Menelusuri Abandon, Proyek Serial Video Musik Duo Elektronik Bernama Filastine

Filastine merupakan duo yang terdiri dari composer/director Grey Filastine dan vocalist/designer Nova Ruth. Sebelum membentuk Filastine pada tahun 2006, Grey sempat menjadi bagian dari unit musik politis berformat marching band bernama Infernal Noise Brigade. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merekam beragam jenis soundscapes dan mempelajari musik khas di berbagai belahan dunia.

Dalam perjalanannya ke Indonesia pada tahun 2010, Grey Filastine bertemu Nova Ruth yang pernah aktif bersama Twin Sista, kelompok hip-hop asal kota Malang. Sejak pertemuan itu, mereka berdua memutuskan untuk bekerjasama dan berkolaborasi memproduksi musik baru di bawah nama Filastine. Nova Ruth ikut memperkaya musik Filastine lewat latar belakangnya yang tumbuh bersama musik hip-hop, melantunkan lagu-lagu rohani di gereja, membaca ayat-ayat suci Al-Quran, serta memainkan alat musik gamelan Jawa.

Komposisi musik Filastine memadukan irama elektronik yang kontemporer dengan bebunyian yang organik lewat berbagai instrumen perkusi dan akustik. Mereka mengibaratkan musiknya sebagai bunyi bass and drum dari masa depan – di mana dunia telah hancur dan teritorial sonik yang digubah. Dalam beberapa komposisi, mereka juga banyak memasukkan unsur-unsur melodi khas Asia dan Timur Tengah untuk menegaskan konsep musik urban yang diusung Filastine.

 

Abandon, Proyek Serial Video Musik Filastine

Abandon merupakan proyek serial video musik dari Filastine yang mengambil satu tema utama yaitu tarian pembebasan dari kelas pekerja atau buruh yang tertindas (dances of liberation from degrading work). Proyek serial Abandon berisi empat video dimana setiap video  menggambarkan tarian katarsis yang unik, yang direkam dari beberapa lokasi, sebagai metafora dan simbol protes atas kehidupan profesi yang kerap menihilkan rasa kemanusiaan.

Proyek serial Abandon ibarat kolaborasi seni musik, video, dan film dokumenter yang mengeksplorasi bagaimana manusia rela menjual waktunya di bumi. Di setiap serinya, menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik – mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol.

Proyek serial Abandon berisi empat video musik yang dirilis secara bertahap sepanjang tahun 2016 hingga awal Maret 2017 melalui kanal Youtube milik Filastine. Episode perdana dari proyek serial Abandon diperkenalkan pertama kalinya pada 29 Maret 2016 dengan meluncurkan video musik bertajuk “The Miner”. Kemudian dua bulan setelahya, Filastine  meluncurkan single “The Cleaner” yang dikemas dalam video musik pada tanggal  26 Mei 2016 sebagai lanjutan episode kedua dari proyek serial Abandon. Lima bulan setelahnya tepatnya pada tanggal 10 Oktober 2016, episode ketiga berjudul “The Salarymen”  diluncurkan. Dan kemudian puncaknya di awal bulan Maret 2017, Filastine meluncurkan episode keempat berjudul “Lost Chatarreros” dimana video klip ini juga merupakan episode terakhir dari proyek serial Abandon.

 

Episode Proyek Serial Abandon

 

The Miner

filastine-the-miner

“The Miner” merupakan episode perdana dari proyek serial Abandon yang pertama kali diluncurkan ke publik pada 29 Maret 2016. Melalui episode perdananya ini, Filastine menceritakan kegelisahan dari seorang pekerja tambang. Karakter dalam video ini digambarkan perannya sebagai seorang pekerja tambang belerang yang dioperasikan secara tradisional – yang bekerja keras tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan. Sampai kemudian ia dilahirkan kembali dan terperangkap dalam pekerjaan di tambang batubara yang berskala masif di bawah kendali korporat multi-nasional. Pada akhirnya, ia menolak untuk merusak dirinya, lingkungan dan juga bumi yang kita tinggali.

