Sesi Obrolan Keterlibatan Perempuan Dalam Sebuah Band; Melihat Band Dari Kacamata Perempuan Sebagai Pelaku Musik

Berbicara mengenai perempuan dan ranah musik mungkin belakangan ini kerap kali menjadi topik obrolan yang sedang ramai diperbincangkan, entah itu topiknya berisi kabar positif atau negatif. Berbicara mengenai keterlibatan perempuan di skena musik kota Malang memang bukan hal baru atau hal yang perlu diperdebatkan. Perempuan dalam band sejatinya sudah lama hadir dan berkecimpung menjadi pelaku musik di kota Malang. Sebut saja Suster Clinic, Get Panic, My Beautiful Life, Intenna, Porax Poranda, dan Kobra.

Sayangnya beberapa band yang kami sebutkan tadi sudah mulai jarang terlihat dan mungkin akan sulit untuk ditemukan di berbagai acara atau panggung. Namun ketika kepala kami mulai dipenuhi pertanyaan mengenai alasan dan kemana perginya sosok perempuan dalam sebuah band. Tiba-tiba saja jawaban itu muncul begitu saja tanpa kami duga dengan lahirnya band-band baru dengan sosok perempuan di dalamnya.

Kekaguman kami harus terlontar pada para perempuan ini di tengah semerbaknya kabar negatif yang masif merundungi dan melabeli ‘anak band’ belakangan. Kancah musik yang selama ini kebanyakan didominasi para lelaki ini juga ternyata tidak membuat mereka ragu dan takut untuk berkontribusi langsung pada musik sebagai pelaku.

Berbekal  pertanyaan yang pernah mengendap di kepala kami sebelumnya. Pada sesi obrolan ini kami sengaja menggali alasan dibalik keputusan mereka berkecimpung ke ranah musik sebagai pelaku, kemudian menanggapi kabar yang menyebutkan jika hadirnya perempuan dalam sebuah band saat ini hanya untuk sebagai daya tarik band itu sendiri, kemudian mengulik pengalaman hingga menelusuri bagaimana musik berperan dalam kehidupan mereka.

Enam Perempuan yang bersedia meluangkan waktunya untuk kami ajak berbincang santai dalam satu forum kali ini merupakan wajah-wajah baru di skena musik kota Malang, sampai saat ini mereka juga masih aktif menjadi personil band dari ranah musik yang beragam. Mereka adalah Anggi, Dewi, Kiki, Patrice, Tiara, dan Sabiella.

Siapa mereka? Simak Sesi Obrolan Keterlibatan Perempuan Dalam Sebuah Band; Melihat Band Dari Kacamata Perempuan Sebagai Pelaku Musik.

 

Hai semua, silahkan perkenalkan diri masing-masing

Anggi: Halo saya Anggi dari Much sebagai vokalis

Dewi: Hai, aku Dewi Nawang Wulan dari Ravage. Sebagai vokalis juga

Kiki: Hi, aku Kiki dari intenna

Patrice: Hai aku Patricia dari Folkapolka sebagai vokalis sambil memainkan synthesizer/pianika/keyboard.

Tiara: Halo aku Tiara dari Young Savages. Sebagai backing vocal & keyboardist.

Sabiella: Halo perkenalkan aku Sabiella dari Closure sebagai gitaris dan backing vocal.

 

Kalian merupakan personil dari band berbagai jenis musik, bisa beritahu kami musik apa yang dimainkan oleh band kalian masing-masing? Dan bagaimana awalnya kalian berkenalan dengan musik tersebut?

Anggi: Genre MUCH bisa dibilang indie rock/pop gitu. Awalnya aku diajakin Dandy buat project ini gara-gara dia nonton Lemuria, pengen punya band kayak gitu. Semenjak itu deh mulai denger-dengerin kayak Tigers Jaw, Petals, Adventures, ato Candy Hearts.

Dewi: Ravage sendiri mengusung musik power violence/ hardcore. Tapi ada juga yang mengatakan fastcore. Awalnya aku diajak sama gitaris dari band Lemah Syahwat, mas Agus. Saat itu kita masih bertiga aja sama drummer satu. Berjalannya waktu kita jalan berempat karena posisi bass udah terisi. Semua berawal saat aku gabung Ravage, dari sana aku mulai dengerin lagu lagu dari band seperti Punch, Code Orange, Trash Talk.

