Naropal Acara; Plug and Play at Houtenhand

menu-plug-and-play-at-houtenhand

Senin (13/2) kemarin terasa ajaib. Arus media sosial tidak dibanjiri umpatan dan hujatan seperti biasa terjadi pada hari Senin sebelumnya. Pikirku, teman-teman sedang mengurangi kata-kata kotor di media sosial, baguslah jika begitu alasannya. Beberapa waktu berselang baru saya sadar mereka melakukan itu karena malam harinya akan digelar acara bertajuk Plug and Play di Balai Desa tercinta kota Malang, Houtenhand Public House.

Konon acara ini diselanggarakan oleh band yang tumbuh besar di era gemerlap medio 2000-an bernama Wairejected yang dalam rangka mengenalkan materi terbaru sekaligus dalam rangka serangkaian tur mereka. Jujur saja kami tidak banyak mengetahui mengenai band ini selain cerita jika mereka adalah salah satu band yang masuk pada Kompilasi LA Lights Indiefest Vol. 3 yang dirilis pada tahun 2008 bersama The Bannery, CUTS, Tigapagi, dan lainnya.

Menurut kami generasi milenial yang pada era Kompilasi LA Indiefest  masih berstatus anak sekolah menengah pertama yang baru saja lulus, kompilasi ini sangat penting dan tentunya keren. Jadi siapapun yang pernah terlibat pada kompilasi ini, pasti bandnya keren.

Malam itu Houtehand sudah bisa diprediksi mengenai siapa yang akan meramaikan mulai dari depan bar lantai dasar, area moshpit lantai 2, hingga teras Toko Houtenhand lantai 3. Mereka pastinya adalah teman-teman yang turut terlibat dan merasakan langsung gairah menjadi pelaku, penggiat, dan penikmat musik alternatif di kota Malang pada medio 2000an. Belum lagi susunan ‘menu’ di atas panggung yang telah disiapkan seperti Lolyta and The Disgusting Trouble, Andjoeran Pengoeasa, The Morning After, Unda Undi, Get Panic, dan yang pasti Wairejected. Kami pun tidak akan kaget jika Houtenhand akan lebih berkeringat, hangat, dan pecah.

Acara dimulai sektiar pukul 20.00 WIB. Lapakan rilisan sudah terpampang manis di atas meja di depan teras Houtenhand. Tampak bar sudah ramai dipenuhi wajah-wajah yang tidak  asing lagi bak suasana reuni dengan wajah semeringah akibat sekian tahun tidak pernah jumpa.

Penampilan pertama ternyata dipercayakan kepada Lolyta And The Disgusting Trouble. Cukup mengejutkan jika penampil pertama adalah mereka. Sontak membuat penonton yang sebelumnya berkececeran di bar hingga teras langung naik ke lantai 2. Ternyata area moshpit sudah sesak dipenuhi penonton yang tidak sabar menunggu hidangan menu pertama.

Limbang (Vokalis LATDT) by Gaharu
Limbang (Vokalis LATDT) by Gaharu

Lolyta And The Disgusting Trouble (selanjutnya kami singkat LATDT) adalah unit hard rock dengan aroma kuat blues yang dibentuk pada 2004 silam ini selalu tampil atraktif dan mengesankan di atas panggung. Belum lagi yang paling ditunggu tidak lain adalah aksi jenaka dari vokalis mereka bernama Limbang. Ternyata benar, menempatkan LATDT di awal acara sungguhlah berbahaya. Tidak perlu waktu lama, ketika lagu pertama dibawakan membuat seketika area moshpit yang tadinya sesak namun kondusif seketika langsung menggila.

Terakhir kali menonton band ini beberapa tahun silam, vokalis mereka melemparkan puluhan cabai ke area penonton sambil meneriakkan alasannya “KARENA ROCK ITU PEDASSS!!”. Malam itu masih dengan gaya yang sama namun bukan lagi cabai (mungkin karena harga cabai semakin tidak masuk akal) yang mereka lemparkan ke jantung moshpit. Melainkan bingkisan berupa handuk dan satu buah keping CD tembang kenangan, band gila!haha.

