Naropal Acara; Open Tour #1 at Houtenhand

Pada arus media Nasional, ranah musik di Kota Malang (mungkin) memang tak seberisik hingar-bingar di kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Akan tetapi hal tersebut ternyata tak mempengaruhi minat pelaku hingga penikmat asal kota lain untuk singgah ke kota ini. Setiap kota memang memiliki formulanya masing-masing untuk membangun scene-nya. Begitu juga dengan kota Malang yang tak pernah berhenti bergerak untuk membangun scene dengan formulanya sendiri.

Semakin hari tensi acara di kota Malang semakin tinggi. Minggu (6/8) terdapat sekitar lima acara yang digelar dalam waktu yang bersamaan. Salah satunya di Houtenhand yang menggelar acara bertajuk Open Tour. Kabarnya acara ini adalah program baru milik Houtenhand yang kedepannya akan digelar dalam kurun waktu sebulan sekali. Open Tour sendiri semacam ruang untuk teman-teman dari luar kota yang sedang melaksanakan ibadah tur ke kota Malang untuk bisa merasakan atmosfir gig di Houtenhand sekaligus bisa berkenalan dengan para pelaku dan penikmat dari kota Malang.

Sejak awal kehadirannya, Houtenhand hingga saat ini masih konsisten memberikan ruang untuk para seniman di kota Malang untuk unjuk gigi. Entah dalam rupa gelaran musik, pameran visual, hingga diskusi.  Tidak heran jika sampai detik ini Houtenhand tetap menjadi menjadi spot gigs favorit dan ruang alternatif bagi para seniman (khususnya dari ranah musik) di kota Malang. Merujuk pada yang banyak orang katakan, mungkin memang benar dan pantas tempat ini disebut “CBGB-nya Kota Malang”.

Pada acara Open Tour edisi perdana kemarin, Houtenhand kedatangan tamu asal Bali, Yogyakarta, dan Jember. Mereka adalah Casssadaga (Bali), The Arcadia (Jember), Matilda (Bali), dan Marsmolys (Yogyakarta). Tentu saja Malang turut hadir dengan perwakilan dari Remissa dan Pronks.

Malam itu sejauh mata memandang Houtenhand hampir saja disesaki oleh mereka yang berpakaian a la penonton Woodstock tahun ’69.  Pria-pria berambut gondrong berpakaian ketat , kemeja kedodoran bermotif dengan kancing terbuka di bagian paling atas lengkap dengan celana cutbray dan sepatu boots atau sneakers butut seakan menjadi atribut wajib untuk menghadiri acara malam itu.

Tidak heran jika melihat style mereka malam itu. Penyebabnya tidak lain adalah para pengisi acara yang datang dari berbagai kota ini mengusung musik-musik nan memabukkan yang belakangan memang sedang hangat digandrungi  oleh pemuda-pemuda di Indonesia yang menganggap Led Zeppelin dan Black Sabbath sebagai sumber energi muda mereka.

Acara dibuka oleh The Arcadia asal Jember. Sejujurnya saya cukup penasaran dengan band ini, karena saya sempat menghabiskan masa kecil di sana. Wajah kota Jember memang sudah banyak berubah maju dan berkembang. Tapi untuk urusan musik di sana, yang saya tahu  Jember memang kerap menggelar acara musik. Namun yang lebih terdengar gaungnya adalah acara yang kebanyakan diisi oleh band-band cadas.

Hingga pada akhirnya The Arcadia tampil di Houtenhand. Band ini cukup menjajikan dengan membawa aroma psikedelik rock yang garang. Dipercaya menjaid penampil pembuka, The Arcadia langsung sukses membuat area moshpit langsung memanas dengan stage dive di mana-mana. Band ini sepertinya akan menjadi jagoan baru asal kota Jember. Meski demikian mereka masih tetap harus bekerja ekstra keras untuk menemukan formula musik yang ampuh. Karena sejujurnya meski meyakinkan dari sisi musikalitas dan kualitas, instrumen yang mereka mainkan masih terdengar biasa saja dan (maaf) sedikit membosankan. Kendati demikian, The Arcadia telah memiliki modal yang cukup untuk menciptakan materi yang jauh lebih mengesankan. Bukan mustahil jika band ini kedepannya akan menarik banyak    perhatian, band mengejutkan yang berasal dari kota yang tidak pernah diduga.

