Naropal Acara; Semburat #3 “Vriday Oferturn”

Dibandingkan dengan dua edisi Semburat sebelumnya, edisi Vriday Oferturn kali ini tidak banyak membuat penonton menyeka keringat. Tentu penyebabnya bukan karena acara yang diprakarsai oleh kolektif Sursum Omnia ini tidak seru atau kurang menarik. Mungkin faktor utamanya tidak lain karena penonton terlalu khusyuk menikmati dan menyelami musik yang dimainkan penampil. Tidak heran jika melihat keseluruhan band di Semburat #3 diisi oleh wajah-wajah yang benar-benar fresh dan masih asing terutama bagi skena musik kota Malang. Selain itu, berbeda dengan Semburat edisi sebelumnya yang lebih banyak didominasi oleh band-band beringas semacam Strider, Berbisa, Remissa, Teenagers, Dhurma dan lainnya. Jika menengok satu-persatu pengisi acara pada Semburat #3 kemarin, musik yang diusung mereka hampir berbeda antara band satu dengan band yang lainnya. Mulai dari punk-rock, post-punk, psikdelik blues, alternatif rock, hingga post-metal. Daftar penampil yang mampu mengoyak telinga penonton yang menghadiri Semburat #3 pada malam 6 Mei 2017 di Houtenhand Public House, Kayutangan, Malang.

Seperti biasa, dimulainya acara Semburat selalu tidak terikat dengan waktu. Lebih fleksibel dan terkesan santai. Waktu  luang bagi yang terlebih dulu datang dimanfaatkan untuk saling tegur sapa, bercanda, menenggak bir, atau mengobrol ringan seputar Semburat #3 setelah menggali informasi melalui zine yang dicetak pihak Sursum Omnia. Beberapa wajah yang pernah menjadi bagian acara Semburat edisi sebelumnya juga nampak hadir dan membuat suasana malam itu semakin hangat dengan tambahan bekal minuman favorit yang dibawa oleh masing-masing teman. Obrolan ngalor-ngidul  tak bisa terelakkan sembari menunggu acara dimulai.

Pukul delapan acara dimulai. Pendatang baru dari kota Batu bernama Chemistry Between The Nuts And My Television dipercaya mengawali acara. Nama band yang cukup panjang ternyata berbanding terbalik dengan jumlah personilnya. Hanya berisikan dua pemuda yang juga merupakan rekan satu band bernama Ordinary. Poyek sampingan yang pertama kali mengenalkan diri lewat video klip berjudul “Meatball” dengan mengusung musik power pop yang menyenangkan. Namun pada saat beraksi, mereka lebih terdengar seperti duo yang berisi gitaris sekaligus vokalis dan drummer yang sedang memainkan musik enerjik a la band punk-rock. Oh iya, kabarnya ini merupakan debut penampilan mereka. Pembuka yang cukup enerjik, akan tetap sepertinya mereka akan jauh lebih menarik jika benar-benar sepenuhnya meramu musik seperti apa yang ditawarkan pada single “Meatball”. Karena dengan mengusung musik seperti yang apa mereka tawarkan pada Semburat #3, saya pribadi masih memilih Ordinary.

Selanjutnya ada Ultraviolence. Lagi-lagi band yang beranggotakan dua orang. Kali ini malah lebih berani, hanya berisikan seorang gitaris dan pembetot bass yang bisa saling bergantian posisi di tengah penampilannya. Meski demikian ada bantuan sampler drum yang mengiringi mereka. Jika di kota Malang ada nama pendatang baru bernama Closure yang belakangan hangat diperbincangkan dengan mengusung musik post-punk yang terdengar ceria, maka lain halnya dengan Ultraviolence. Mereka sungguh murung dan dingin. Jika tidak salah, ini juga menjadi panggung pertama mereka. Mungkin jika boleh memberi sedikit saran, Ultraviolence sebaiknya mencari seorang penggebuk drum. Atau lebih menyiapkan sampler drum dengan matang agar meminimalisir gangguan seperti yang banyak terjadi di malam Semburat #3. Menarik menunggu Ultraviolence untuk disandingkan dengan Closure dan band kota Malang yang sedang menikmati masa hibernasi panjang bernama Idiot Bob.

Deathwish sedang bersiap, tiba-tiba ada pria paruh baya berbadan tambun menaiki panggung dan mengajak penonton mengikuti suaranya, “Yeeah c’mon everybody… We don’t need no education… We don’t need no thought control…” sontak membuat penonton tertawa, orang tersebut ternyata adalah salah satu pengunjung Houtenhand yang sepertinya tertarik ikut melebur bersama acara Semburat #3 namun dalam kondisi dibawah kontrol ramuan sang dewa. Tapi nyatanya saya tetap mengikutinya dengan suara lirih, toh lirik tersebut benar-benar masuk akal jika diperuntukkan untuk acara seperti ini. Pastilah kalian mengerti lirik tersebut milik siapa.