Kiki: Sebenernya kami juga kurang yakin dengan genre musik apa yang kami bawakan (tertawa). Tapi merujuk pada situs musik wastedrockers, mereka menuliskan jika Intenna semacam crossover antara slowcore, dreampop, lo-fi  space, dan drone-rock.

Awalnya aku suka sama genre indie folk/rock kemudian lanjut post-rock, shoegaze, ambient, pokoknya musik dreamy gitu. Soalnya aku suka musik yang syahdu dan cocok dibuat ngelamun (tertawa). Kalo referensiku Now Now Every Children, Hammock, Lights and Motion, Sigur Ros, Slowdive, The Middle East, dan banyak lainnya.

Patrice: Kami menamainya artpop, yaitu penggabungan antara pop-folk-experimental. Tercipta musik yang demikian karena personil yang banyak dan musik yang kami nikmati masing-masing berbeda. Ada yang pop, emo, folk, hardcore, post-rock, dll. Nah, kebayang kan gimana ribetnya menyatukan semua itu? Tapi ternyata artpop-lah yang membuat kami satu. Dan sebenarnya memang ini yang pribadi aku senangi dari dulu.

Tiara:  Young Savages itu bisa dibilang jenis musiknya indie-rock. Young Savages sendiri sudah kebentuk dari tahun 2012, tapi aku baru gabung tahun 2014. Itupun awalnya additional player, terus berjalannya waktu jadi personil tetap deh (tertawa). Awalnya sih aku punya referensi musik yang agak beda sama anak-anak Young Savages. Tapi sejak gabung Young Savages aku jadi mulai kenal sama band referensi anak-anak seperti: Cage the Elephant, the Wombats.

Sabiella:  Closure itu bisa dibilang pengusung musik post punk revival. Awal mula terbentuknya karena ngejam-ngejam biasa. Basic-nya karena satu band ini udah temenan dari SMA sering ngopi bareng dan kebetulan akhir-akhir ini waktu kumpul kita sering dengerin musik post-punk seperti Motorama, Human Tetris, Diiv, dan lainnya. Akhirnya Afif (gitaris) mulai ada ide buat band. Waktu dicoba bikin-bikin lagu ternyata malah ke post-punk. Akhirnya terbentuklah Closure. Tiap personilnya pun sebenarnya sudah punya band masing-masing daengan jenis musik yang berbeda-beda. Aku di bandku satunya jenis musiknya stoner doom, dan lainya ada yang hardcore, metal, dan emo.

 

Di kota Malang sendiri tidak banyak perempuan yang berani mengambil keputusan untuk bermain musik dan bergabung dengan band seperti kalian. Bagaimana awal cerita kalian memutuskan untuk bergabung/membentuk sebuah band? Atau ada yang mempengaruhi kalian?

Anggi: Gak ada pengaruh dari mana dan dari siapa, tapi dari SD emang suka band-band  britpop, punk, new wave gituu.. Tapi emang gak ada keinginan bikin band sih. Dulu ngeband pas SD juga bawain lagunya Laluna (tertawa). Terus baru deh diajakin Dandy bikin project yang niat iseng ini, eh jadinya keasikan. Terus dengan sekarang punya band sendiri jadi lebih seru buat ngulik musik yang dulu pernah di dengerin (tertawa).

Dewi: Memang dari SMP suka sama musik underground. Terus waktu SMA kelas 10 diajak sama temenku bikin band dengan genre Hardcore. Waktu kelas 12 akhir bikin band lagi yaitu Ravage. Dan gak ada pengaruh dari siapa-siapa sih.

Kiki: Gak ada yang mempengaruhi juga. Aku mulai suka musik dan coba-coba vokal itu sejak SMA. Menurutku musik itu emosi dan komunikasi semacam metafora, yang gak secara langsung bisa disampaikan ke orang-orang. Dan pada akhirnya aku gabung Intenna sebagai vokalis, karena aku suka banget genrenya. Selain itu di Intenna, aku jadi bisa berekspresi dengan banyak orang yang notabenya aku sendiri orangnya pendiem,. Susah juga jadi aku (tertawa).