Selanjutnya adalah Pronks. Dibandingkan dengan penampilan mereka beberapa waktu lalu, kini penampilan Pronks jauh lebih prima dan lebih bisa dinikmati. Trio ini semakin meyakinkan jika mereka sedang dalam proses menggodok materi baru dengan ramuan musik yang jauh berbeda dengan album Lullabies For Insomnian. Dengan kecepatan musik punk-rock yang super liar dengan sedikit kelembutan musik alternatif rock awal 2000-an, kini Pronks semakin tampak lebih muda dan berbahaya. Jika kalian penasaran dengan bagaimana musik mereka sekarang, silakan request lagu berjudul “Slow Man”.

Asap kian mengepul di lantai dua, botol bir dan minuman siluman berbungkus botol air mineral sudah berserakan di mana-mana. Giliran Matilda asal Bali menjadi penampil selanjutnya. Semenjak Rollfast mampu mencuri perhatian kancah musik Indonesia. Bali kerap melahirkan nama band-band di bawah naungan musik psikedelik rock. Matilda salah-satunya. Namun sayangnya tidak ada ‘gebrakan’ yang mampu meledakkan area moshpit di lagu-lagu yang mereka bawakan. Matilda nampak asik dengan ‘pelangi’ mereka sendiri. Band ini lebih nikmat jika diputar di bar sambil menenggak minuman sembari mengobrol dengan teman. Beruntung mereka memiliki vokalis yang amat ekspresif juga atraktif dengan corak vokal yang cocok dengan musik yang mereka usung.

Sepertinya tidak hanya penonton yang nampak kebingungan membedakan mana lagu satu dengan yang lain karena aransemennya yang hampir terdengar sama. Karena pada penghujung penampilan, vokalis mereka juga nampak terlihat bingung ketika hendak masuk bagian vokalnya. Mungkin kedepannya Matilda harus mampu memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh vokalis mereka ini dengan membuat materi yang lebih kelewat beringas dari sisi instrumennya, agar supaya penonton juga bisa melebur menikmati ‘pelangi’ bersama mereka.

Marsmolys asal Yogyakarta menjadi penampil selanjutnya. Masih kental dengan aroma psikdelik-nya. Tak bisa dipungkiri jika album-album musik seperti Crimson Eyes dan Detourn memiliki pengaruh besar terhadap musik yang diusung oleh tiga pemuda ini. Mereka tampil prima dan mampu kembali memanaskan area depan panggung yang tadinya mulai agak lenggang.

Selanjutnya adalah kuartet grunge, Remissa, yang malam itu membawakan materi-materi yang ada pada debut album Manifesto Mimpi. Sejak awal, Remissa tampak sudah begitu nyaman untuk dinikmati. Mulai dari sajian sound hingga pembawaan materi ketika di atas panggung. Tentu saja sepertinya ini dampak dari jam terbang yang tinggi. Remissa memang belakangan memang rajin berpetualang dari panggung ke panggung khususnya di kota Malang. Sayangnya, malam itu penampilan mereka sedikit kurang bisa dinikmati karena vokalis -Toar ataupun Baron- kerap kehilangan tenaga dan arah ketika bernyanyi. Dengan intensitas panggung yang tinggi, mungkin mereka harus segera menggarap materi baru untuk segera diperkenalkan ke atas panggung.

Acara Open Tour ditutup oleh penampilan Casssadaga. Tidak jauh berbeda dengan apa yang ditawarkan rekan mereka asal Bali lainnya, Matilda. Namun bedanya Casssadaga terdengar lebih banyak menyajikan porsi instrumen tanpa isian vokal. Sayangnya saya harus turun minum dan menyudahi penampilan mereka lebih cepat karena faktor dahaga. Selanjutnya bisa diprediksi apa yang terjadi antara pemuda-pemuda dari lintas kota ini. Saling mengenalkan ramuan asal kota mereka masing-masing demi mempererat pertemanan.

Merujuk pada acara di Houtenhand malam itu. Ranah musik psikedelik rock sudah berada pada tangan-tangan generasi muda yang tepat. Namun jangan terlalu nyaman lebih dulu jika tidak ingin hanya dianggap sekedar penyemarak semata. Karena jika mereka mau, band-band di atas memiliki potensi besar untuk menjadi pendobrak kancah musik rock Indonesia.

Tentu saja selain dengan konsisten berkarya, mereka juga harus terus menggali dan memperkaya musik mereka demi menemukan ramuan-ramuan yang lebih mujarab dan tidak terlalu terpaku dengan gaya permainan band-band idola mereka. (Hilman)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s