Ulasan Rilisan; Strider – Defishit Moral (EP)

Strider menjadi pendatang baru yang mampu membuktikan jika ranah musik heavy rock di kota Malang yang beberapa tahun belakangan mulai bermunculan tidak hanya hilir-mudik dan kemudian berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bukti fisik apapun. Debut mini album bertajuk Defishit Moral menjadi bukti nyata sekaligus menandai kelahiran aroma musik yang masih terbilang baru di kota Malang, meski sejatinya tidak bisa dikatakan demikian. Namun saya pikir bukti fisiklah yang menentukan penilaian tersebut.

Defishit Moral menyajikan keberingasan dari kumpulan riff gitar dengan distorsi maha berat yang beratnya setara dengan nyali lima pemuda di dalamnya ketika melempar lirik-lirik satire untuk menggambarkan kondisi Tanah Air tercinta.

“Hingar Kekuasaan” menjadi nomor pembuka yang tanpa perlu basa-basi langsung akan mencengkeram telinga. Langkah awal untuk membuat pendengarnya untuk pasrah mendengarkan segala luapan amarah dan hanya merespons dengan gerakan kepala ketika semua itu dilesakkan ke telinganya.

Pada salah satu wawancaranya Strider pernah mengungkapkan jika mereka mencoba meracik ramuan musik dari unsur heavy metal hingga aroma stoner-rock . Hal tersebut memang terasa dibeberapa aransemen lagu pada album Defishit Moral yang terdengar berbeda.

Seperti pada lagu berjudul “Defishit Moral”, “Ideologi Pemuda”, dan “Kapitalisme”, atau nomor instrumental “Anduril”, dimana Strider nampak bermain di ranah irama stoner yang begitu khas akan tempo ‘malas’-nya. Membuatnya lebih rileks dan tenggelam dengan isian bass juga gitar yang mengikuti permainan tempo lamban dari  penggebuk drum. Jujukan nuansa musik yang tepat bagi para pengelana asap ketika hendak menggapai ‘nirwana’.

Sebelum menutup Defishit Moral, Strider menyertakan dua lagu cover berjudul “Electric Funeral” milik Black Sabbath dan salah satu tembang milik The Beatles berjudul “Come Together”. Jika Strider tidak terlalu mengejutkan ketika membawakan “Electric Funeral”, maka lain halnya dengan salah satu tembang milik The Beatles berjudul “Come Together” yang berhasil diubah menjadi bengis.

Melalui debut mini album ini Strider terdengar melebur di antara asap yang mengepul dari akibat bara api heavy rock beroktan tinggi dan hingar-bingar musik stoner yang belakangan sama-sama mengabuti kancah musik negeri ini. Tentu saja Strider berhasil mengolah musiknya dengan menarik dan apik. Meski apa yang mereka tawarkan belum sepenuhnya dikatakan baru dan segar, setidaknya melalui Defishit Moral mereka sudah membuktikan diri sebagai pendatang baru yang bernyali.

Secara visual Strider memang tak seperti band seranah yang selalu menampilkan artwork yang begitu gagah dan garang, namun hal tersebut sepertinya tak jadi masalah ketika Strider berhasil menyajikan keberingasan akut yang mengisi keseluruhan Defishit Moral sedari awal mini album ini diputar.

 

*Review ini pertama kali diunggah  oleh WARN!NG 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s