Patrice: Dari kecil sudah peka terhadap musik dan dicekoki musik oleh keluarga sih. Bergabung di band juga sudah sejak SD (mainnya di gereja). Dulu ngerasanya seru dan menantang aja karena harus mengontrol diri bersama beberapa kepala dengan alat musik yang berbeda agar orang enak mendengarnya. Jadi waktu diajak membentuk Folkapolka, ya kenapa tidak?

Tiara: Aku pribadi awalnya sempet ragu buat gabung Young Savages. Karena mikirnya aku gak sebagus itu buat gabung band, tapi setelah berpikir panjang yaudahlah coba aja. Dan memang dari kecil suka bermain musik jadi yaudah jalanin aja dan sampe sekarang seperti seneng aja kalau bermain musik. Apalagi bisa menyajikan musik baru ke orang-orang.

Sabiella: Aku ngeband dari SMP. Awalnya karena kakakku cowok ngeband akhirnya sering nonton dia latian. Terus tiba-tiba iseng aja pingin coba-coba. Kebetulan temenku SMP ngajakin aku ngeband dan akhirnya ketagihan ngeband sampe sekarang (tertawa).

 

Selain ngeband, apa kegiatan kalian di luar bermusik?

Anggi: Selain ngeband, aku kerja di salah satu Bank di Surabaya jadi baru bisa ngeband-nya pas weekend aja, hiks. Weekday kantoran, weekend band-band an (tertawa).

Dewi: Selain ngeband kegiatanku cuma kuliah, hangout sama temen-temen, kadang juga jamming bareng anak-anak. Sama kadang juga latihan wayang orang sama tari tradisional gitu kalau mau ada pentas.

Kiki: Untuk saat ini fokus ngebut nulis tugas akhir sama menjabat kepengurusan di UKM kampusku.

Patrice: Sedang mengelola sebuah majalah cetak tentang seni dan lifestyle dengan teman-teman. Jadi sibuk kesana kemari untuk belajar dan berinteraksi dengan banyak orang. Juga sibuk mencuri-curi waktu untuk bisa bepergian jauh untuk berkenalan dengan angin di sana.

Tiara: Karena baru lulus kuliah, sekarang aku masih jadi job seeker yang teladan aja (tertawa). Tapi kadang aku dipercaya jadi talent untuk video.

Sabiella: Aku selain ngeband lagi ngurus rencana mau bikin kafe. Sama ada projek solo iseng (tertawa).

 

Bicara soal pengalaman, semua orang pasti memiliki pengalaman menarik saat pertama kali melakukan sesuatu. Bagaimana dengan pengalaman kalian saat pertama kali beraksi di atas panggung bersama sebuah band? Ceritakan bagaimana perasaan kalian pada saat itu?

Anggi: Pertama kali main live itu pas acara valentine di Reka Records tahun 2015. Dan itu Much masih main akustik, belum dibantu Mas Vino, Risang, sama Pandu. Grogi banget karena itu pertama kali nyanyi di depan umum. Tapi buat tampil pertama kali full band, Much main di closing party-nya Reka Records, seru sih udah mulai nyaman main di tempat rame, meskipun sampai sekarang masih grogi (tertawa). Waktu itu karena jujur aku lebih nyaman kalo Much main dengan format full band.

Dewi: Pertama kali main perasaanya campur aduk banget. Canggung, grogi gak karuan (tertawa). Soalnya seringnya main di acara yang mayoritas cowok. Tapi lama-lama sudah terbiasa. Tapi kadang juga masih ngerasa grogi gitu sampai sekarang (tertawa). Satu lagi, saat dipanggung entah kenapa perut selalu mulas.

Kiki: Pertama kali manggung, pastinya gugup, gemeteran iya, suara yang harusnya pas jadi fals, lupa lirik. Kacau..

Patrice: Pertama kali manggung bareng Folkapolka tahun 2014. Jujur, waktu itu kami baru saja terbentuk dan saling membagikan lagu-lagu yang harus dibiasakan untuk didengar. Tiba-tiba ada panggilan main di sebuah kampus. Waktu itu boro-boro lagu, nama band aja belum punya. Maka karena acara itulah kami buru-buru membuat nama dan nama Folkapolka terpilih karena lucu aja diucapkan.

Awalnya kami cuma kover lagu-lagu dari band seperti Of Monster and Men, She and Him, dan band yang sejenisnya. Grogi banget yang jelas dan sebelum naik panggung kebelet buang air kecil tapi gak sempat lagi untuk (maaf) pipis. Dan ini masih selalu aku alami sampai sekarang (tertawa).

