Naropal Acara: Kanal Gembira Lokal

Jauh hari seorang kolega berkata jika dirinya akan menggelar sebuah acara, “Pokok kalo udah ada 30 band, acara langsung digeber.” Namanya Eko Marjani, pria dibalik nama Koalisi Nada. Pria ini juga yang bertanggung jawab sebagai radar untuk ‘menangkap’ sinyal pelaku musik yang nantinya akan bekerjasama merilis karyanya via netlabel Kanaltigapuluh.

Jika tidak salah ingat, ketika Eko berjanji menggelar acara, total sudah ada 28 band dari berbagai lintas musik yang karyanya pernah dirilis via netlabel Kanaltigapuluh. Sampai pada akhirnya ada dua band yang bekerja sama merilis ulang album mereka via netlabel Kanaltigapuluh. Yakni Existence dengan album Destruction This Fuckin Pain dan Nugatoria dengan albumnya Dimensi Stagnasi. Hal ini tentu menjadi pertanda jika perkataannya waktu itu akan segera terlaksana, menggeber acara!

Kanaltigapuluh

Mungkin banyak penikmat dan pelaku musik mengenal Kanaltigapuluh sebagai media musik independen  berbasis di Yogyakarta dan salah satu Netlabel yang berada di Indonesia. Memang benar adanya. Tapi tunggu dulu, sejatinya sebelum Kanaltigapuluh dikenal seperti sekarang, Kanal memiliki rekam jejak yang cukup panjang di kota Malang.

Singkat cerita, Berdasarkan penuturan Eko, sekitar 7-8 tahun lalu Kanaltigapuluh lahir di kota Malang. Namun bukan lahir sebagai media musik atau netlabel sebagaimana terlihat sekarang. Awalnya – sekitar tahun 2009/2010 – Kanaltigapuluh lahir dalam wujud radio online. Inisiatornya adalah Komang dan termasuk juga Eko Marjani. Berdasarkan pelbagai arsip, bisa jadi Kanaltigapuluh ini menjadi radio independen berbasis online pertama di kota Malang.

Sampai pada akhirnya Komang memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta, namun Kanaltigapuluh masih tetap berjalan dan peran serta  ranah jangkauannnya terus dikembangkan hingga seperti sekarang, menjalankan media musik dan mendirikan Netlabel. Jarak tak menjadi penghalang  antar kedua orang ini, toh, alasan jarak sudah terdengar usang ketika disekitar kita terdapat kecanggihan teknologi yang semakin merebak. Mereka berdua pun membagi tugas, Komang lebih aktif di maintenance website dan pengisi konten di Kanaltigapuluh. Sedangkan Eko menjadi announcer radio sekaligus merangkap menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mencari pelaku yang bersedia karyanya dirilis via Netlabel Kanaltigapuluh.

Kanal Gembira Lokal

Selang beberapa hari setelah sukses merilis materi Existence dan Nugatoria, Mas Eko Bertandang ke rumah dan tiba-tiba memberi kabar jika acara yang dijanjikannya akan digelar empat hari lagi. Gila! Pria ini memang tak pernah basa-basi. Pikirku saat itu. Eko memang seperti itu. Tak pernah banyak pertimbangan, langsung hajar jalanan. Selalu berapi-api ketika memiliki rencana terlebih berhubungan dengan saluran bawah tanah dengan berpegang teguh semangat kolektif dan etos Do It Yourself.

Jum’at, 10 November 2017 flyer acara berjudul Kanal Gembira Lokal dengan latar warna kuning menyala mencolok mata mulai lalu-lalang di media sosial. Tajuk yang sudah tidak asing lagi bagi mereka  yang selalu mengikuti gerak radio online kanaltigapuluh. Ya, ini memang salah satu titel yang sudah sering diusung pada program radio Kanal. Ketika program musik dengan tagar #KanalGembiraLokal mengudara, itu berarti pertanda radio Kanal akan memutarkan materi-materi yang pernah dirilis di bawah bendera Netlabel Kanaltigapuluh serta materi band-band lokal dari kancah independen Indonesia. Berdasarkan semangat yang masih sama dan tak ingin hanya aktif di dunia maya. Sub-Kanaltigapuluh yakni Netlabel membuat program acara musik bertajuk Kanal Gembira Lokal.

Acara

Hari itu cuaca sedang lesu, sedari siang langit tak memancarkan cahaya kuning dan tidak lama kemudian dilanjut dengan menurunkan hujan yang tidak berlangsung lama. Hujan pertama di bulan November, meski tidak lama tapi cukuplah menjadi momen pas untuk memutar lagu berjudul “November Rain” milik band hair metal tersohor itu.

Malamnya jalanan kota Malang masih basah dan seperti biasa, volume kendaraan di setiap ruas jalan kota Malang dipastikan meningkat ketika menuju weekend. Meski demikian itu tak mengurungkan niat untuk berangkat menuju venue digelarnya acara Kanal Gembira Lokal di Houtenhandgarten.