Dalam proses penggarapan video yang dilakukan di Borneo ini, Filastine dan timnya terpaksa harus merekamnya secara diam-diam dan tanpa ijin. Mereka berhasil memasuki kawasan tambang setelah menyamar sebagai pekerja tambang yang memakai seragam resmi. Ketika merekam adegan tari di landasan helikopter, mereka bahkan sempat ditangkap dan diinterogasi oleh aparat setempat.

Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan eksportir batubara terbesar di dunia, dan hampir semuanya itu dikeruk dari tanah Borneo di pulau Kalimantan. Tentu saja tidak semua orang bisa mendapatkan akses masuk dan mendokumentasikan kegiatan tambang di kawasan tersebut.

Untuk proses pengerjaan video musik “The Miner”, Filastine menggandeng seorang sinematografer asal Malang, Astu Prasidya, dan penari jalanan asal Jakarta, Al Imran Karim. Mereka merekam video tersebut di dua lokasi, yaitu tambang belerang tradisional di Kawah Ijen, Jawa Timur, serta sebuah tambang batubara di Samarinda, Kalimantan.

 

The Cleaner

filastine_thecleaner_1

“The Cleaner” merupakan episode kedua dari proyek serial Abandon yang diluncurkan dua bulan setelah diluncurkannya “The Miner”, tepatnya pada bulan 26 Mei 2016. Kini melalui video musik “The Cleaner” Filastine menggambarkan kegelisahan seorang perempuan muda yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di sebuah toilet umum. Dalam video tersebut, diperlihatkan gejolak batin dan tubuhnya yang mulai memberontak melawan ruang sempit yang kotor dan bau. Hingga pada puncaknya, perempuan itu membuang segala peralatan kerjanya dan mulai menari sebagai simbol kebebasan.

Dalam proses pengerjaan video “The Cleaner”, Filastine nekat mengunci dirinya selama satu hari penuh di sebuah gym di tengah kota Lisbon (Portugal) bersama penari berdarah campuran Portugis dan Angola, Piny Orchidaceae, yang menjadi model di video tersebut.

Jika dalam penggarapan video “The Miner” mereka musti mencari lokasi yang sulit dan terpencil demi kesesuaian tema, maka tidak demikian dengan “The Cleaner”. Mereka hanya butuh menemukan spot terbaik di lingkungan sekitar, menurut Filastine. Sebab yang namanya buruh atau pekerja domestik pasti selalu ada di mana-mana.

Musik yang dimainkan Filastine dalam “The Cleaner” adalah perpaduan antipodean future bass dengan irama trap & Baltimore club, seperti yang pernah dipopulerkan oleh Major Lazer atau Flying Lotus. Filastine juga menyelipkan aneka melodi dan bebunyian yang bersumber dari rekaman audio selama perjalanan mereka di Afrika Selatan hingga Asia Selatan.

“Dalam masyarakat global, buruh domestik biasanya bergender perempuan dan jarang yang berkulit putih,” tulis Filastine. “Mereka itu yang kerap terpaksa bekerja karena tuntutan ekonomi keluarga, dengan upah minim dan jarang dihargai sebagaimana layaknya manusia.”

 

 

The Salarymen

filastinesalarymen2

Lima bulan setelah diluncurkan “The Cleaner”, episode ketiga dari lanjutan proyek serial Abandon berjudul “The Salarymen” akhirnya resmi dirilis pada tanggal 10 Oktober 2016. “The Salarymen” menggambarkan suasana pagi di sebuah kantor startup pada awal era digital, sekitar tahun 1996. Di antara dinding kantor yang penuh dengan kalimat motivasi, tekanan tenggat waktu serta iming-iming kesuksesan, para karyawan bekerja dengan wajah frustasi dan menjadi budak bagi atasannya di ruang kubikal yang sempit.