Tiara: Pertama kali main bareng Young Savages itu di sebuah acara salah satu kampus di Malang. Dulu grogi banget, karena walaupun beberapa kali perform on stage tapi baru kali itu sambil main keyboard. Waktu itu takut banget jarinya bakal kepeleset atau salah pencet not (tertawa). Nah terus aku inget kita dulu udah siap buat bawain tiga lagu, eh tapi karena acara ngaret (molor) akhirnya kita di-cut jadi bawain dua lagu aja. Alhasil kita semua pada bete (tertawa).

Sabiella: Pertama kali main itu waktu aku SMP, dan itu bener-bener yang baru latian beberapa kali buat main di festival band. Karena groginya, aku terpleset kabel gitu pokoknya.

 

Dari sekian penampilan di atas panggung/acara, adakah acara yang paling membuat kalian excited? mengapa?

Anggi: Paling excited itu waktu pertama kali main di Jakarta acara We Hum Collective, itu pertama kali Much main di luar kota dan bareng band-band keren lainnya seperti Barefood dan Saturday Night Karaoke. Sempet grogi dan fals (tertawa). Tapi seneng karena antusias temen-temen di sana luar biasa banget, bahkan yang aku kira gak tau lagu kita ternyata banyak banget yang sing along (terharu).

Terus aku juga excited banget waktu acara We Are The Pigs Vol. 2 kemarin. Soalnya tribute to band-band UK dan kita bawain The Smiths. Klimaks-nya waktu Ardhi, vokalis dari Bangkit Melawan, ngerebut mic dan nyanyi “There’s A Light That Never Goes Out”. Kemudian penonton pada heboh semua.

Dewi: Menurut aku semua acara selalu bikin excited. Karena setiap acara berbeda-beda euforia-nya. Jadi di setiap gigs itu pasti banyak yang bikin unik dan menarik dari gigs itu sendiri.

Kiki: Aku pribadi belum (tertawa). Karena belum banyak jam terbang. Aku aja benar-benar aktif dan niat bermusiknya baru kali ini (tertawa).

Patrice: Semua bikin excited dong, apalagi kalau main ke luar kota. Seru ribet-ribetnya harus prepare bangun subuh, bangunin yang lain, lalu berangkat rame-rame. Dari berangkat sampai pulang bareng-bareng terus. Ah iya, lebih excited lagi kalau main di acara camping gitu. Dulu sempet, tapi batal main karena acaranya molor 5 jam,  tapi kami tetep ikut camping. Seru bareng-bareng satu tenda, kedinginan bareng (tertawa). Pokoknya aku yang paling excited kalau manggungnya harus menempuh perjalanan lama dan menghabiskan waktu lebih lama dengan mereka.

Tiara: Kalo aku semua acara selalu buat excited sih, soalnya pada dasarnya perform on stage itu memang exciting.

Sabiella: Sempat sih dulu di suatu acara. Jadi itu sebenernya manggung unprepared banget dan kita baru latian sekali. Tapi karena penontonya asik, jadi kita jadi bawaannya enjoy banget.

 

Sebelum memutuskan untuk bergabung/membentuk sebuah band, pasti kalian pernah memiliki tanggapan pribadi kepada ‘anak-anak band’. Kalo boleh tau, sebelum menjadi pelaku bagaimana pandangan kalian kepada mereka?

Anggi: Dari SD emang suka band-bandan, tapi cuman sebatas sebagai penikmat. Tanggapannya, anak band keren-keren sih. Bahasa lainnya ‘raiso nyandang mek iso nyawang’ (tertawa)

Dewi: Pandangannya waktu dulu, anak-anak band itu ya kece banget pastinya dan karyanya bagus-bagus. Ya begitu, keren pol pokoknya. Ada sesuatu yang berbeda dari anak-anak lainnya (tertawa).

Kiki: Yaa keren, suka dan kagum aja. Mereka bisa menciptakan karya, bisa menuang emosi di dalam musiknya. Bener kata Mbak anggi ‘mung isa nyawang’.

Patrice: Kalau pelaku, mereka adalah orang-orang yang bebas, keren, dan suka pulang pagi (tertawa). Kalau penikmat, gimana ya, semua orang kan juga penikmat. Bingung jawabnya.

