Ulasan Rilisan; Christabel Annora – Talking Days

Christabel Annora, mungkin adalah nama yang sudah begitu akrab di telinga penikmat musik kota Malang. Perempuan bersuara merdu yang mampu menyulap suasana menjadi sendu setiap jemarinya mulai menari di atas piano yang dimainkannya. Peluncuran album bertajuk Talking Days beberapa waktu lalu merupakan pembuktian jika Christabel Annora pantas untuk dinobatkan menjadi peri tidur bersuara merdu yang mampu merayu dan mengantar pendengarnya untuk beristirahat hingga melangkah menuju hari baru.

Saya sungguh lupa kapan perkenalan tidak resmi itu terjadi. Seingat saya Houtenhand menjadi tempat awal perjumpaan saya dengan Ista (nama panggilan Christabel Annora). Berawal dari ajakan seorang teman untuk sekedar menikmati sebotol beer dingin dan sore yang cerah di balik jendela lantai dua Houtenhand yang berhadapan  langsung dengan hiruk pikuk jalanan Kayutangan.

Kebetulan sore itu langit nampak begitu biru dan cerah. Sesampainya di lantai dua, saya kaget melihat seorang wanita bersuara merdu sedang asik bernyanyi sendiri sambil memainkan piano bersinarkan cahaya sore yang mengintip melalui jendela Houtenhand di lantai dua. Seingat saya, saat itu hanya ada satu pria yang mendengarkan dan seringkali mengajukan permintaan lagu untuk dibawakan oleh Ista.

Pria tersebut bahkan bukan pengunjung, melainka salah satu pengurus Houtenhand. Jadi bayangkan saja bagaimana intimnya di lantai dua pada saat itu. Christabel Annora membuat saya sekaligus tiga orang teman saya lupa dengan tujuan awal untuk menikmati sore dengan sebotol beer. Suara merdu dan kepiawaiannya membawakan setiap lagu cover yang dimainkan membuat kami enggan untuk sekedar berpura-pura untuk tidak mendengarkan.

Saat itu Christabel Annora memang tidak terdengar terlalu mendayu dan sendu. Musik yang dimainkannya sangat kental dengan aroma dan irama musik blues yang terkesan berkeringat. Namun saat itu saya sudah cukup bisa membayangkan bagaimana jadinya jika seorang Christabel Annora memainkan musik mendayu. Tidak ada rasa sedikitpun untuk saya meragukan kualitasnya!

***

Christabel Annora merupakan penyanyi dan pianis berbakat  asal kota Malang yang  bakat bermusiknya sudah terlihat sejak dirinya berumur lima tahun. Bahkan ketika duduk di bangku sekolah dasar, Christabel Annora sudah mampu membuat lagu ciptaannya sendiri.

Christabel Annora bukanlah nama pendatang baru di skena musik lokal kota Malang. Dirinya sudah cukup lama berkecimpung menjadi pelaku musik di kota Malang. Selain pernah membentuk band bernama Get Panic, Christabel Annora juga terbilang rajin terlihat di atas panggung untuk membantu sejumlah band lokal seperti ; Earth Of Heaven, The Morning After, Folkapolka dan  Ajer.

Karya Christabel Annora berjudul “If These Walls Could Talk” juga pernah menjadi bagian dalam album Kompilasi Sepi yang dirilis oleh Barongsai Records. Selain itu belakangan ini Christabel Annora juga sering terlihat untuk membantu penampilan band berformat akustik idola remaja masa kini yakni Payung Teduh.

***

Pada tanggal 14 Mei, bertepatan dengan diselenggarakannya perhelatan bertajuk Folk Music Festival 2016 di Lembah Dieng, Malang. Christabel Annora melalu label Barongsai Records mengumumkan jika akan meluncurkan debut album bertajuk Talking Days. Dalam acara tersebut Christabel Annora juga menjadi salah satu pengisi acara yang mampu mencuri banyak perhatian ratusan pasang mata dan telinga yang hadir di acara Folk Musik Festival 2016.

Saat itu CD Album Talking Days diproduksi sangat terbatas, hanya berjumlah 50 keping CD. Konon debut album Christabel Annora ludes terjual habis hanya dalam waktu singkat. Hal yang menurut saya sangat wajar dengan kualitas bermusik yang sudah tidak perlu diragukan lagi.

