Strider, Sang Proklamator Rock Berat

Bermula dari tiga pemuda yang telah bersahabat sejak duduk dibangku SMA yang lebih memilih banyak menghabiskan waktunya untuk berkumpul di dalam studio latihan dan mencoba meramu musik berdistorsi berat a la band heavy-metal idola mereka yang pada akhirnya mereka mulai menemukan komposisi musik yang dianggap tepat mempresentasikan jiwa mudanya.

Mereka adalah Strider, pendatang baru dari ranah musi heavy rock bermuatan stoner asal kota Malang yang resmi dibentuk pada tahun 2014 silam. Kini Strider berangggotakan lima pemuda yang  berusaha memproklamirkan apa yang mereka suka dan rasakan dengan balutan riffriff berat dan beringas.

“Awalnya kita hanya bertiga yaitu Ebing (gitar), Anjar (gitar), dan rio (drum) yang memiliki ide untuk membentuk sebuah band bergenre heavy-metal. Sampai pada akhirnya kita mencoba lebih banyak menaburi musik kami dengan irama stoner rock.Ujar Ebing mengawali cerita terbentuknya Strider.

Ebing selaku gitaris juga mengungkapkan jika nama Strider diambil dari nama julukan salah satu tokoh film yang bernama Aragorn dari film yang berjudul The Lord Of The Ring, “Strider adalah nama julukan dari salah satu tokoh pada film The Lord Of The Ring yang bernama Aragorn yang pada film tersebut digambarkan sebagai seorang pria berjubah hitam yang ditugaskan sebagai penjaga hutan. Karena karakternya yang gelap tersebut kami merasa nama Strider cocok untuk merepresentasikan musik yang kami bawakan, juga tentunya karena keren.”

Perkenalan kami dengan band ini adalah ketika Strider dipercaya sebagai pengisi acara bertajuk Semburat kedua edisi Padepokan Tapak Racun yang diprakarsai oleh kelompok kolektif bernama Sursum Omnia. Jujur saja, saat itu sedikit yang kami ketahui mengenai band ini. Hanya berbekal dari bocoran materi berjudul “Hingar Kekuasaan” yang diunggah melalui Soundcloud mereka dan cukup memiliki tenaga untuk membuat sound dalam kamar bergetar. Maklum, selama ini Semburat selain memang dikenal menjadi salah satu acara yang diprakarsai oleh sekelompok pemuda yang menjujung tinggi etos kolektif, Semburat juga memiliki radar yang begitu peka dalam menangkap sinyal potensi baru dari lintas jenis musik yang tersebar di berbagai kota.

Selain itu yang patut dipuji dari acara Semburat adalah bagaimana usaha mereka untuk mengarsipkan setiap jejak acara yang telah mereka gelar dengan cara mencetak sebuah rilisan fisik berupa  CD kompilasi berisi materi-materi band yang telah turut berpartisipasi dan juga fanzine yang memuat segala informasi mengenai proyek yang dijalankan oleh kolektif Sursum Omnia. Pada Kompilasi Semburat #2 Edisi Padepokan Tapak Racun, Strider meyertakan satu materi terbaru mereka yang berjudul “Penguasa dan Jelata”.

Semenjak penampilannya di malam acara Semburat, Strider langsung mencuri banyak perhatian dan semakin menginjakkan gas demi menyalakkan suara dan rentetan distorsi beratnya di acara demi acara dengan bermodalkan semangat pemuda yang membara.

Sampai pada waktu kehadiran Strider pada acara bertajuk Malang Blanggur yang digelar di Godbless Café 2, Malang menjadi langkah awal Strider untuk menjajaki tingkat selanjutnya dalam menjalani petualangan bermusiknya, yakni merilis album.

Penampilan Strider di acara Malang Blanggur malam itu ternyata mampu memantik perhatian owner dari Confuse Records, Mas Oox. Confuse Records adalah label rekaman dari kota Malang yang telah berdiri sejak tahun 1996. Dari ketertarika Mas Oox saat itu, Strider yang masih menyandang sebagai band pendatang baru langsung ditawari untuk merilis album dibawah bendera label yang selama ini telah sukses merangkum karya-karya band terkemuka khususnya dari ranah musik cadas hingga punk rock kota Malang. Sebut saja Extreme Decay, Antiphaty, The Babies, dan No Man’s Land.