Kemudian vokalis LATDT berujar kepada penonton yang beruntung mendapatkan CD tembang kenangan tadi, “Mention ke Instagramku, kau akan menjadi orang yang akan mendapatkan rilisan pertama dari kami.” Tentu saja kabar menarik yang patut dinantikan, atau ini salah satu cara agar mereka tampak menjajikan. Ah, sudahlah kami sudah terbiasa dengan guyonan mereka. Gak mempan!

Penonton yang kian padat dan rapat semakin tidak terkendali ketika lagu Black Sabbath berjudul “Supernaut” mereka bawakan. Lanjut memompa keringat dengan materi mereka sendiri berjudul “Magic Of Rock”.

Foto by Gaharu
Foto by Gaharu

Keringat belum mengering, Andjoeran Pengoeasa sudah bersiap tampil. Penonton semakin banyak berdatangan, area depan panggung hingga tangga menuju lantai tiga hampir sudah tidak ada slot untuk diisi penonton lagi. Asap mengepul di lantai dua, bir berserakan di lantai hingga pinggiran tembok. Acara ini sepertinya sudah direncanakan untuk menguras keringat sedari awal menu pertama disajikan.

Andjoeran Pengoeasa adalah unit psikedelik dengan kadar mabuk yang cukup tinggi. Band ini sejatinya memang tidak bisa dikatakan bubar, namun juga sedikit kurang meyakinkan jika dikatakan aktif, mungkin lebih tepat jika mereka kini berstatus ragu-ragu. Belakangan ini Andjoeran Pengoeasa perlahan mulai mudah ditemukan di beberapa acara, meski intensitasnya tidak terlalu sering. Entahlah ini hanya pelampiasan rindu atau memang ada rencana yang sedang mereka persiapkan.

Beberapa kali tampil, penampilan Andjoeran Pengoeasa memang sedikit terdengar monoton karena terlalu sering membawakan materi yang sama dan tidak ada materi baru dari mereka untuk diperkenalkan. Namun entah mengapa hal itu ternyata tidak membuat penonton untuk mengurangi antusiasme menikmati penampilan Andjoeran Pengoeasa.

Kadar mabuk yang mereka berikan melalui dentingan suara piano yang menusuk itu dan ketukan-ketukan ajaib memang selalu berhasil menyihir penonton agar selalu kecanduan penampilan Andjoeran Pengoeasa tingkat akut. Saatnya stage diving dimulai ketika Andjoeran Pengoeasa membawakan salah satu lagu kover yang hampir tidak pernah luput mereka bawakan di setiap aksi panggungnya. Adalah lagu milik band yang banyak mempengaruhi musik mereka, The Doors dengan lagu “Hello, I Love You”.

Andjoeran Pengoeasa kemudian menutup penampilannya denga lagu andalan mereka yang sudah tidak asing lagi akan selalu diteriakkan penonton agar mereka bawakan, “Hancurkan Tirani”.

Menu kedua ini sudah begitu menguras tenaga dan keringat, lantai kini tidak hanya licin akibat bir tumpah, namun juga keringat lima puluh lebih manusia yang tidak ada habisnya menggerakkan tubuh mereka selama dua menu disajikan.

Lantai dua sedikit lenggang, beberapa penonton memutuskan untuk mencari udara segar di pinggir jalan raya Kayu Tangan atau di rooftop lantai tiga. Tidak lama kemudian suara pemandu acara memepersembahkan nama yang sepertinya malam itu paling banyak dinantikan, mereka adalah The Morning After.

Lantai dua kembali disesaki penonton yang kini berganti posisi. Penonton yang sudah nampak kewalahan karena tenaga yang diserap oleh dua menu pertama tadi tampaknya kembali terisi karena penampilan band pengusung musik alternatif ini. Belum lagi penyebabnya adalah malam itu The Morning After hampir membawakan keseluruhan materi dari debut album yang misterius bertajuk Another Day Like Today.

Kami menyebutnya album misterius, karena tidak banyak teman-teman yang memiliki arsip fisik rilsian ini. Namun uniknya hampir seluruh pemuda di kota Malang hafal dengan semua materi yang terkandung dalam album tersebut, ajaib kan?. “Sleep”, “Stay For A While”, “Bukan Lebih Baik” menjadi track yang dibawakan The Morning After malam itu. Membuat sisa-sisa tenaga tidak dapat terbendung lagi untuk ditumpahkan seluruhnya. Kali ini stage diving rawan terjadi setiap menitnya, dari depan hingga belakang area penonton menjadi daerah rawan tubuh melayang.

