Extreme Decay Kembali Terlibat Dalam Proyek Kompilasi Internasional

Ranah musik di kota Malang belakangan kian rajin menciptakan hingar bingarnya . Mulai dari geliat acaranya, hingga lahirnya pendatang baru yang menjajikan. Band-band yang telah terlebih dulu lahir juga kian memberikan teladan yang baik dengan tetap berkarya serta memanaskan arena musik di kota Malang tanpa mempedulikan usia yang sudah tidak lagi muda. Faktanya meski tidak lagi dikatakan muda mereka masih membuktikan jika usia tidak akan mengurangi betapa bahayanya mereka ketika sudah berada di arena musik.

Setelah beberapa waktu lalu unit shoegaze garda depan kota Malang bernama Intenna terlibat dalam kompilasi mancanegara bertajuk Just For A Day – A Homage To SlowdiveKini giliran unit Grindcore, Extreme Decay yang menunjukkan taji mereka dengan terlibat proyek kompilasi internasional bertajuk Tribute To Terrorizer.

 

Bersama band-band cadas kelas dunia mempersembahkan karya lagu penghormatan bagi legenda musik grindcore, Terrorizer.

Unit musik grindcore kugiran asal kota Malang, Extreme Decay, mengambil satu slot dalam proyek kompilasi internasional Tribute To Terrorizer. Extreme Decay merupakan satu-satunya band dari Indonesia yang terlibat dalam kompilasi tersebut dan bergabung bersama sejumlah band cadas kelas dunia lainnya, seperti misalnya Misery Index, Haemorrhage, Nyctophobic, hingga Plague Rages.

Kompilasi Tribute to Terrorizer sendiri merupakan proyek dari Mediaplan Group Records yang berbasis di Pleven, Bulgaria. Beberapa bulan sebelumnya, label rekaman yang dijalankan oleh Chris Hristov itu sudah membuka kesempatan bagi setiap band yang ingin terlibat proyek kompilasi yang digagasnya. Pihak label rekaman yang melakukan proses kurasi dan penilaian atas hasil demo rekaman yang masuk.

Terrorizer merupakan salah satu legenda musik grindcore yang terpenting di muka bumi. Band ini lahir di kota Los Angeles (US) sejak tahun 1986. Salah satu albumnya yang bertajuk World Downfall (Earache Records, 1989) kerap disebut-sebut sebagai album klasik yang esensial bagi kancah musik grindcore dunia. Rilisan itu selalu dianggap influential dan memiliki pengaruh sangat besar bagi pertumbuhan band-band yang memainkan jenis musik sejenis. Lagu-lagu Terrorizer seperti “Dead Shall Rise”, “Corporation Pull-In”, “Condemned System”, “Fear of Napalm”, atau “After World Obliteration” sudah pasti menjadi playlist wajib bagi setiap penggemar musik grindcore yang taat.

“Awalnya kami iseng kirim email dan menawarkan diri untuk terlibat dalam kompilasi itu. Dari situ kami dikasih beberapa syarat dan ketentuan tehnis apa saja yang dibutuhkan supaya bisa lolos seleksi,” jelas vokalis Afrl menceritakan proses keterlibatan Extreme Decay dalam proyek ini.

“Ketika itu, deadline-nya memang sudah mepet. Kalo misalnya kita bikin aransemen baru dan rekaman lagi kayaknya gak bakal terkejar sih,” tambah Afrl kemudian. “Nah, kebetulan Extreme Decay khan sudah pernah punya stok rekaman lagu Terrorizer dari materi lama kami. Rekaman lagu itu yang lalu kami mixing ulang, trus kirim ke mereka. Eh, ternyata lolos seleksi dan diterima masuk kompilasi…”

Untuk album kompilasi tersebut, Afrl dkk mengusung lagu Terrorizer yang berjudul “Condemned System”. Sebelumnya, track tersebut sempat masuk dalam materi album kedua Extreme Decay berjudul Sampah Dunia Ketiga yang pernah dirilis oleh Extreme Souls Production, tahun 2000 silam. Proses rekaman lagu itu dikerjakan oleh Afrl (vokal), Ravi (gitar), Eko (drum), dan Yuda (bass) di studio Natural, Surabaya.

Hingga proses akhir kurasi, akhirnya terpilih 18 band dari berbagai penjuru dunia yang dianggap cukup apik dalam menggubah kembali lagu-lagu milik Terrorizer. Salah satunya adalah Extreme Decay sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Album kompilasi berdurasi sekitar 40 menit itu sudah dirilis untuk pasar internasional dalam format cakram padat (CD) sejak tanggal 1 Maret 2017. Untuk pasar Indonesia, CD tersebut kabarnya juga didistribusikan oleh label Grindtoday (Jakarta) dalam jumlah terbatas.

Extreme Decay adalah unit pengusung musik grindcore yang terbentuk di kota Malang pada bulan Januari 1998. Sejak awal berdiri, mereka sudah produktif dan ngebut memproduksi berbagai karya rilisan. Dalam waktu dua tahun pertama, mereka sudah berhasil merilis tiga album studio dan dua demo rehearsal melalui berbagai label rekaman di Indonesia maupun luar negeri. Belum lagi berbagai proyek album split dan kompilasi selama hampir dua dekade eksistensi mereka. Album terakhir Extreme Decay bertajuk Holocaust Resistance yang dirilis oleh Armstretch Records pada tahun 2010 silam.

Formasi personil Extreme Decay saat ini digawangi oleh Afrl (vokal), Ravi (gitar), Ruli (gitar), dan Eko (drum). Dalam show terakhirnya, mereka juga sempat mengajak Anizar Yasmeen (eks Mutant Troopers) sebagai additional bassist. Sampai hari ini, mereka masih berdiri tegak bak mesin gerinda yang terus lantang menyuarakan isu-isu sosial politik yang relevan dengan kondisi zaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s