari kedua. Tak terlihat lelah sama sekali lelah di wajah para panitia yang berlalu-lalang. Tampak beberapa orang yang masih enggan untuk kembali ke tenda masing-masing sedang menikmati pemandangan di atas pegunungan. Warung-warung kopi dipenuhi manusia yang rindu mengobrol kesana kemari. Waktu yang sempurna untuk sekedar berbasa-basi atau berbicara tentang apa saja.

Berkenalan dengan sesama pengunjung rupanya asyik juga. Ada yang datang dari Solo, Pasuruan, Surabaya, Makassar, Palembang, Malang, Batu, dari mana saja. Motifnya pun beragam. Ada yang hanya kebetulan sedang berlibur, ada yang seniman, ada yang pecinta gig, ada pelari yang kebetulan melewati Gunung Banyak, sampai ada seorang siswa SMK yang datang sendirian berusaha untuk mencari informasi tentang tempat magang yang cocok. Luar biasa sekali acara ini. Hingga ke entah waktu sedang berada dimana, mata ini mengajak untuk beristirahat. Tidur. Sampai jumpa.

25 Desember 2015

07.00

Malu sekali karena matahari telah menyapa mendahului. Mandi dan sarapan itu tersier, mari meneguk kopi. Selagi berjalan ke warung kopi, rupanya tempat ini tidak juga sepi. Telah banyak manusia yang menjalankan misi-misi pribadi. Karena acara baru di mulai lagi pukul 10.00, bercengkrama adalah hal yang paling masuk akal. Menyapa teman-teman dari Sidoarjo yang juga manggung nanti sore. Guyonan hangat menjadi topik yang menggembirakan. Sadar diri akan terbunuh waktu, obrolan menjadi sangat panjang. Mulai dari menertawakan teman yang kebingungan karena menahan hajat, hingga ramah tamah tentang perkembangan seni budaya dan rencana-rencana yang tersusun secara acak. Rupanya di atas bukit membuat kualitas kerja otak manusia menjadi lebih peka dan bersahaja. Sebelum lupa, terima kasih sudah pantas disampaikan di sini.

10.00

Event gate kembali di buka. Agenda awal adalah beberapa workshop dan ngobrol-ngobrol santai. Beberapa seniman berbagi ilmu secara cuma-cuma dengan antusias. Tak seperti workshop yang pernah terselenggara di kota Malang sebelumnya, workshop di festival ini diapresiasi lebih dari cukup. Hal tersebut terindikasi dari banyaknya peserta yang tak kalah antusias dari penyaji. Secara kuantias acara ini jelas sukses sekali. Melebihi ekspektasi.

12.00 – 15.30

Hujan!

16.00

Panggung musik kembali bergema. Tanggung jawab penuh diserahkan kepada Relics sebagai penampil pertama. Jalanan becek dan berlumpur tak membuat pengujung patah arang. Pit di depan panggung yang sejak hujan menjadi sangat lengang kembali didatangi para tamu. Seperti sudah diprediksi, penempatan band asal Sidoarjo ini sebagai penampil pertama sangatlah pas. Setelah hujan yang cukup lebat, gempuran Hardcore Punk yang padat serta mengeringkan suasana yang basah. Mantap sekali.

16.45

Kita tak pernah mengenali diri sendiri. Di atas gelora yang menggebu dan bersemangat, tubuh ini tak lagi dapat diajak berkompromi. Letih begitu terasa. Young Savages sebagai penampil selanjutnya membuat diri bertahan lebih lama. Indie rock manis ala-ala british dibungkus dengan dengan tampilan yang sedikit liar. Memainkan empat lagu andalan, Young Savages menjanjikan bahwa acara akan terus membahagiakan hingga akhir. Namun, apa daya tubuh tak lagi punya kuasa. Turun dan mengakhiri akhir pekan yang menyenangkan. Sebuah akhir pekan yang menjanjikan bila dihelat kembali. Harus. Terima kasih PenaHitam dan seluruh kolega.

17.30

Menapaki jalanan turun yang licin dan penuh lumpur.

17.40

Terpleset.

17.45

Jatuh.

17.52

Terjungkal.

17.55

Dibantu berdiri.

18.00

Terpeleset lagi.

18.05

Kotor.

18.15

Berkendara pulang dengan tersenyum dan bahagia.

19.30

Tidur pulas dan mimpi indah.

Kidung, 2014.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s