Foto by Gaharu
Foto by Gaharu

Penonton tidak ada habisnya untuk ikut menyanyikan setiap lagu yang dibawakan The Morning After. Meski beberapa kali The Moning After melakukan kesalahan, tapi faktanya penonton mengabaikannya dan tetap bergembira ria. Kegembiraan sepertinya sudah terlampau sadis untuk mementingkan hal-hal teknis. Belum lagi lagu penutup yang The Morning After bawakan berjudul “Tonight, Tonight” milik band The Smashing Pumpkins semakin menguras habis tenaga penonton malam itu.

plugandplay5

Tenaga sudah dalam keadaan sekering-keringnya, setelah banyak tubuh yang berputar di area moshpit. Kini saatnya gelas sloki yang berputar. Dengan sisa-sisa tenaga dan keringat segar yang masih membasahi pakaian, puluhan orang memadati teras depan Houtenhand untuk menikmati menu rahasia malam itu, yakni ramuan air biadab. Tidak perlu ditanyakan lagi siap pemandunya jika kalian kerap hadir acara musik di Houtenhand, kalian pasti sudah tahu siapa pelakunya.

Unda Undi sudah memainkan lagu mereka di lantai 2, unit rock and roll ini memang selalu tampil prima dan total. Pakaian personil yang selalu seragam dan suguhan sound yang hampir tidak pernah mengecewakan. Kini area penonton sedikit lenggang karena tenaga mereka sepertinya memang benar-benar habis terkuras di tiga menu pertama. Namun Unda Undi tetap menampilkan performa terbaiknya malam itu.

Foto by Gaharu
Foto by Gaharu

Malam kian panjang, wajah-wajah semakin memerah. Sepertinya banyak yang melupakan jika hari itu adalah Senin, dimana hampir sebagaian penonton malam itu adalah mereka yang esoknya harus memenuhi kewajiban untuk bekerja. Persetan! Kata itu dipastikan akan terlempar ketika mengajukan pertanyaan “kon mene gak kerjo a?” (kamu besok tidak bekerja?). Meskipun itu sebenarnya hanya candaan untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak menghancurkan suasana hati yang sedang dirundung kegembiraan luar biasa.

Tidak lama kemudian Get Panic naik ke atas panggung. Unit rock alternatif yang dihuni oleh salah satu pianis dan juga solois bernama Christabel Annora ini tampil cukup bertenaga dan memuaskan. Hingga penghujung acara sampai pada waktunya. Dan Wairejected tentu saja menampilkan penampilan terbaiknya.

Sajian malam itu membuat penonton tidak mungkin untuk rela menyimpan tenaganya sedari sajian pertama dihidangkan. Hampir semua pengisi acara tampil prima dan sangat memuaskan. Energi musik alternatif gemerlap medio 2000an seperti kembali dihampirkan ke Houtenhand. Semuanya secara serentak mengerahkan maksimal energi yang mereka miliki.

Foto by Gaharu
Foto by Gaharu

Malam yang sungguh menyenangkan. Terima kasih juga kepada Wairejected, kalian sukses membahagiakan kami dan semoga juga semua rencana yang sudah kalian siapkan berjalan lancar dan berjalan sesuai dengan yang kalian inginkan. Juga tidak lupa dengan Balai Desa tercinta, Houtenhand.

Houtenhand memang tidak pernah kehilangan taji mereka untuk selalu sukses meramu acara hingga cairan yang memang kelewat bajingan. Mulai dari mempersembahkan acara dengan wajah baru, membangunkan band-band dari tidur panjang untuk kembali lagi ke atas panggung, atau bahkan membuat pengunjung untuk menginap dan tidur di atas panggung, semuanya bisa saja terjadi di sana. Pertanyaan yang tidak perlu diragukan lagi jawabannya adalah: Pantaskah Houtenhand dinobatkan menjadi salah satu tempat tersakral di kota ini?

 

Advertisements

One thought on “Naropal Acara; Plug and Play at Houtenhand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s