Sesi Obrolan Bersama Ultraviolence; Duo Post-Punk Anyar Kota Malang

Unit post-punk anyar, Ultraviolence, baru ini meluncurkam dua single terbaru mereka berjudul “No” dan “Hole”. Sebelumnya band yang baru terbentuk pada tahun 2016 ini juga telah mengenalkan debut single berjudul “Sympati” yang kemudian disusul dengan single “War” di mana single ini menjadi bagian pada kompilasi bertajuk Semburat #3 “Vriday Oferturn”.  Ultraviolence yang menjadi salah satu nama pengisi acara tersebut juga ternyata menjadi pendatang baru yang cukup banyak dinanti.

Bahkan salah satu owner record label yang mengkhususkan diri pada rilisan-rilisan musik seperti shoegaze, noise, dan post-punk memuji musik dari Ultraviolence. Tidak tanggung-tanggung, dirinya juga menulisakan pada zine Semburat #3 jika Ultraviolence merupakan salah satu band yang berani keluar dari “zona nyaman” dan bisa menjadi band yang mampu mengejutkan ranah musik khususnya di kota Malang.

Kami berkesempatan melakukan sesi obrolan bersama salah satu dari dua personil Ultraviolence bernama Maulana Akbar.

Bagaimana awal terbentuknya Ultraviolence?

Awal terbentuknya sebenarnya ngalir gitu aja. Aku (Maulana Akbar) dan Torkis Waladan dulunya adalah rekan satu band di Hairtonics, tapi sayangnya band beraliran indie-pop tersebut harus berumur pendek karena sesuatu hal. Terus karena kebetulan kita berdua juga belakangan lagi suka dengerin referensi band-band post-punk. Lalu kepikiran buat projek beraliran post-punk/darkwave. Apalagi kita mikirnya post-punk itu unik dan belum terlalu ramai di kancah musik Indonesia. Tapi pada intinya lebih buat senang-senang aja.

Band apa saja yang mempengaruhi musik Ultraviolence?

Jadi awalnya referensi post-punk/darkwave yang kami dapatkan berasal dari penelusuran salah satu layanan musik streaming. Contohnya salah satu ada band namanya Buerak. Kalo musik kita tetep ngikutin pakemnya aja sih. Kalo di sebutin bandnya kita tetep ter-influnce band band post-punk sama new-wave tahun ‘80-an. Seperti pattern drum kita banyak terinspirasi dari band seperti A Flock of Seaguls, terus karakter bass mungkin condongnya ke arah Gang of Four. Dan masih banyak lainnya.

Untuk instrumen drum, kalian memakai drum midi. Mengapa tidak mencari penggebuk drum?

Iya, mengapa kita lebih milih drum midi karena lebih simpel dan drum midi juga bukan hal yang baru juga di scene post-punk. Lebih spesifiknya sejak awal memang format Ultraviolence lebih minimalis dengan dua personil dibantu tambahan drum midi. Kalau cari drummer sebenarnya bisa aja, cuma kita untuk sekarang sudah ngerasa nyaman dengan set ultraviolence yang seperti ini.

Baru ini kalian mengunggah 2 single baru dan total telah 4 lagu yang sudah kalian luncurkan selama ini. Secara garis besar tema apa yang kalian angkat pada lagu-lagu Ultraviolence?

Untuk tema kita lebih mengangkat kehidupan pribadi sama lingkungan sekitar yang kita alami aja. Lebih terkesan banyak hal-hal sentimentil yang kita bawa ke lagu-lagu ultraviolence. Contohnya seperti lirik pada single terbaru berjudul “No”, kita nyisipin lirik ‘no fun, no force, no future‘, kayak semacem protes dari kejadian-kejadian hidup yang gak seharusnya kita rasain.

Bagaimana respon pendengar selama ini, khususnya di kota Malang?

Positif, kita ngerasa seneng banget. Kita beruntung tinggal di kota Malang yang ranah musiknya beraneka ragam.

Apa rencana terbaru Ultraviolence setelah ini?

Kemungkinan besar kita bakal merilis EP sekitar akhir tahun nanti. Doain saja.

Apakah 4 lagu yang sudah kalian sebar juga ikut terlibat di EP yang akan datang?

Wah kalo yang itu rahasia dulu deh. Liat tanggal mainnya aja nanti.

Bagaimana gambaran besar EP kalian nanti? 

Rencana EP nanti isinya kurang lebih 6 lagu. Banyak yang mesti di-upgrade lagi dari musiknya terutama. Untuk tema kita sepertinya masih mengangkat nuansa dark dan lebih peka ke isu-isu atau pengalaman yang udah terjadi. Kita masih ngerasa sampai saat ini masih dalam proses pemantapan jati diri Ultraviolence, jadi masih meraba lebih dan  kurangnya apa. Sebelum nantinya jadi EP biar gak nanggung dan sia-sia mas. Untuk label, sampai sekarang sih kebayangnya masih self release.

Apa arti nama Ultraviolence?

Ultraviolence sih kita ngutip dari salah satu judul lagunya New Order. Kalo perspektifku sendiri mudah-mudahan bisa jadi trigger buat tetep berusaha supaya materi atau karya yang kita hasilin tetep konsekuen dengan nama bandnya yang rada agresif kalo diartiin ke bahasa Indonesia. (tertawa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s