Ulasan Rilisan; Snickers And The Chicken Fighter – Retorika (Full Album)

Melahap album terbaru Snickers And The Chicken Fighter (selanjutnya saya singkat SATCF)  sama halnya dengan menyantap sajian menu gado-gado dengan banyak varian jenis buah hingga sayuran di dalamnya. Perbedaannya, jika membeli gado-gado kalian bisa memilih jenis buah atau sayur apa saja yang sesuai keinginan kepada si penjual dan kemudian dibedakan hanya dengan warna karet agar tidak tertukar. Namun tidak demikian dengan album terbaru SATCF yang sudah siap saji dengan berbagai warna musik di dalamnya yang sudah terbungkus rapi dalam rupa CD dengan tajuk Retorika.

Melihat fenomena belakangan ini di mana perbedaan seakan menjadi alat untuk meyulut permusuhan atau malah sampai menjadikannya sebagai senjata untuk menciptakan kerusuhan. Album terbaru SATCF ini sepertinya layak dijadikan contoh yang baik, di mana perbedaan dijadikan kekuatan dan dibuktikan sangat bisa untuk didampingkan dengan akur dan rukun.

Seperti halnya dalam penggarapan album Retorika di mana sepertinya SATCF memberi ruang kebebasan berekspresi dan bereksplorasi bagi satu-persatu personilnya dalam memberikan kontribusi mengisi materi pada album terbarunya. Diluar kepastian akan kualitas musik yang memang berhasil ditingkatkan, kebebasan berekspresi dari tiap personil yang memiliki beragam referensi musik sepertinya menjadi kekuatan utama pada album terbarunya kali ini dan mengesampingkan akan bagaimana perbedaan yang nantinya menghiasi hingga bagaimana respons pendengar nanti. Toh, bukankah karya yang baik harusnya memang diciptakan dari hati bukan hanya berpasrah diri dengan mengikuti arah pasar atau industri?

Singkirkan  rasa penasaran antara hubungan logo album SATCF yang (mungkin) terlihat akrab bagi para skateboarder dan juga kesederhanaan sedari awal melihat  desain cover album Retorika. Karena yang lebih menarik dicermati adalah bagaimana SATCF berhasil menginterpretasikan keanekaragaman musik yang menghiasi album terbarunya dengan menggunakan berbagai gambar dan juga warna yang menghiasi.

Hilangkan dulu penilaian akan desain cover karena keabsurdan foto-foto dan pemilihan warna yang terkesan bertabrakan yang mewarnainya. Atau mempermasalahkan penempatan lirik yang tidak sesuai dengan urutan lagu yang dibuat bagaikan lembaran-lembaran kertas yang kemudian ditempelkan begitu saja pada “dinding” sampul.  Karena pemandangan tersebut bisa jadi memiliki makna atau malah menjadi sebuah penegasan jika album ini dibuat oleh para pemuda yang atas nama musik sedang menikmati yang namanya perbedaan dan ingin mewarnai hidupnya dengan cara mereka sendiri tanpa perlu aturan yang terkesan kaku demi mewujudkan hidup yang penuh kebebasan.

Album ini dibuka dengan gagah oleh sajian sound yang mantap dengan irama rock-nya pada nomor pembuka berjudul “Retorika”, yang juga akan kalian temukan pada nomor berjudul “Luka”, “Mesin Waktu”, dan “You”.

SATCF juga terdengar menyenangkan ketika bereksplorasi dengan beat ska juga reggae pada track berjudul “Arround In 20 Days”, “Best I Ever Had”, atau “Make Me Wanna”. Bahkan kini SATCF masih atau nampak lebih muda dan bertenaga ketika bermain dengan warna musik mereka sesungguhnya yakni melodic punk yang hampir mendominasi isi dalam album Retorika.

Tidak cukup sampai pada aransemen lagu saja, jika menyelami instrumen lebih dalam yang diciptakan dari ketukan drum hingga isian gitar, kalian pasti akan menemukan SATCF yang terdengar melebur pada aroma musik emotive, hardcore, hingga sedikit jazz yang tercecer di setiap sisi materi pada album barunya. Belum lagi pada lagu berjudul “Pulang” yang dibawakan ulang dengan format akustik menjadi sajian penutup album yang begitu hangat dan melengkapi warna musik yang semakin beragam pada album ini.

Merujuk pada lirik dan keanekaragaman musik yang ditawarkan, SATCF yang telah terbentuk kurang lebih 17 tahun silam ini seakan memberikan bukti kepada pendengarnya jika usia bukanlah menjadi alasan untuk mampu menciptakan batas dan meninggalkan kesenangan jiwa muda.

Menariknya lagi tidak hanya seputar bersenang-senang dan mempertahankan jiwa mudanya, dalam album ini SATCF juga seperti memperingatkan kita akan pentingnya berbakti pada orang tua (arti sebenarnya, bukan merujuk pada merk) dengan menciptakan lagu yang didedikasikan kepada orang yang telah melahirkan kita ke dunia, simak track berjudul “Nama Dalam Doa”.

Melalui album terbarunya SATCF masih membuktikan jika mereka mampu menciptakan materi-materi menyenangkan dan masih memiliki banyak tenaga untuk bisa merangsek ke telinga para pemuda di berbagai lini dan generasi sekalipun.

Mungkin akan sedikit sulit menentukan tempat untuk Retorika ke jajaran rak koleksi jika kalian termasuk orang yang menata rapi koleksi rilisan fisiknya berdasarkan kategori jenis musik. Atau menentukan pilihan pada suasana seperti apa album Retorika ini dirasa tepat untuk diputar. Atau mungkin saja SATCF memang sengaja menyiapkan album Retorika sebagai album musik yang harus dibawa kemanapun dan siap untuk diputar kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, atau dengan siapapun. Jika benar demikian, maka SATCF berhasil dengan rencana tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s