Whitenoir, Pendatang Baru Ranah Musik Alternatif Yang Sedang Memanas

Menarik mengikuti perkembangan musik alternatif setahun belakangan yang mulai memanasi telinga penikmat musik di kancah musik Indonesia saat ini, khususnya para remajanya. Beberapa pelaku musik di Indonesia mulai berani mencoba bereksplorasi dengan musik alternatif yang konon telah tumbuh subur di Negeri Paman Sam pada era 2000-an.

Seperti Collapse yang diprakarsai oleh Dika yang notabenya merupakan personil dari band hardcore bernama A.L.I.C.E, Barefood yang baru ini melahirkan album penuh bertajuk Milkbox dimana banyak merubah wajah musik mereka dibandingkan dengan mini album Sullen. Atau projek musik sampingan Bagas Yudhiswa dari unit emotive Beeswax dan Dandy Gilang yang notabenya adalah vokalis unit pop punk bernama Write The Future. Namun bukannya malah mengerutkan dahi, para penikmat hingga pengamat musik di Indonesia malah begitu antusias dan memberikan respons yang begitu positif untuk para pelaku ini.

Aroma musik alternatif ini beberapa pekan terakhir juga kian memanas di kota Malang dengan hadirnya pendatang baru bernama Whitenoir. Tidak jauh berbeda dengan pelaku yang telah disebutkan sebelumnya, Whitenoir yang merupakan hasil persekutuan dari beberapa personil band lintas jenis musik ini juga begitu berani melepas atribut image musik mereka sebelumnya dan mencoba bereksplorasi dengan musik alternatif yang sedang ‘panas’ saat ini.

Whitenoir beranggotakan empat anak muda yang berasal dari band lintas jenis musik, mulai dari pop-punk, emotive hardcore, hingga stoner rock. Mereka adalah Ekki (Gitar), Helmi (Gitar, Vokal), Ade (Drum), dan Alle (Bass, Vokal), yang tiba-tiba muncul dengan nama Whitenoir dan menawarkan musik alternatif yang masih bisa terbilang segar di kancah musik Indonesia.

Ekki selaku gitaris dan juga merupakan orang yang paling bertanggung jawab dibalik terbentuknya band yang lahir pada bulan November 2016 silam ini mengaku jika Whitenoir merupakan jawaban dari buah eksplorasi musik materi-materi solo project-nya yang sedikit banyak dipengaruhi dari band seperti Title Fight, Bad Punchers, Bush, hingga Jeff Buckley.

“sebenarnya saya sendiri sudah lama menyukai musik dari band seperti Title Fight dan kemudian mencoba menciptakan lagu yang terinfluence dari band semacam Bush, Dad Punchers, Hot Water Music, dan Jeff Buckley. Whitenoir sendiri tidak menampik jika menyukai musik dari beberapa roster label Run For Cover yang sedang banyak bermunculan belakangan ini. Hingga terinspirasi dari band Paramore era Brand New Eyes.” Ujar Ekki.

Kemunculan Whitenoir ditandai dengan peluncuran dua single berjudul “Sub-District” dan “Help Me Sleep” ini juga menjadi momen perkenalan lahirnya label anyar dari kota Malang bernama Pop Flesh Records yang rencananya akan merilis debut mini album Whitenoir bertajuk Feed Me dalam waktu dekat.

“Dulu saya sempat bikin solo project, materinya rencananya akan dirilis oleh Pop Flesh. Namun karena berbagai pertimbangan, kerja sama tersebut kami tunda dulu. Dan setelah Whitenoir terbentuk, kami memutuskan untuk menjalin kerja sama kembali,” Ujar Ekki mengenai kerja sama Whitenoir dengan Pop Flesh Records.

Mengenai dua single yang telah diunggah “Sub-District” dan “Help Me Sleep”, Whitenoir mengungkapkan jika lagu “Sub-District” menceritakan tentang duka cita dan simpati kepada sempitnya cara pandang seseorang dalam menyetujui sesuatu dan bagaimana seseorang dapat mudah sekali menyamarkan kebenaran demi kepentingan orang tersebut.

Sedangkan untuk single berjudul “Help Me Sleep” yang dikemas dalam video lirik, Whitenoir ingin mengungkapkan jikalau semua hal sejatinya saling tarik menarik, seperti penggalan  lirik yang berbunyi ‘wake me up and help me sleep’ yang merupakan analogi jika mendapati perasaan senang juga pasti akan mendapati perasaan sedih pula, begitu juga sebaliknya.

Tentu saja lahirnya mini album Feed Me patut untuk diantisipasi, pasalnya selain mengusung musik alternatif yang sedang ‘panas’ dan dikatakan segar, Ekki mengaku jika proses rekaman untuk debut mini album Whitenoir terbilang begitu memuaskan.

“saya pribadi sangat senang dengan proses rekaman mini album Feed Me, karena semua source yang dibutuhkan begitu lengkap dan kemudian proses mixing kami serahkan kepada pihak Elmf Studio di Jakarta,” ungkap Ekki mengenai debut mini albumnya. “Jika dari segi lirik, mini album Whitenoir nantinya lebih membahas masalah yang terjadi dan kami rasakan di lingkungan sekitar atau lebih tepatnya kejadian sehari-hari, oleh karenanya kami memberi judul Feed Me, semacam analogi dari kehidupan sehari-hari.”

Whitenoir memang patut diantisipasi, namun belakangan projek musik bentukan dari beberapa personil band yang semakin subur lahir di kota Malang menyisakan sedikit kegilasahan. Yakni terlalaikannya band yang lebih dulu terbentuk. Padahal band yang sebelumnya mereka (para personil yang membentuk projek musik) naungi begitu berpotensi dan bahkan sayangnya masih begitu muda untuk dilalaikan. Ya, itulah keresahan yang kerap melanda ketika projek musik bentukan beberapa personil band lahir di kota Malang. Semoga saja tidak terjadi dengan Whitenoir dan semoga saja dugaan kami salah.

Jauh dari kegelisahan tersebut, mari sekarang kita bersama mendengarkan dua materi Whitenoir sebelum melangkah jauh menuju mini album terbaru.

Advertisements

One thought on “Whitenoir, Pendatang Baru Ranah Musik Alternatif Yang Sedang Memanas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s