Tiara: Dulu dimata aku anak band keren (tertawa). Ya iyalah keren kan mereka pengetahuan musiknya pasti luas, terus jago main musik. Kayak keren gitu lah. Dan berlaku buat orang-orang yang walaupun bukan anak band tapi pecinta musik. Kayak urgh keren pol (tertawa).

Sabiella: Aku suka diajak liat acara musik mulai kecil jadi kalo liat pemain band itu pandanganya keren gitu mereka berkarya. Malah jadi inspirasi (tertawa).

 

Ketika beraktifitas bersama band, lingkaran kalian pasti lebih banyak didominasi oleh para lelaki. Selama ini bagaimana kesan dan pengalaman kalian selama berada di dunia yang lebih banyak didominasi oleh lelaki?

Anggi: Awalnya juga jaim sih, trus akhirnya keliatan aslinya. Mereka juga lucu dan juga lebih ngelindungin. selalu support kalo misalnya aku lagi minder pas manggung, juga kalo curhat dan rasan-rasan juga seru (tertawa).

Dewi: Kesannya ya kalau lagi maen di luar kota atau di kota sendiri pasti dijagain mau apa ini itu dianterin. Terus kalau ada yang lagi moshing ya disuruh minggir dulu. Ya seru sekali berteman dengan banyak teman laki. Cerita ini itu gak akan ada habisnya (tertawa). Gokil pokoknya!.  Nggak kalah sama anak cewek. Ya intinya mereka selalu ngejagain aku.

Kiki: Awalnya sih malu-malu tapi aku-nya cuek. Lama-lama ya asik aja sih, apalagi aku seneng sama genre yang dibawain, aku bisa belajar banyak ilmu juga dari mereka. Bisa ngerti saya juga sebagai vokalis.

Tiara: Lah aku sendiri di band gak dianggap cewek sama anak-anak Young Savages (tertawa). Tapi ya kalo di luar gitu sempet ngerasa kayak aku gak cocok di lingkungan penuh cowok ini dan takut juga. Tapi lama-kelamaan mah cueeekkk!!

Sabiella: Temen-temenku dari kecil cowok. Jarang punya temen cewek. Jadi ya santai aja udah kebiasa juga.

 

 

Ada tanggapan yang mengatakan jika personil perempuan dalam sebuah band hanya untuk menjadi daya tarik dari sebuah band itu sendiri, bagaimana menurut pendapat kalian?

Anggi: Aku kurang setuju sih kalo personil perempuan Cuma dianggap sebagai pemanis atau daya tarik dari sebuah band. Dan pernah ada di salah satu gigs, MC-nya bilang “oh sekarang musimnya band ada cewe nya semua ya“, agak sebel sih dengernya. Emangnya kita gak boleh berkarya juga ya..? sepertinya masih banyak yang perlu disadarkan bahwa cewe juga bisa dan mampu memiliki peranan di lingkungan apapun dan manapun.

Dewi: Tidak juga, karena dalam sebuah band itu semua yang ada didalamnya ikut berkontribusi dalam berkarya. Tanpa memandang gender itu sendiri.

Kiki: Ah enggak! Justru keunikan para perempuan adalah jika dia di atas panggung dengan melakukan hal-hal yang tak bisa di lakukan oleh grup band pria.

Patrice: Menjadi daya tarik, mungkin itu pendapat kebanyakan orang-orang sebagai “penikmat”. Tapi mereka harus tau juga bahwa sebenarnya peran perempuan dalam sebuah band bukan itu. Bener kata teman-teman di atas tentang hak yang sama.

Tiara: Aku rasa untuk mengkotak-kotakkan sebuah lingkungan dengan sebuah gender itu kuno ya. Maksudku, memang banyak yg bilang band-band-an itu ranah cowok dan buat apa ada cewek. Tapi itu sama aja meng-underestimate kemampuan cewek. Gak mungkin dong seorang cewek diajak join ke sebuah band kalo dia gak ada kemampuan. Ya ngapain jadi daya tarik aja kalau pas main jelek. Kan malah bikin jelek nama band-nya dong. Jadi rasanya udah mulai saatnya orang-orang menerima ide kalo band-band an itu ranah bagi semua orang entah itu cewek ataupun cowok. Toh banyak juga cowok-cowok yang berkecimpung di so-called-women-field? Terus kenapa cewe gak bisa?