Jujur saja, ketika review ini dibuat, saya belum menyentuh sama sekali rilisan fisiknya. Hahahahaha.. Karena saya termasuk salah seorang yang kurang beruntung tidak mendapatkan debut album Talking Days.

Beruntung Christabel Annora dan Barongsai Records berbaik hati mengijinkan para pengagum Christabel Annora yang kurang beruntung itu (termasuk saya) bisa terlebih dahulu menikmati semua lagu pada album Talking Days melalui layanan streaming. Namun sebagai penikmat dan pengagum musik yang baik, harusnya rilisan fisik tetap wajib dimiliki. Bukankah begitu?

Pada Album Talking Days, musik Christabel Annora tidak terdengar seperti pada awal perjumpaan saya di lantai dua Houtenhand. Tidak ada aroma kental musik blues dalam album ini. Kali ini Christabel Annora terdengar begitu mendayu, sendu dan menenangkan namun menyenagkan. Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, meski mendayu Christabel Annora tidak akan mengecewakan.

Track berjudul “Early Reflection” menjadi lagu pembuka pada album Talking Days. Suara piano yang megah dengan santainya dimainkan kemudian disambut suara merdu Christabel Annora menjadi sapaan awal yang begitu menenangkan. Lagu pembuka yang mampu membuat pendengarnya untuk sekedar menyandarkan punggung dan bersantai menikmati setiap materi pada album Talking Days.

Kemudian dilanjut dengan lagu “Sunshine Talks” yang terdengar begitu menyenangkan. Membayangkan Christabel Annora yang sedang bernyanyi disebuah taman indah pada pagi yang cerah bersama Oktavianus Triangga (cello), Timotius Nugraha (violin) dan Steffani BPM (glockenspiel) dikelilingi kupu-kupu liar cantik berterbangan.

Berlanjut pada track  berjudul “If These Walls Could Talk” yang sebelumnya turut berpartisipasi pada album Kompilasi Sepi dan “60 Km / H” yang begitu menenangkan. Lagu “New Kind Of Lame” terdengar lebih ceria, lagu ini sepertinya cocok mengisi soundtrack pada film Cinderella.

Lagu berjudul “Rindu Itu Keras Kepala” menjadi petuah yang begitu manis untuk didengar. Namun pada pertengahan lagu, petuah dalam lagu ini seperti dipertegas dengan suara gitar akustik yang dimainkan oleh Iksan Skuter yang begitu lugas dan tegas. Bukankah memang Iksan Skuter memang seperti itu?  

Selanjutnya adalah lagu ”Ini Sementara” yang dibawakan oleh dua orang vokalis favorit (versi saya) di kota Malang. Adalah Oneding dan tentu saja Christabel Annora. Dua vokalis yang bersahabat baik sedang duduk menatap senja dan saling mengutarakan kegelisahan mereka masing-masing, kemudian tidak lama senja itu menghilang bersama kegelisahan mereka. Mereka menutup akhir percakapan mengenai kegelisahan mereka dengan kata, ini sementara… (bersyukurlah karena kali ini Oneding mampu menahan nafsu untuk tidak mengakhiri percakapan dengan kata J****K)

“Selfishness” menjadi track tersingkat sekaligus termurung pada album ini. Kemudian lagu cover milik band Efek Rumah Kaca berjudul “Desember” juga menjadi daya tarik tersendiri. Christabel Annora membawakannya begitu menghayati dengan gayanya sendiri.

Christabel Annora sepertinya tidak ingin terus-menerus untuk membirukan suasana dengan menawarkan lagu berjudul “Feel So Alive” pada track selanjutnya. Kemudian “Lucid Dreamsaya rasa menjadi lagu spesial. Entahlah, mungkin kalian bisa menyimpulkan maksud saya… haha

Kemudian selanjutnya ada tiga lagu tersisa. Salah satunya adalah bonus track yang diberikan Christabel Annora pada pendengar album Talking Days. Kemudian ada juga lagu kolaborasi dengan salah satu band anyar dari kota Malang. Penasaran? Silahkan coba untuk membeli  album Talking Days di toko atau lapak terdekat.

Mungkinkah ini merupakan album termanis tahun ini? Bisa jadi! Selamat untuk Christabel Annora atas peluncuran debut album penuhnya. (HLM)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s