Grey menjelaskan makna visual dari video “The Salarymen”  yang di dalamnya menampilkan tiga orang karyawan sedang ‘terjebak’ dengan kesibukan kegiatan perkantoran dengan menggunakan berbagai perangkat-perangkat kantor seperti pada umumnya. Kemudian pada setengah durasi terakhir video tersebut, ketiga karyawan itu kemudian diperlihatkan mulai bertindak liar tak terkendali dan merusak semua properti kantor di sekeliling mereka.

Setiap adegan dalam video tersebut juga ditata sesuai dengan setting kantor modern pada umumnya. Filastine sengaja memajang beberapa komputer usang, mesin fotokopi, kertas memo tempel (post-it notes), serta beragam poster motivasi demi membangun ruang yang sempurna bagi kekosongan spiritual di benak setiap karyawan kantor.

“Layar komputer tabung itu memancarkan efek dan gambar yang menghipnotis para pekerja. Itu kemudian yang memicu kejang dan perlawanan dari dalam tubuh mereka, setelah bosan berkutat dengan mesin, ketiga karyawan itu mulai mencari sesuatu yang alami dan mengeluarkan naluri hewani yang ada di dalam diri mereka” ujar Grey mengenai makna “The Salarymen”.

Dalam proses produksi video “The Salarymen”, Filastine menggaet tiga penari butoh dari kolektif P.A.N asal Seattle (Amerika Serikat) – yaitu Alan Sutherland, DK Pan dan Douglas Ridings. Butoh merupakan seni tari dan performing-art yang lahir di Jepang, kemudian berkembang ke seluruh dunia termasuk di Amerika Serikat.

Musik “The Salarymen” sendiri didominasi oleh bunyi-bunyian elektronik yang kuno dan tekstur lo-fi dari perangkat synthesizer klasik. “Kami menggunakan peralatan musik yang sama seperti yang dimainkan Kraftwerk dalam lagu-lagu cinta teutonik mereka tentang robot,” jelas Grey memaparkan konsep musiknya. “Lalu kami membelokkan beberapa nada untuk mendapatkan efek yang sebaliknya. Di situ juga ada bunyi synths yang diselaraskan dengan dengung mekanis, serta nada perkusi dari bunyi klik mouse komputer dan tombol qwerty.”

 

Los Chatarreros

chatarrerosframegroupsolar-dok-filastine

Setelah berhasil merilis tiga karya audio visual  – “The Miner” (Maret 2016), “The Cleaner” (Mei 2016), dan “The Salarymen” (Oktober 2016). Pada tanggal 1 Maret 2017, Filastine meluncurkan episode keempat sekaligus menjadi episode puncak dari proyek serial Abandon, single terbaru tersebut berjudul “Los Chatarreros”.

Los Chatarerros adalah istilah bagi para pemulung besi tua yang hampir setiap malam menyisir sudut-sudut jalan di kota Barcelona, Spanyol. Dengan berbekal troli usang, mereka berjalan memburu rongsokan logam bekas, besi tua, hingga sampah-sampah perangkat keras yang teronggok di tempat umum. Kegiatan memulung tersebut kebanyakan dilakoni oleh para imigran gelap yang sebagian besar datang dari Afrika tanpa dokumen resmi.

“Orang-orang [pemulung] seperti itu sebenarnya tersebar di mana-mana, namun seperti tak terlihat mata. Kehadiran mereka juga terbilang sangat aneh untuk citra Barcelona yang sering dicap sebagai kota yang trendi dan berbudaya,” ungkap Grey Filastine yang sudah bertahun-tahun tinggal di kota Barcelona.

Video “Los Chatarreros” menyorot perjalanan seorang pemulung besi tua yang berjalan sepanjang malam dengan trolinya. Pekerjaannya itu baru berakhir di kala fajar menyingsing, ketika pria itu bergabung dengan para pemulung lainnya di sebuah kios besi tua untuk antri menjual hasil ‘panen’-nya.