Sesampainya di venue, jam menunjukkan waktu pukul setengah delapan malam. Houtenhandgarten sudah nampak ramai pengunjung dengan tujuan berbeda-beda, nonton acara musik atau sekedar menikmati beer. Acara memang belum dimulai. Tidak ada tiket, penonton dibebaskan menyumbangkan uang berapun untuk donasi demi kelanjutan kegiatan. Malah penonton diberi bonus berupa newslatter berukuran A3 beserta sticker. Nampak pula pelapak milik label anyar Frekuensi Records yang baru ini merilis debut album unit indie-rock millenial, Young Savages. Di sebelahnya ada workshop sablon di mana penonton dibebaskan untuk membawa t-shirt polos untuk nantinya disablon poster acara Kanal Gembira Lokal.

Jajaran kursi pengunjung yang melingkari panggung sudah nampak penuh, beberapa wajah sudah terlihat tidak sabar menunggu acara untuk segera dimulai. Eko Marjani bertugas sebagai pemandu acara akhirnya membuka acara dan mempersilahkan Ravage untuk menjadi penampil pertama. Unit hardcore yang pernah merilis EP Wicked Smoke di bawah bendera Netlabel Kanaltigapuluh ini menjadi favorit baru bagi saya pribadi. Musik mereka cepat dan berat. Serta memiliki frontman perempuan yang sungguh bertenaga. Pertama kali melihat penampilan mereka di studio gig, saya sudah terpukau. Entah darimana asalnya, saya selalu membayangkan jika vokalis Ravage ini turut menyumbangkan suara di band seperti Gufo, Moor atau Sabbe Satta. Hm, sepertinya menarik.

Ravage memulai aksinya dengan sedikit ragu, ketika membawakan dua lagu pembuka  mereka nampak masih belum panas. Barulah ketika membawakan nomor selanjutnya hingga materi penutup berjudul  “Wicked Smoke” mereka tampil beringas dan garang . Kembali saya dibuat terpukau oleh band satu ini.

Selanjutnya ada kolaborasi antara tiga unit noise dari kota Malang dan Batu. Mereka adalah Bergegas Mati, Womboom, dan Uhyeah!. Malam kian pecah akibat ulah mereka bertiga, meski ada beberapa kendala perihal sound. Tapi sepertinya bukan masalah berarti bagi mereka. Kali ini ada yang tidak biasa, yakni penampilan Adit Uhyeah!. Adit yang biasa terlihat selalu menggila dengan microfon dan piranti modulasinya, kini tampil lebih santai dengan membaca novel di depan dan di antara ketiga rekannya yang sibuk membisingkan seluruh venue Houtenhandgarten. Sayang, cerita yang diisampaikan Adit tidak terlalu jelas terdengar, padahal ini konsep yang keren.

Penampil ketiga ialah Young Savages. Unit indie-rock yang baru saja merilis debut album 2000’s Kid bersama Frekuensi Records di gelaran Malang Cassette Store Day beberapa pekan lalu. Sukses dirilisnya debut album sepertinya menjadi suntikan semangat tersendiri bagi band ini. Terbukti belakangan ini penampilan Young Savages memang selalu prima, begitupula di acara Kanal Gembira Lokal. Hal yang paling terasa signifikan ialah pembagian isian antar dua gitar mereka kini yang berimbang dan saling memiliki perannya  masing-masing. Penampilan Young Savages sekarang ini memang sedang apik-apiknya. Semoga terus bertahan seperti ini.

Acara Kanal Gembira Lokal ternyata telah sampai pada penghujung. Kranioplastik yang harusnya ikut menjadi bagian acara Kanal Gembira Lokal ternyata urung tampil. Entah apa penyebabnya. Jadinya unit grunge/noise-rock, Becuz, menjadi penampil terkahir sekaligus penutup acara.

Sudah lama saya tidak meliht aksi Becuz. Faktor kesibukan personil mungkin menjadi alasan utama berkurangnya intensitas manggung Becuz. Penampilan band yang pernah merilis debut album dan singel untuk album baru Jala melalui Netlabel Kanaltigapuluh ini memang dirindukan. Apalagi malam itu mereka tampil dengan formasi lengkap, termasuk vokalis Andin. Maklum, termasuk hal langka melihat Becuz dengan formasi lengkap seperti ini.

Malam itu Becuz membawakan beberapa materi pada album kedua Jala dengan begitu prima dan penuh tenaga. Terlebih aksi vokalis mereka yang begitu beringas membuat penonton terpancing ikut memanas. Lihat saja Jimmi (vokalis ALSOO) yang tanpa lelah menggila bersama vokalis Becuz di area penonton. Meski pada awal lagu mereka nampak terlihat canggung, namun tidak  lama mereka sudah menemukan kenyaman.

Acara Kanal Gembira Lokal berjalan lancar, intim dan meriah. Semua penampil berhasil tampil maksimal. Ya, acara dengan semangat seperti ini memang patut dijaga. Ekosistem seperti ini yang dibangun dengan semangat pertemanan, kemandirian dan spirit komunal memang musti terus hidup. Supaya ranah musik independen tidak hanya bergantung pada acara-acara  yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan pihak tertentu (baca:pemilik modal).  Ah, tidak lupa juga saya ucapkan selamat atas kelahiran Audimon, tokoh berupa kaset dengan jaring-jaring di poster acara Kanal Gembira Lokal. Panjang umur Kanal Gembira Lokal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s