Sabiella: Kurang setuju sih sama pendapat itu. Karena kalo menurutku berkarya/bermusik itu gak memandang gender. Kalo masalah daya tarik itu bonus aja buat band itu sendiri.

 

Apakah kalian pernah mengalami  hal-hal yang kurang menyenangkan pada saat manggung? Contohnya? Jika ada, bagaimana kalian mengatasinya?

Anggi: Sejauh ini Alhamdulillah gak ada. Cuma kadang bermasalah kalo misalnya belum kelar udh di-cut waktunya atau suka kurang puas mainnya jadi agak “gelo” tapi yaudah sih.

Dewi: Hal hal yang kurang menyenangkan itu, pertama alatnya yang gak enak. Terus, Kalo lagi main ada yang bikin ribut gitu paling gak suka. Apalagi kalo belum waktunya selesai main, tiba-tiba disuruh berhenti. Itu aja sih.

Kiki: Alhamdulillah gak ada dan jangan lah (tertawa). Kalaupun ada ya cuek aja sih ya, dibahas baik-baik aja.

Tiara: Pernah sih kayak digodain gitu dan MC-nya memang jadikan aku bahan guyonan dan aku sebel aja gitu (tertawa). Mengatasinya ya cuekin aja, senyumin aja, bodo amat lah pokoknya muka tembok aja.

Sabiella: Ada sih. Waktu itu band-ku main disalah satu acara di mana bandku itu genrenya beda sendiri dari ban-band lain. Dan penontonya sayangnya kurang antusias dan parahnya justru malah ngejek. Tapi itu tantangan buat membangun mental. Jadi yaudah gak perlu aku masukin hati.

 

Apakah pihak keluarga mengetahui kegiatan kalian ini (ngeband)? Jika iya, apa tanggapan mereka?

Anggi: Gak ada kecuali saudara, kalo Bapak Ibu tau pasti diomelin (tertawa). Jadi jangan kasih tau ya ssstttt!!

Dewi: Sebenarnya waktu dulu bikin band masih sembunyi-sembunyi, keluarga gak tahu kalo bandnya alirannya undergroud. Dikira band-band pop biasa. Tapi lama kelamaan Bapak sama Ibu tau. Akhirnya waktu mau manggung seringkali dulu dimarahi, soalnya mereka bilang gak guna katanya hiks. Karena alasan lainnya yaitu Bapakku adalah dalang, jadinya sukanya musik jawa.

Pernah dulu memori handphone di format gara-gara isi lagunya musik keras semua (tertawa). Tapi lama-kelamaan keluarga akhirnya mendukung sih, setelah aku jelasin semua.

Kiki: Masih belum, tapi keluarga sendiri udah tau juga kalo aku suka musik sama nyanyi. Yang tau masih saudara akrab.

Patrice: Tau semua sih. Intinya mereka support, tapi akademik tetap number one (tertawa).

Tiara: Keluarga tau kalo aku ngeband. Awalnya gak setuju sih tapi karena aku suka yaudah dibolehin asal peraturannya jangan sampe malem-malem atau main di luar kota.

Sabiella: Iya keluarga tau. Mereka dukung sejauh ini.

 

Pacar tau kan klo kalian ngeband? gimana tanggapannya? 

Beberapa dari kalian kan punya pasangan yang aktif bermusik juga. Apa sih serunya pacaran sama anak band?

Anggi: Pacar taulah kalo aku ngeband.. kan ngebandnya sama dia (tertawa).

Serunya pacaran sama anak band. Bisa saling bertukar referensi musik, jadi pengetahuan musiknya makin banyak (tertawa). Terus juga bisa nonton gigs bareng.  Kadang kalo abis nonton gitu suka bikin review-review sendiri jadi makin banyak ilmunya.

Dewi: Iya pacar tau, kebetulan pacar juga anak band. Jadinya ya kita sama-sama sharing juga gitu. Seru juga jadi banyak tahu tentang musik dan band-band yang keren lainnya.

Kiki: Pacar ya ngedukung banget, dia nya anak band juga.

Serunya, genre musik yg kami sukai sama. Jadi bisa saling sharing, sering dengerin lagu bareng. Dia suka ikut kalo aku lagi latian, aku juga suka nemenin kalo dia lagi perform. Karyanya dia juga keren keren. Hihi jadi malu aku.

