Naropal Araca; Dream Motion At Houtenhand

Seperti biasa, beberapa hari lalu (16/10) Houtenhand dipadati pemuda-pemudi yang hendak menonton acara musik. Namun tidak  seperti acara biasanya, kali ini Houtenhand tidak akan menghasilkan banyak keringat. Bahkan di atas panggung alat microfon tidak akan banyak terlihat dan digunakan.

Dalam rangka menjamu band Under The Big Bright Yellow Sun (selanjutnya disingkat UTBBYS) yang sedang menjalani rangkaian tournya, Houtenhand dan kawan-kawan mempersembahkan acara bertajuk Dream Motion. UTBBYS merupakan salah satu unit instrumental rock lawas atau yang lebih akrab dengan sebutan genre post-rock asal kota Bandung.

Selain UTBBYS, turut menemani juga dua pendatang baru unit post rock dari kota Malang, I’m Sorry I’m Lost (selanjutnya disingkat ISIL) dan (i). Malam itu terasa lebih spesial, pasalnya grup shoegaze andalan kota Malang, Intenna, juga akan tampil sekaligus memperkenalkan vokalis anyar mereka.

Acara dimulai pukul delapan malam. ISIL menjadi penampil pertama sekaligus menandai telah dimulainya acara. Mengawali acara dengan meyakinkan, ISIL  langsung memanas dan menarik perhatian. Mereka memainkan instrumen rock dengan tempo sedang dan tenang namun tetap memiliki porsi emosi tingkat tinggi pada setiap materinya.

Setiap lagu diawali dengan nuansa yang begitu tenang namun ledakan distorsi akan sering terjadi pada pertengahan hingga akhir lagu. Membawakan lima materi terbaru yang akan mengisi debut album, ISIL mengakhiri penampilan dengan begitu atraktif. Seakan masih ada emosi yang masih belum tuntas dan segera mereka tumpahkan di akhir penampilannya.

Rizki, Ananda dan Rizza meninggalkan alat mereka masing-masing untuk menuju arah Leo selaku penggebuk drum. Kemudian mereka meluapkan emosi yang belum tuntas dengan cara ikut menggebuk drum, cymbal, serta senar drum yang sengaja disediakan di atas panggung selama penampilan berlangsung dengan sekeras-kerasnya.Emosi sepertinya harus mereka bayar tuntas.

Intenna menjadi salah satu penampil yang ditunggu. Tentu saja karena ini adalah kembalinya penampilan mereka bersama seorang vokalis wanita. Bukan lagi Oming, melainkan wanita dengan nama Bunga. Oming yang harus memutuskan untuk hijrah ke ibu kota sepertinya terpaksa harus mengundurkan diri setelah Intenna melahirkan debut albumnya bertajuk Helter Skelter.

Beberapa kali tampil tanpa Oming harus Intenna jalani, namun hal tersebut bukan masalah besar. Pasalnya pada album Helter Skelter porsi vokal wanita berimbang dengan gitaris mereka, Obing, yang merangkap sebagai vokalis di beberapa lagu. Namun tetap saja terasa masih ada yang kurang dari Intenna tanpa kehadiran wanita pada vokal diantara mereka.

Namun hari ini mereka kembali berlima bersama Bunga.  Wajar jika penampilan pertama Bunga masih terlihat agak canggung. Mungkin Bunga masih sedikit malu dan butuh banyak menjajaki panggung bersama Intenna. Penampilan pertama bersama Bunga masih menyisakan kerinduan akan kehadiran Oming. Mungkin hal itu disebabkan penampilan Oming dan Bunga yang sekilas terlihat sama, sederhana dan apa adanya.

Namun jika berbicara mengenai karakter suara, mereka berdua jelas sangat jauh berbeda. Masih menyisakan kerinduan bagaimana fallset Oming yang terdengar sepanjang  lagu “Flowery” harus diganti dengan suara rendah ala Bunga. Namun ini hanya masalah waktu.

Malam itu Intenna membawakan lima materi dimana dua diantaranya adalah materi terbaru yang konon dipersiapkan untuk calon album yang akan datang. Semoga lekas terwujud.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang band instrumental rock anyar (i), selain mereka adalah roster dari salah satu label kota Malang yakni The Paimo. Saya cukup terkejut jika mereka memiliki enam personil dimana empat diantaranya mengisi posisi gitar.

Jika membandingkan dengan I’m Sorry I’m Lost yang memiliki tingkat emosi tinggi dari segi aransemen musiknya. (i) terlihat lebih tenang dengan minimnya distorsi. Mungkin yang menjadi pekerjaan rumah mereka adalah untuk mampu membagi porsi antara gitar satu dengan gitar lainnya. Namun malam itu (i) tetap layak dan patut dilayangkan pujian mengenai penampilannya.

Menjadi tamu sekaligus penutup acara, UTBBYS tentu tampil dengan meyakinkan. Membuka penampilan dengan lagu “Prahara” dimana menjadi materi penutup pada debut album bertajuk Quintessential Turmoil. Kualitas sound, power, teknik dan pembagian instrumen, UTBBYS layak untuk dilayangkan pujian.

UTBBYS terdiri dari lima personil dengan 3 gitaris yang memiliki pembagian porsi pas satu dengan yang lain dan membuat mereka terdengar padu. UTBBYS tampil begitu menawan, ditambah lagi dengan kolaborasi dengan MC malam itu membawakan lagu milik Slowdive berjudul “Golden Hair”. Penonton semakin tersenyum lebar adalah ketika dua materi anyar mereka bocorkan dan bawakan dengan begitu emosional.

Sepertinya untuk album terbarunya, Under The Big Bright Yellow Sun akan terdengar lebih marah dan liar ketimbang album sebelumnya. Kita tungg saja bagaimana nantinya album terbaru mereka. Entah itu dari segi musik atau bentuk packaging albumnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s