Review Acara; Dream Motion 2

Lebih menyajikan  berbagai warna dalam satu panggung

Sukses digelar pada edisi perdana, acara bertitel Dream Motion berlanjut di edisi kedua pada Jum’at, 15 Desember 2017. Masih di venue yang sama, Houtenhand Public House, Dream Motion #2 yang dibantu oleh pihak Rumah Opa Foundation dan Malang Sub Pop  kali ini menyajikan berbagai warna musik.

Dream Motion sendiri ialah acara kolektif yang diprakarsai oleh beberapa kawan yang aktif  di scene alternatif, shoegaze dan post-rock di kota Malang. Jadi bisa ditebak jika Dream Motion digelar maka deretan nama pengisi acara akan didominasi oleh grup yang mengusung musik seputaran ranah tersebut. Begitupula Dream Motion #2 yang menyajikan nama-nama seperti Closure, Crimson Diary, dan dua nama yang juga terlibat di Dream Motion edisi perdana, Intenna dan I’m Sorry I’m Lost. Tidak hanya itu, tiap edisi acara ini pasti menghadirkan tamu dari luar kota. Jika sebelumnya nama Under The Big Bright Yellow Sun yang datang bertamu, kini giliran rekannya dari kota yang sama, Flukeminimix.

Beberapa hari belakangan cuaca kota Malang sulit diprediksi. Namun sore itu langit nampak lesu berwarna abu-abu kemudian dilanjut dengan hujan deras. Cuaca seperti ini rasanya sayang untuk tidak dimafaatkan sebaik-baiknya. Mendengarkan lagu, membaca, ngopi, merenung, atau…bermalas-malasan di atas medan yang empuk. Apalagi cuaca demikian datang di saat akhir pekan. Namun entah kebetulan atau emang sudah direncanakan, acara Dream Motion edisi kedua digelar pada saat cuaca di kota Malang sesendu itu.

Acara dimulai pukul delapan. Hujan gerimis masih terlihat lewat sorotan lampu jalan. Unit post-punk pendatang baru yang sedang hangat, Closure, sudah tampil membuka acara. Malam itu Closure dibantu oleh Risang dari Much dan Write The Future pada drum. Sayang, keterlamabtan datang membuat penampilan band ini harus dilewatkan.

Selanjutnya adalah Intenna. Pencahayaan panggung nampak berwarna berkat bantuan visual yang dipancarkan lewat proyektor. Tidak seperti biasanya, hari itu arena panggung Houtenhand yang tak begitu luas terlihat sesak oleh sound yang gagah. Intenna membuka penampilannya dengan intro kemudian dilanjut dengan lagu dari album Helter Skelter, “Half A Lie”. Dua lagu awal, Intenna nampak masih canggung. Barulah ketika vokalis anyar mereka naik dan membawakan lagu “Flowery” dan termasuk juga beberapa materi di mini album terbaru Flaw, barulah Intenna tampil percaya diri. Dan malam ini adalah penampilan terbaik mereka. Intenna tampil prima, mulai dari segi sound hingga keseimbangan antar instrumen disajikan dengan takaran yang pas di telinga. Malam itu Intenna benar-benar membuat penonton bagiakan debu-debu yang berterbangan yang menggantung di langit-langit Houtenhand.

Intenna

Arena penonton sudah nampak rapat dan hangat hingga bagian paling ujung. Giliran Crimson Diary yang dipercaya mengakusisi acara. Unit alternatif yang belakangan nampak mengurangi intensitas panggung mereka tampil tak semegah biasanya. Crimson Diary memang masih menawan ketika memainkan bagian lagu pada sisi yang tenang, kalem dan gelap. Barulah pada puncak emosi lagu, mereka nampak seperti kehilangan kontrol. Terutama antara gitar Bill (vokal dan gitar) dan Muklis. Malam itu Crimson Diary membawa penonton sedikit bernostalgia dengan lagu pembuka berjudul “Senja” dari debut album Senja. Kemudian membawa penonton ke suasana lebih gelap dan murung ketika membawakan materi pada album terbaru kedua, Diary Of Crimson, seperti; “Higher Place”, “Bumi”, “Misty Night” hingga ditutup dengan “Akhiran”.

Selanjutya adalah penampilan dari band tamu asal Bandung, Flukeminimix. Butuh waktu untuk mereka bersiap. Pasalnya, band ini membawa peralatan yang tidak sederhana. Wajar, mengingat musik yang mereka mainkan tergolong tidak sederhana.

Sedikit cerita, beberapa hari sebelum Dream Motion #2 digelar, banyak rekomendasi datang untuk mendengarkan materi-materi mereka. Saya sendiri tidak banyak tahu mengenai band ini. Mendengar namanya, pikirku Flukeminimix terdengar unit musik yang akan dipenuhi getaran musik elektronik. Namun tentunya dengan tingkat kebrengsekan yang tinggi. Itu sebabnya Flukeminimix mampu menarik perhatian label Grimloc Records.

