Ulasan Acara; ASMARA (Asosiasi Main Rapi)

Lama juga kami tak mengulas acara. Itu bukan berarti kami absen menghadiri acara. Entahlah, memang belum ada semangat. Namanya juga media , uhm, eh, ini apa ya? Terserah kalian menyebut ANGSARUKA apa. Yang jelas kami ini di sini hanya ingin bersenang-senang. Ha!

Langsung saja….

Jadi, beberapa jam sebelum tulisan ini dimulai, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2018 di Houtenhand digelar acara bertajuk ASMARA: Terima Tamu. Bukan, ini bukan acara seperti yang kalian bayangkan. ASMARA adalah akronim dari Asosiasi Main Rapi. Entah apa dan mengapa kolektif yang dihuni wajah dan tenaga muda ini menamakan diri mereka demikian. Namun, mereka adalah sekumpulan pemuda yang menyenangkan dan juga penuh semangat. Salut!

Adalah Wolfgang, band pertama yang dipercaya membuka acara. Baru ini kami mendengar sekaligus menonton penampilan mereka. Wolfgang hanya beranggotakan dua personil; drummer dan gitaris yang sekaligus menjabat vokalis, dengan mengusung musik rock beraromakan blues dan stoner rock. Hanya beranggotakan dua orang, Wolfgang malam itu tampil maksimal dan memukau. Jujur, kami terkesan dengan band satu ini. Mulai dari musik, penampilan,  termasuk juga bagaimana vokalis Wolfgang berkomunikasi dengan penonton. Band yang konon lahir dari salah satu Universitas negeri di kota Malang ini tampak sudah memiliki jam terbang tinggi. Mereka benar-benar berani tampil beda dan menyegarkan telinga.

Wolfgang
Wolfgang

Meski hanya drum dan gitar, malam itu musik yang mereka bangun benar-benar rapat dan tanpa celah. Seolah mereka bermain dengan empat personil. Wolfgang juga membawakan beberapa materi milik mereka sendiri. Seperti “Blues Berat” dan lainnya. Menariknya dengan musik demikian, mereka berani mencoba bermain-main dengan menggunakan lirik bahasa Indonesia.  Namun, sayangnya kami tidak tahu di mana bisa mendengarkan materi Wolfgang yang mereka bawakan malam itu. Media sosial mereka pun tak banyak membantu. Ada jujukan?

Jujur, band pembuka ini yang membuat kami terpacu untuk kembali menulis ulasan acara. Benar-benar kami rekomendasikan untuk kalian yang gandrung dengan materi dari band semacam The White Stripes, Black Rebel Motorcycle Club, The Black Keys, Royal Blood, Radio Moscow dan lain sebagainya.

Penampil kedua adalah Buzz. Akhirnya penasaran kami melihat band ini terbayar sudah. Buzz adalah trio grunge yang baru saja mengunggah single terbaru berjudul “Berdosa” yang juga mereka bawakan di acara malam itu. Hanya saja, untuk selanjutnya, mereka harus percaya diri untuk tampil membawakan seluruh materi mereka sendiri. Porsi Nirvana-nya terlalu banyak. Ha!

Selanjutnya ada The Coming Backs. Grup punk yang bermain ngebut. Ini kedua kalinya kami menonton aksi mereka. Dan ketika band ini tampil, hampir arena moshpit tak pernah sepi aktifitas. Begitupula ketika TCB tampil di ASMARA. Persiapan yang memakan waktu dibayar tuntas dengan penampilan yang panjang, berkeringat dan bertenaga ekstra. Pantas saja setelah TBC turun panggung, penonton sudah banyak kehabisan tenaga.

Pasukan stoner rock bersiap tampil. Mereka adalah Strider yang malam itu membawakan materi mereka seperti “Defishit Moral”, “Tuan Mojo” dan termasuk satu lagu cover berjudul “Pelacur Tua”. Malam itu mereka tampaknya juga mengenalkan satu lagu baru. Sudah bisa dipastikan jika band ini tampil, banyak kepala yang akan mengangguk tanpa lelah di sepanjang lagu bak sedang beribadah. Khusyuk. Sepertinya mereka harus mulai mencoba resep-resep dan racikan musik baru, agar lagu yang mereka ciptakan tak terdengar monoton.

Setelahnya ada Bias, trio rock dari Yogyakarta. Band ini memiliki drummer dengan tenaga luar biasa. Selain gebukannya yang mantap dan bertenaga, pria ini juga menjabat sebagai vokalis. Sekitar lima lagu (kalau tidak salah ingat) dari album mereka dimainkan. Dan itu tak membuat drummer mereka kewalahan atau kehabisan tenaga.

Bias memainkan musik alternatif rock yang dibalut dengan musik psikedelik rock hingga ketukan-ketukan hardcore. Bisa dibayangkan? Kami pun hanya diam terpana melihat musik yang diusung Bias. Termasuk juga berbagai teknik vokal yang dinyanyikan oleh vokalis sekaligus drummer mereka. Sadis!

Bias
Bias

Penampilan terakhir adalah Olly Oxen dari Semarang. Band rock bermuatan stoner sampai psikedelik rock ini berisikan wajah-wajah yang sepertinya sudah lama malang-melintang di scene musik kota Semarang. Acara ini pun sejatinya digelar dalam rangka menyambut rangkaian tur bertajuk Bad Mantra untuk memperomosikan album yang bertajuk sama dengan judul tur mereka. Olly Oxen ini memang kental bernafaskan rock dengan karakter vokal yang bagai bernyanyi menggunakan megaphone. Sayangnya itu membuat pesan dari lirik yang dinyanyikannya tidak terdengar begitu jelas.

Tak bisa dipungkiri, Sleep tampaknya memiliki pengaruh besar pada musik mereka. Terutama dari divisi karakter bass. Namun, menariknya Olly Oxen tak menelan referensi musiknya mentah-mentah dan  mencoba meraciknya dengan gaya mereka sendiri. Dan itu berhasil.  Tak heran, malam itu mereka sukses membuat lantai moshpit kembali menggila setelah mengalami kekosongan di beberapa bagian akibat kelelahan dihajar oleh The Coming Back.

Rencana Asosiasi Main Rapi untuk melihat penoton rapi sepertinya gagal. Karena acara mereka benar-benar liar, berkeringat dan berapi-api. Tapi saya yakin, ASMARA tak mengiginkan kerapian di arena moshpit. Sudah kami bilang, tak usah terlalu serius. Mereka ini pemuda-pemuda yang menyenangkan.

6 Mei 2018 di Houtenhad

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s