Atlesta Resmi Lepas Album Terbaru

Sebagai albumnya yang paling ambisius, penuh tantangan dan sarat nuansa sinematik.

Solois electro-pop asal kota Malang, Atlesta, akhirnya resmi merilis album baru bertajuk Gestures pada tanggal 17 Juli 2017. Gestures berisi 13 lagu termasuk memuat tiga singel yang sudah pernah dirilis sebelumnya: “Shovia”, “Recalling”, dan “Pure Fantasy”.

Gestures dirilis oleh label rekaman Pops You Good dalam format fisik (versi regular dan limited edition) serta format digital yang diedarkan di berbagai layanan music store. Sebelum ini, Atlesta juga sudah pernah merilis dua album studio, Secret Talking (2012) dan Sensation (2014), serta satu album live-recording bertajuk Live at Boulevard Hill (2015).

“Ini album yang paling ribet buat saya. Prosesnya cukup lama dan memakan biaya yang lumayan banyak juga…” tegas Fifan Christa, pemuda yang berada di balik brand dan nama panggung Atlesta, mengenai album Gestures.

Saat mengerjakan materi album Gestures, Fifan Christa mengaku banyak mengurung diri di dalam studio. Menghabiskan banyak waktu untuk mengkonsep dan merancang terobosan musik terbaru. Ia mengaku menulis materi musik Gestures sejak tahun 2015, kemudian mulai masuk proses rekaman pada awal tahun 2016 di lokasi yang berpindah-pindah.

“Dari materi dasar yang sudah jadi banyak yang lalu saya ulik lagi. Hampir setiap lagu, revisinya bisa di atas 10 kali,” ungkap Fifan Christa. “Awalnya ada stok 18 lagu. Trus kita seleksi lagi bareng-bareng sama tim manajemen Atlesta jadi 14 lagu. Sampai akhirnya diputuskan 13 lagu yang layak masuk di album Gestures…”

Proses rekaman album Gestures dikerjakan di tiga tempat: Delicore Studio (Yogjakarta), ALS Studio (Jakarta), dan ETC Studio (Malang). Untuk proses mixing-nya dilakoni oleh Wendi Arintyo di ALS Studio. Sedangkan sesi mastering-nya dikerjakan oleh Steve Corrao di Sage Audio, Nashville, Amerika Serikat.

Dalam proses pengerjaan album Gestures, Fifan Christa dibantu oleh beberapa musisi. Seperti Mahatamtama Arya yang mengisi bagian gitar pada hampir semua lagu. Lalu ada Intan Ayu Wulansary dan Ristri Putri yang merekam vokal latarnya untuk sejumlah track.

Dalam merancang Gestures, Fifan Christa mengaku justru mendapat banyak inspirasi dari referensi film-film kategori indie-cult yang biasanya cenderung flat. Pengaruhnya agak terasa pada nuansa album Gestures yang menjadi agak ‘sinematik’. Penuh dengan tensi yang datar serta plot twist.

“Gara-gara suka film, saya jadi banyak mendengarkan komposisinya Thomas Newman dan Hans Zimmer,” tutur Fifan Christa yang juga menggemari kisah-kisah superhero terbitan Marvel dan DC Comics.

Fifan Christa juga mengungkapkan jika secara musikal album Gestures membawa denyut pop yang ambient. Ia juga menambahkan unsur-unsur dari jenis musik dream pop, nu disco, darkwave, soul, R&B, sampai elektronik 70-an sebagai referensinya.

“Selama menggarap album ini saya banyak mendengarkan Fatboy Slim, Depeche Mode, The Cure, Sting, sampai Gorrilaz…” katanya. “Juga Kendrick Lamar untuk ide nada-nada hiphop dan R&B-nya…”

Hasilnya, Gestures menawarkan beragam alur musik dengan pendekatan yang berbeda-beda. Seperti “Finale” yang berlaku minor dan repetitif, “Season” yang mengalun lembut dan atmosferik, “Golden Essence” yang bertempo upbeat dan danceable, “The Gravity” yang berjalan datar dan malas, hingga “Twin Cities” yang kental akan aroma pop dan sentuhan jazzy di banyak lini.

Di balik album yang diproduseri oleh Fifan Christa dan Hertasnim Syahid ini juga melibatkan tim produksi dan awak manajemen yang cukup banyak. Selain sektor produksi musik, ada beberapa orang yang ditugaskan khusus untuk menangani artwork, desain, tipografi, video, website, hingga store dan merchandise.

Selepas merilis album Gestures, Atlesta sudah merencanakan sejumlah aktifitas ke depan. Seperti antara lain memproduksi font dan tipografi resmi, merancang pameran dan eksebisi visual, serta menerbitkan buku yang berisi kumpulan tulisan interpretasi dari 13 lagu di album Gestures.

“Semua rencana itu sudah kita siapkan bareng tim manajemen di Atlesta. Kayaknya program dan timeline kerjaan kami cukup padat sampai akhir tahun ini,” ujar Fifan Christa dengan mimik serius. “Dan sesungguhnya, seluruh proses album ini cukup mengubah hidup saya…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s