Tapi saya sedikit kurang percaya ketika tiga teman mengatakan hal yang sama, jika band ini memiliki hubungan musik dengan band bernama Godspeed You! Black Emperor.  Titik. Tidak ada yang lain.

Sebuah ‘tuduhan’ yang (menurut saya) tidak main-main menyandingkan musik dengan apa yang dimainkan oleh GY!BE. Ya, memang seperti itu. GY!BE bukanlah unit musik yang segampang itu untuk ditasbihkan sebagai jujukan pada band-band pengusung musik sejenis sekalipun. Sampai pada akhirnya Flukeminimix tampil.

Flukeminimix memainkan instrumental rock dengan kadar yang berat dan garang. Godspeed You! Black Emperor? Baiklah ‘tuduhan’ itu memang cukup terbukti jika melihat apa yang dipresentasikan Flukeminimix pada malam itu. Flukeminimix memang memainkan cengkraman dan kegentingan a la musik GY!BE yang dihasilkan dari suara gesekan string hingga karakter drum dan alur emosi musiknya.

Tapi salah jika menilai sepenuhnya Flukeminimix adalah sama persis dengan yang seperti GY!BE tawarkan pada musiknya.  Pasalnya Flukeminimix masih menawarkan sisi ‘terang’ pada musiknya. Mulai dari menyentuh ke sendi musik psikedelik hingga harmonisasi a la band post-rock seperti pada umumnya. Tapi memang harus diakui jika Flukeminimix merupakan salah satu band yang tidak biasa di ranah instrumental rock di Indonesia. Dan mereka tetap sebrengsek perkiraan awal saya.

Malam itu dengan lima personil ( 3 gitaris, bassis dan drummer). Di atas panggung Flukeminimix tampak seperti sedang melakukan ritual – posisi melingkar menghadap piranti-piranti yang memenuhi bagian  tengah panggung. Menyerap dan menyatukan emosi dan meluapkannya ketika sudah berada pada titik tertinggi. Entah itu dengan tindakan atraktif atau teriakan dari para personil.

Flukeminimix

Lagu pertama yang mereka bawakan berjudul “Seed Of Grey” yang menjadi pembuka pada album Between Spaces Into Space.  Petualangan musik yang sedikit mengingatkan serpihan pada lagu pembuka di album  Asunder, Sweet And Other Distress milik GY!BE. 

Petualangan itu kemudian berlanjut pada lagu-lagu seperti “Chariot and the Warriors of Silence”, ”Immaculate Inception” dan lainnya yang masih menjadi bagian pada album yang sama.

Flukeminimix tampil mengesankan. Meski durasi per lagu yang mereka bawakan tidaklah sebentar. Namun petualangan yang disajikan tetaplah beraneka ragam. Tidak semuanya disajikan dengan musik yang gelap dan mencekam. Oleh karenanya tidak heran ketika hendak mengakhiri penampilan penonton masih kurang puas dan meminta mereka membawakan 1 lagu tambahan meski sepanjang penampilan sudah dihajar habis-habisan.‎ Band ini memang menyakitkan tapi belum sampai taraf mematikan. Tidak terlalu berlebihan jika lagu mereka diputar sebagai ritual menghantar ketenangan di era yang peduli setan seperti sekarang.

Unit post-rock asal kota Malang, I’m Sorry I’m Lost, didapuk menjadi penutup acara Dream Motion #2. Bertepatan hari itu pula mereka resmi merilis debut album dalam rupa kaset pita bertajuk 50:50 di bawah bendera label independen, Barongsai Records. Persiapan band yang akrab dengan akronim ISIL juga sedikit memakan waktu.

Atmosfir Dream Motion 2

Di awal penampilan, ISIL masih tampak belum maksimal. Volume instrumen bass masih terlalu dominan hingga mengalahkan instrumen lainnya. Padahal awal penampilannya itu mereka membawakan materi baru yang terkandung pada debut albumnya. Sungguh amat disayangkan.

Sampai pada lagu ketiga dibawakan berjudul “You Can Run, But You Can’t Hide” barulah ISIL tampil seimbang. ISIL membawa penonton kepada petualangan musik yang berbeda dari apa yang Flukeminimix tawarkan. Kini suasana Dream Motion #2  lebih tenang dan khidmat. Mungkin untuk selanjutnya ISIL perlu mengatur set-list lagu yang memang menyajikan tingkat emosi yang berbeda-beda. Karena malam itu emosi yang ingin ISIL bangun lewat materinya masih membuat penonton bingung atau parahnya membuat penonton cepat merasa bosan.

Dream Motion #2 berakhir dengan menyajikan petualangan musik yang beragam namun masih dalam satu nuansa yang mendukung cuaca kota Malang pada saat itu. Menolak segala iming-iming kegiatan di peraduan di cuaca yang sedemikian nyaman ternyata benar-benar terbayarkan dengan sajian Dream Motion edisi kedua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s