Dalam proses produksi video “Los Chatarerros”, Filastine menampilkan penari utama Dougie Knight, yang dibantu oleh Celine Pimentel sebagai koreografer. Sebagai pemeran pendukung diajak juga Mamadou Barri, Christian Kabeya, Diego Solaque, dan Alan Gonzalez. Video ini dikerjakan Xavier Artigas dari Metromuster, dengan dukungan syuting udara oleh Mitra Azar.

 

Perjalanan Musik Filastine

Sejauh ini, duo musik yang berbasis di Barcelona (Spanyol) itu telah merilis tiga album penuh yaitu Burn It (2006), Dirty Bomb (2009), dan Loot (2012). Diskografi musik mereka juga merangkum beberapa EP dan vinyl yang dirilis oleh sejumlah label rekaman internasional, serta beberapa proyek kompilasi atau mixtape yang konseptual.

Salah satunya yang cukup fenomenal adalah Stage Boundary Songs / LAWANLUPA (2014), yang merupakan respon artistik Grey Filastine dan Nova Ruth terhadap film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer. Mixtape tersebut berisi sejumlah lagu karya musisi Indonesia dari berbagai jaman – mulai dari “Djangger” (Yanti Bersaudara), “Gendjer-Gendjer” (Lilis Suryani), “Tjangkurileung” (WSATCC), “Senyawa” (Rully Sabhara & Wukir), Ken Arok (Anto Baret), dan masih banyak lagi.

Pada tahun 2012, Filastine merekam video “Colony Collapse” bersama sutradara Astu Prasidya yang mengambil setting di kawasan lumpur Lapindo, Sidoarjo. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Filastine juga pernah mengkover lagu kontroversial “Gendjer-Gendjer” dalam paduan irama elektronik dan tradisional.

Hingga saat ini, Filastine telah menjalani tur yang mencapai hampir 500 pertunjukan di lima benua. Mulai dari skala festival musik seperti Sonar (Spanyol), Decibel (Amerika Serikat), Les Vieilles Charrues (Perancis), hingga ruang-ruang seni semisal di V&A Museum (Inggris), Foreign Affairs (Jerman), Erarta Museum (Rusia), serta spot-spot yang unik macam di Calais Jungle Migrant Camp (Perancis), Downtown Cairo Arts (Mesir), Hidden Agenda (Hongkong), dan masih banyak lagi lainnya.

Tidak mau terperangkap dalam produksi musikal saja, gagasan Filastine juga diaplikasikan dalam bentuk video, desain, dan tarian – sebagai media yang universal untuk mengkomunikasikan visi mereka. Pada tahun 2015, Filastine bahkan sempat memperkenalkan 4RRAY, rancangan sistem pertunjukan audio-visual yang memadukan proyektor multi-screen untuk memproduksi live-performance yang lebih bertenaga dan sinematik.

 

Filastine Di Mata Mancanegara

Situs musik yang cukup bergengsi, Pitchfork, sempat menulis tentang mereka, “Filastine creates tracks so geographically and chronologically diverse that they sound less like ‘world’ music and more like music from another world.

Spin Magazine juga menyebut musik Filastine sebagai bebunyian yang melampaui jaman, “Dystopian bass music for crumbling urban futures. the soundtrack to a rising heat humidity index.” Hal serupa juga disampaikan Prefix Magazine yang menyebut musik Filastine sebagai “The prototype of globalized urban sound.

Powerfully political and distinctly global,” tulis situs NPR Music mengenai visi bermusik Filastine. Mereka memang kerap mengambil isu global yang terjadi di dunia internasional, termasuk berbagai peristiwa kemanusiaan yang ada di Indonesia.

Filastine juga pernah tampil di salah satu stasiun radio ternama berbasis di Seattle (Amerika Serikat), KEXP.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s