Naropal Araca; We Are The Pigs Vol. 2

Belakangan ini acara di kota Malang kian banyak tersebar di berbagai tempat, terutama jika akhir pekan datang. Beberapa hari sebelum Sabtu (11/5) datang, flyer We Are The Pig Vol. 2  berhasil memadati alur timeline media sosial. Pertanda minat yang begitu tinggi dari pemuda kota Malang untuk datang ke acara We Are The Pigs Vol. 2.

Bertempat di Komika Cafe, kini acara We Are The Pigs berlanjut  ke Vol. 2 dengan menggandeng Malang Sub Pop sebagai pihak penyelenggara acara. Sebelumnya We Are The Pigs sukses digelar secara mandiri pada edisi pertamanya di Houtenhand.

Kali ini masih dengan konsep yang sama namun ditempat yang berbeda , We Are The Pigs Vol.2 mendatangkan empat band tamu dari berbagai kota. Mereka adalah Peonies (Jakarta), Combo (Surabaya), Lightcraft (Bandung), dan Ikkubaru (Bandung). Turut hadir menemani juga band dari Malang yakni Young Savages, The Breakfast Club, dan MUCH.

Jika menengok kembali acara We Are The Pigs Vol. 1, tidak banyak yang berubah dari line up band yang berasal dari kota Malang dan hanya bertambahkan MUCH. sejatinya,  Young Savages dan The Breakfast Club telah menjadi bagian dari We Are The Pigs Vol. 1 di Houtenhand.

Padahal jika berbicara konsep tribute yang diusung, band semacam Megatruh, Becuz, Frank!, Intenna atau band pendatang baru Coldiac, juga bisa dilibatkan. Ah, bukan permasalahan yang begitu mengganggu. Masih bisa berjumpa di We Are The Pigs volume selanjutnya.

We Are The Pigs Vol. 2 yang digelar di Komika Café sukses menjadi acara yang sangat menghibur dan begitu menyenangkan.

Penampilan pertama adalah  Combo yang berasal dari Surabaya. Malam itu Combo dipercaya membawakan ulang lagu milik band Blur. “Beetlebum”, “Coffee and  TV”, dan lagu lainnya yang dibwakan dengan baik membuat penyesalan hilang karena suda rela meninggalkan kopi lebih awal untuk menyaksikan penampilan mereka sekaligus penampilan pembuka acara We Are The Pigs Vol. 2.

MUCH as The Smiths. Begitulah kenyataannya meski jika jujur secara pribadi tidak terlalu sepakat. Membuka penampilannya denga lagu berjudul “Please, Please, Please Let Me Get What I Want” sudah sukses membuat penonton semakin merapat.

We Are The Pigs Vol. 2 kian memanas setelah lagu The Smiths lainnya berjudul “There Is a Light That Never Goes Out” dibawakan oleh MUCH. Salah seorang pria bahkan secara spontan naik ke panggung dan kemudian merebut kuasa atas mic seorang Anggi untuk menggantikan sementara posisi vocal MUCH. He know how to bring Tribute to Britpop like you’ve never had before!! .

Materi berjudul terbaru “Break Heart, Break Apart” milik MUCH juga tentu tidak luput untuk mereka bawakan dengan begitu baik (baca:keren).

Ikkubaru melanjutkan dengan membawakan  beberapa materi band Ride. Selain Combo, Ikkubaru menjadi nama yang masih asing. Rasanya musik yang mereka mainkan tidak jauh berbeda dengan band pendatang baru dari Malang, Coldiac. Mereka terdengar memainkan musik nuansa pop yang bercampur irama funk dan mampu mengundang badan untuk berdansa.

Kemudian giliran penampilan pendatang baru The Breakfast Club sebagai The Stone Roses. Satu persatu wajah yang tidak asing naik ke panggung, mereka antara lain adalah Mucho yang penggagas acara We Are The Pigs, Bimo (HumiDumi), Bintang (Young Savages) dan dua personil lainnya sebagai drummer dan bassist.

Ternyata malam itu sudah banyak yang menanti penampilan mereka. Momen ini tentu dimanfaatkan dengan baik oleh The Breakfast Club untuk mengenalkan beberapa materi terbaru mereka, salah satunya berjudul “Distance”.

Harus diakui jika mereka pintar dalam menciptakan part dan aransemen musik.  Mungkin lebih baik lagi jika ada tambahan power pada bagian vocal dan megganti gitar akustik yang digunakan bintang agar tidak terdengar kosong  saat Bimo mengisi lead gitar. Akan tetapi tidak ada masalah saat mereka membawakan lagu “I Wanna Be Adored” milik The Stone Roses dengan begitu memuaskan.

Saatnya Lightcraft menguasai panggung. Menyapa dengan lagu Coldplay berjudul “Yellow” dan beberapa materi baru yang konon akan diluncurkan pada EP terbaru mereka dalam waktu dekat.

“Clocks”membuat malam kian larut dan membuat mereka yang berpasangan lupa waktu untuk pulang meski bagian lirik ‘Home, home where I wanted to go…’ dinyanyikan berulang. Momen pas bagi mereka yang membawa pasangan untuk membuat genggaman tangan mereka bertambah erat sambil ikut bernyanyi tanpa ada gangguan berat di area penonton yang semakin padat.

Giliran Young Savages yang dipercaya sebagai Suede menguasai panggung dengan disambut riuh penonton. Kita ketahui band ini memiliki  selera musik yang bagus dan luas di ranah musik indie rock sebagai referensi musik mereka. Sebut saja Tribes, The Twang, Stairsalor, hingga Happy Mondays, dimana semuanya juga berasal dari tanah Inggris. Namun entah karena alasan apa, Young Savages lebih memilih Suede yang sebenarnya lebih jarang mereka bawakan.

Seharusnya pada kesempatan seperti ini Young Savages bisa membuat para pecinta musik indie rock ataupun Britpop yang memadati acara We Are The Pigs Vol. 2 mengetahui jika band di tanah inggris tidak hanya dikuasai oleh segelintir nama yang lebih sering terlihat menempel pada t-shirt sebagai atribut fashion remaja masa kini.

Malam itu Young Savages juga membawakan beberapa lagu dari lima materi terbaru mereka yang pada waktu lalu dibocorkan via netlabel Kanaltigapuluh dengan versi akustik. Jika boleh memberikan sedikit catatan, mungkin Young Savages harus memperhatikan porsi emosi naik dan turun pada beberapa bagian lagu baru yang mereka bawakan malam itu.

Namun suasana semakin pecah ketika lagu “Beautiful Ones” milik Suede mereka bawakan begitu berenergi. Sayangnya lagu “We Are The Pigs” tidak turut mereka sertakan dalam list lagu yang mereka bawakan

Peonies menandai jika acara telah sampai pada puncaknya. Mengemban amanat sebagai band yang akan membawakan beberapa materi dari The Cure, Peonies tampil memenuhi ekspektasi jika acara haruslah berakhir dengan menyenangkan dan penuh keringat.

“Boys Don’t Cry” terbukti mampu mengundang penonton semakin liar untuk menari dan bernyanyi bersama. Tentunya juga diantara materi The Cure lainnya dan materi mereka sendiri.

We Are The Pigs kemudian mengakhiri malam dengan penuh kegembiraan dan tentunya keringat. (HLM)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s