Patrice: Tau dan gak ada masalah sih, malah support banget. Apalagi selera musik dan pandangan hidup kami juga sama. Dia gak nge-band sih, tapi aku belajar banyak dari dia karena pengetahuan tentang musiknya jauh lebih banyak. Dia juga secara gak sadar jadi stylish pribadi aku, jadi bikin aku lebih pede berpenampilan.

Tiara: Tau dan dia mendukung kok Alhamdulillah (tertawa).  Malah hampir selalu ditemenin kalau lagi manggung.

Serunya karena dia juga menjalanin dunia yang aku jalanin, jadi dia kalau aku curhatin soal masalah band-band an dia bakal ngerti. Selain itu karena dia lebih berpengalaman jadi dia suka kasih kritik dan saran kalo aku main. Dia juga sering aku mintain buat menilai penampilan aku gimana, nanti dia bilang kurangnya dimana. Gitu-gitu enak khan!

Sabiella: Pacarku tau kalo ngeband dia dukung banget. Dulu pas dia masih seumuranku juga ngeband tapi sekarang udah enggak. Tapi masih ngikutin musik. Jadi kita sering sharing gitu. Dia juga dukung banget.

 

Keterlibatan dalam ranah musik kan bisa dengan berbagai cara dan gak hanya dengan bermain musik, apakah kalian juga punya kegiatan selain bermain musik yang masih bersinggungan dengan ranah musik? Kalo ada kegiatan apa?

Anggi: Gak ada sih, Cuma ngeband aja.

Dewi: Kalau aku gak ada sih.

Kiki: aku ikut organisasi UKM musik di kampus.

Tiara: Kalo aku tidak ada, yang bersinggungan dengan ranah musik ya cuman ngeband aja.

Sabiella: Kalo aku sejauh ini belum ada kegiatan yang bersinggungan . Tapi lagi pingin belajar jadi soundman (tertawa).

 

Apakah ada beberapa teman perempuan yang juga berkontribusi dalam dunia musik tapi dengan cara lain selain bermusik? Jika ada, siapa dan seperti apa kontribusinya?

Anggi: Gak ada sih kayaknya kalo deket, selama ini cuman sebatas kenal seperti Mbak Uli owner dari Reka Records dan Novita dari media The Display. Kalo dari Surabaya ada namanya Mbak Tinta, dia yang memprakarsai kolektif Rumah Gemah Rimpah.

Dewi: Kalau teman cowok banyak, ada yang fotografer panggung, terus ada juga yang bikin zine dan label. Tapi memang kebanyakan cowok. Kalau teman cewek masih belum ada.

Kiki: Temen cewek belum ada.

Tiara: Mbak Titi, dia manajer Christabel Annora.

Sabiella: Belum ada sih

 

Berbicara mengenai band, siapa band favorit kalian di kota Malang? Alasannya?

Anggi: Wah bingung ini kalo disuruh milih, karena band Malang sekarang genre-nya berkembang banget dan banyak yg enak. Tapi kalo favorit sih Beeswax, Dizzyhead juga oke, sama Young Savages juga lagu barunya enak bangeeet nempel tadi abis dengerin. Write The Future juga enak sih, pop punk yang beda dari Malang (ini serius lho bukan karena disuruh Dandy), apalagi album baru mereka kentara banget bedanya.

Dewi: Wah kalau pertanyaan ini susah dijawab (tertawa). Aku suka semua band-band di malang!

Kiki: Intenna, dulu sebelum gabung dan baru tau Intenna aku udah suka banget sama musik mereka. Shogaze, noise, dreamy, pokoknya enak. (i) postrock juga suka, musiknya cool dan enak-enak aku suka. My Beautiful life juga lagunya enak-enak.

Tiara: Band favorit aku di Malang tak lain dan tak bukan adalah MUCH (tertawa). Serius aku suka sekali musik MUCH. Enak pol di telingaku konsepnya lucu. Dizzyhead juga enak. The breakfast club juga mantap. Write The Future juga, udah cek album barunya belum? Enak loh.

Sabiella: Write The Future, Dizzyhead, MUCH, dan Beeswax.  I adore them so much.

 

Menurut pendapat kalian bagaimana iklim musik di kota Malang saat ini? Adakah pesan yang ingin kalian sampaikan?