Suasana Semburat #3 “Vriday Oferturn”

Beberapa saat kemudian penampil kejutan Semburat #3 tersebut turun panggung dan digantikan oleh vokalis Deathwish. Beberapa wajah yang ternyata tidak terlalu asing bagi saya, bukan sebagai pelaku, melainkan teman-teman yang lumayan sering membawakan hadiah berupa ramuan ajaib di Balai Desa Houtenhand bersama personil Pronks. Musik mereka juga terdengar tidak jauh berbeda dengan apa yang ditawarkan Pronks, seatap tapi beda ranjang. Para pemuda yang mencoba meramu irama acid rock, dengan aroma-aroma blues hingga mencampurnya dengan isian psikedelik yang memabukkan. Sayang, terdapat banyak gangguan teknis ketika mereka tampil sehingga sedikit mengganggu penampilan mereka.

Sehari sebelum malam Semburat #3 saya mendengarkan single mereka yang berjudul “Renaissance”. Jujur, saya suka dengan single mereka. Namun sayangnya pada malam Semburat #3 aksi panggung yang begitu liar tidak diimbangi dengan penampilan musik yang maksimal. Aksi panggung Deathwish yang liar dan lontaran lirik yang begitu tajam memang bagaikan bahasa yang tegas berteriak kata ‘persetan’.

Lons, pendatang baru ini ternyata menjadi salah satu pengisi yang paling ditunggu di acara Semburat #3. Jika menyimak debut single-nya yang berjudul “Ante Maridiem”, saya rasa wajar jika band ini memang salah satu band yang ditunggu. Pasalnya, Lons membawakan aroma alternatif rock yang sempat lama hilang dibawa band-band dari kota Malang seperti The Illusion dan Hectic. Kemunculan Lons seakan menjadi jawaban atas rindu yang (mungkin) masih belum tuntas. Penampilan Lons malam itu juga cukup memuaskan, meski memang saya yakin Lons masih bisa menawarkan penampilan yang jauh lebih mengesankan. Sepertinya ini juga menjadi debut penampilan mereka. Jika benar demikian, Lons masih memiliki jalan panjang untuk benar-benar menunjukkan kualitas mereka. Band yang cukup berpotensi dan tentu layak dinanti. Saya cukup kaget melihat antusias penonton saat Lons tampil, terutama ketika membawakan single “Ante Maridiem”. Hampir seluruh penonton yang memadati lantai dua hafal dan ikut melantunkan liriknya. Mantab!

Jauh hari sebelum Semburat #3 digelar, ada rekomendasi datang dari salah satu teman mengenai perilisan single unit post-metal asal Singosari melalui netlabel, judulnya “Oh Singhasari”. Jujur butuh waktu sedikit lama untuk membuat saya mengunduh single mereka. Sampai pada akhirnya saya mendengarkan single milik band bernama Sabbe Satta tersebut. Ternyata mereka memiliki materi yang memang brengsek ganasnya. Terlalu sulit medapatkan informasi band ini meskipun melalui bantuan mesin penelusur canggih bernama internet. Selalu salut dengan radar kawan saya yang juga menjadi otak dibalik terbentuknya Sursum Omnia untuk menemukan band-band yang tersebar di berbagai daerah khususnya di kota Malang. Sejujurnya, tidak ada ekspektasi berlebihan mengenai band ini ketika mereka diprediksi tampil di acara Semburat #3.

Ketika sampai pada pengujung acara dan Sabbe Satta yang ternyata dipercaya menjadi penutup acara tampil. Mereka ternyata tampil begitu maksimal, bertenaga, dan hampir tidak menyediakan sedikit kesempatan untuk penonton beristirahat menganggukkan kepala. Melibas telinga dengan instrument yang begitu ganas dan membuat lantai dua langsung memanas. Penampilan Sabbe Satta malam itu memang sebrengsek materinya. Sayangnya penampilan Sabbe Satta pada malam Semburat #3 hanya cukup sampai lagu ketiga saja. Meski banyak penonton yang kurang puas dan meminta Sabbe Satta untuk menambah porsi lagu. Sabbe Satta tetap pada pendiriannya untuk menyudahi malam Semburat #3 dengan begitu cepat. Band yang patut ditunggu, setidaknya menurut saya pribadi.

Pujian juga harus disematkan kepada para penonton Semburat #3 yang sedari awal hingga selesai acara tanpa kenal lelah memadati lantai dua Houtenhand. Meski keseluruhan penampil diisi oleh nama-nama baru dan mengusung Bergama warna musik, akan tetapi penonton tetap meberikan apresiasi dengan antusiasme yang tinggi. Dan yang tidak kalah penting tetap peduli akan kelanjutan kolektif Sursum Omnia dengan cara berdonasi, membeli rilisan, zine, dan lainnya.

Juga untuk kolektif Sursum Omnia yang telah mengenalkan band-band pendatang baru yang menjajikan. Panjang umur semuanya, panjang umur kreatifitas dan juga kolektifitas. (rha)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s