“Pada saat dipercaya menjadi salah satu pengisi di acara Malang Blanggur di Godbless Cafe 2, kami waktu itu membawakan beberapa materi kami sendiri ditambah dengan lagu cover dari band idola kami,” Ujar Strider menceritakan awal mula kerja sama dengan Confuse Records. “Jujur kami tersanjung karena ternyata Mas Oox dari Confuse Records tertarik terhadap musik dan penampilan kami. Sejak saat itu kami mulai menjalin komunikasi dan sampai pada akhirnya kesepakatan untuk merilis debut album Strider terjalin.” Lanjut mereka.

Tak lama setelahnya tajuk untuk debut mini album telah ditetapkan. Materi-materi juga telah selesai direkam di dua dapur rekaman yakni Rama Project Studio dan Virtuso Music Studio. Selain itu, Ebing selaku gitaris Strider dipercaya menjadi artworker untuk cover debut mini album band-nya sendiri menjalankan tugasnya dengan baik. Hasilnya, tidak perlu waktu lama untuk menetapkan kelahiran debut mini album bertajuk Defishit Moral yang dilahirkan bertepatan dengan perayaan Record Store Day 2017 Malang

Artwork cover ‘Defishit Moral’ by Ebing

“Dua materi berjudul ‘Hingar Kekuasaan’ dan ‘Penguasa dan Jelata’ akan masuk menjadi bagian mini album Defishit Moral. Namun, tentu saja pada debut album kami nanti dua materi tersebut akan mengalami sedikit perbedaan.” Ungkap band yang mengaku banyak terpengaruh oleh musik dari band semacam Down, The Swords, Black Sabbath, hingga Komunal ini.

Mengenai debut mini album Defishit Moral, Strider memberikan bocoran jika album terbaru mereka akan banyak menawarkan riff-riff berat, termasuk dua lagu cover yang juga akan hadir sebagai wujud terima kasih mereka kepada grup musik yang telah memberi banyak energi bagi musik Strider.

Strider juga menjelaskan panjang alasan pemilihan judul debut mini album Defishit Moral, “Defishit Moral adalah bagaimana kami memandang kejadian seperti perebutan kekuasaan, kesenjangan sosial antar penguasa dan rakyat biasa, dan pengaruh negative sistem kapitalisme. Dimana semua hal tersebut menurut kami terjadi karena bobroknya moral. Tidak hanya menyorot dan menyalahkan si penguasa, namun para pemuda atau generasi sekarang harusnya juga turut andil dalam menciptakan sistem yang lebih baik, bukan malah sebaliknya.”

Defishit Moral yang akhirnya resmi dilepas bertepatan perayaan Record Store Day 2017 Malang di Mx-Mall dirilis dalam dua format, yakni CD dan kaset pita (Simak juga review RSD2017MLG). Strider yang pada perayaan tersebut juga dipercaya menjadi salah satu pengisi acara berhasil ‘menaklukan’ panggung dan menarik perhatian pengunjung Record Store Day 2017 Malang. Alhasil, dalam waktu singkat versi kaset Defishit Moral ludes terjual. Sedangkan versi CD masih bisa didapatkan di lapak Confuse Records atau toko-toko rilisan lainnya. Kabarnya versi CD Defishit Moral saat ini sedang dalam proses cetakan tahap kedua. Merujuk pada materi serta penampilannya, Strider memang layak menyandang sebagai salah satu pendatang baru yang berbahaya.

Strider beranggotakan Ginanjar I. Sutrisno alias Anjar (Gitar), Gabriel Doelano Nahara alias Ebing (Gitar), Abdillah Ibnu Firdaus alias Afir (Vocal), Nico Pradana alias Ocin (Bass), dan Septian Anugrah Saputra alias Putra (Drum).

Penampilan Strider di Record Store Day 2017 Malang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s