Anggi: Iklim musik di Malang saat ini kalo aku bilang udah bagus banget, genre-nya berkembang pesat dan gak itu-itu aja, jadi banyak banget variasi. Dan support musik lokal gak cuma dari temen-temen aja, tapi juga media cetak maupun digital turut mendukung perkembangan musik di Malang sehingga makin di kenal dan gak kalah dengan musik dari kota lain.

Pesan aku sih semoga band-band di Malang makin banyak dan berkembang terus. Malang juga makin disorot karena band-bandnya keren.

Dewi: Iklim musik di Malang tentunya semakin maju dan berkembang pesat. Banyak band-band yang lahir dengan genre musik yang beragam dan tentunya makin asik. Pesannya, ya semoga band-band yang sudah dulu ada juga terus eksis dan semakin meramaikan perkembangan Musik di kota Malang khususnya.

Kiki: Sebenenya aku bingung mau jawab apa. Musim  DJ-an kali yaa (tertawa). Ya banyak sih band-band Malang yang berkualitas, penikmat musik kota Malang juga gak sedikit yang mau mengapresiasi karya-karya band lokal, antusiasnya boleh dibilang cukup tinggi. Pesanku, selalu dukung band lokal dan terus berkarya.

Tiara: Menurutku iklim musik malang semakin asik nih, semakin banyak band-band baru dengan genre musik yang beragam jadi makin bervariasi. Dan masyarakat Malang sekarang lebih aware dengan musik lokalnya dan mengapresiasi musisi lokal. Semoga musisi malang semakin maju.

Sabiella: Keren banget sekarang udah banyak muncul genre-genre baru di Malang dan semakin banyak karya-karya dari Malang yang mulai dilirik. Semoga terus berkembang dan saling support satu sama lain.

 

Adakah pesan-pesan dari kalian untuk para perempuan di kota Malang yang ingin berkecimpung ke dunia musik tapi masih ragu atau takut?

Anggi: Pesan ku untuk teman-teman lainnya yang ingin berkecimpung di dunia musik, jangan takut buat nyoba sesuatu yang baru dan lakukan apapun yang kalian suka mumpung masih muda, asal positif dan membuat diri kalian berkembang menjadi lebih baik, kenapa engga? Buat cewe cewek lainnya juga jangan takut sih buat berkarya dan memberikan kontribusi di ranah musik, semangat!!!

Dewi: buat para cewek ayo tunjukkan skill kalian. Tunjukkan bahwa kalian bisa dan mampu untuk berkarya dan berkontribusi di dunia musik. Dont be shy, be brave.

Kiki: Gak usah ragu atau takut, yang penting yakin. Alon-alon asal kelakon. Kebanyakan mungkin minder sih yaa, alangkah baiknya minder itu dihilangkan dan diganti dengan ambisi untuk berkarya.

Tiara: Pesanku buat teman-teman yang ingin berkecimpung di dunia musik, go for it! Mumpung masih muda, masih fresh ayo coba salurkan deh energinya ke hal positif. Dunia musik gak menyeramkan kok.

 

Rekomendasikan beberapa lagu atau album yang belakangan ini sering kalian dengarkan!

Anggi: Belakangan lagi dengerin: Declan Mckenna – Brazil, Barefood – Milkbox, Balance and Composure yang album Light We Made, Candy Hearts – She’s So Cool, Mitski – Your Best American Girl.

Dewi: Aku akhir-akhir ini lagi sering dengerin albumnya dari Departures – Death Touches Us, From The Momment We Begin To Love, Basement – Promise Everything, Turnover – Pheriperal Vision, sama Code Orange lagunya yang Forever, sama Vaultry album Eulog.

Kiki: Playlistku akhir-akhir ini antara lain Sinking Inside Yourself – Hammock, Lucie, Too – Now Now, Karma Police – Radiohead, Biggy – Warpaint, Blonde Redhead – Here Sometimes, Amber Run – 5am, The Middle East – Blood, Slowdive – Dagger.

Tiara: Aku lagi sering dengerin Paper dari My Life as Ali Thomas, Woodland dari The Paperkites, Romantic Comedy dari Big Troubles dan Why dari Taeyeon (yah ketauan deh anak k-pop juga gpp yah) (tertawa).

Sabiella: Aku lagi dengerin Pete and Pirates yang Mr. Understanding. sama lagi sering dengerin Motorama. Tapi 40 Watt Sun juga sih tergantung suasana (tertawa).

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s