Ulasan Acara; Terrrkam

Setahun silam duo instrumental chaotic stoner rock asal Bandung, Gaung, melepas album bertajuk Opus Contra Naturam lewat label rekaman Orange Cliff Records. Album itu sukses membuat terpanah karena keliaran musiknya yang berani menerobos masuk ke berbagai area musik; mulai dari stoner rock, psikedelik rock, hingga math rock dan lain sebagainya.

Sebagai band yang lahir di saat musik-musik demikian sedang tumbuh subur di Bumi Pertiwi, lewat Opus Contra Naturam,  Gaung sukses menawarkan perbedaan yang sungguh bernyali. Saya menyesal berhalangan hadir ketika Gaung mampir ke Malang dalam rangkaian tur promosi album mereka setahun silam di Houtenhand.

Namun ketika tersiar kabar jika Ramaputratantra (gitar, bas, synthesizer, cello) dan Rendy Pandita (drum, vokal) kembali berkunjung ke Malang, hal itu tentu tak boleh di sia-siakan.

9 Mei 2018 di eks pabrik keramik Dinoyo, Malang, acara bertajuk Terrrkam digelar. Ini adalah pertama kalinya tempat berwujud gudang itu disulap menjadi venue musik. Beberapa bulan belakangan, pabrik yang konon telah berhenti beroperasi satu dekade silam itu memang kerap difungsikan untuk menggelar acara. Namun, kebanyakan acara yang digelar seperti pasar seni atau pameran seni rupa.

Rasa penasaran akan pabrik yang luasnya sekitar 500 meter persegi itu dijadikan venue musik dijawab sudah oleh Tarrrkam. Line-up yang dipersiapkan pun tidak tanggung-tanggung. Selain Gaung,  adapula Noose (stoner metal), Guns (grunge), The Coming Backs (Punk) dan juga Woodplane (garage stoner rock) yang datang dari Lamongan. Kurang pas apalagi jika gudang seluas itu – yang bangunannya tak terawat dan menyisakan tembok-tembok hampir runtuh – disulap menjadi venue gig dengan line-up  demikian.

Pukul setengah sembilan acara belum juga dimulai. Di area depan pabrik berjejer lapak penjaja rilisan, merch, hingga kudapan. Tiket masuk dibanderol seharga dua puluh ribu rupiah. Nominal yang sangat masuk akal mengingat Terrrkam diorganisir dengan semangat kolektif – di mana listrik, alat dan venue harus melalui pembayaran yang berbeda.

Unit stoner metal yang baru saja meluncurkan debut mini album, Noose, ternyata didapuk menjadi penampil pertama. Sayang, waktu panjang menanti dimulainya acara yang digunakan untuk mencari penghilang rasa lapar membuat penampilan trio tersebut harus terlewatkan.

Maka otomatis band Woodplane asal Lamongan menjadi penampilan pertama yang saya nikmati. Empat pemuda enerjik yang menggabungkan kementahan distorsi grunge, kenakalan isian rock & roll, hingga beratnya enerji stoner rock. Woodplant membawakan materi-materi mereka sendiri yang termuat dalam mini album  mereka yang malam  itu sudah dikemas dalam bentuk CD.

Woodplane
Woodplane

Dari penampilan Woodplane barulah ketahuan jika penggunaan eks pabrik keramik Dinoyo menjadi venue musik harus benar-benar memikirkan spesifikasi soundsystem yang mumpuni. Karena tempat yang terlalu luas dan ruangan yang hampir tertutup, suara instrumen hampir bergema ke seluruh isi ruangan hingga menyebabkan sebagain suara harus kalah dengan lainnya. Dan malam itu, dengan soundsystem demikian, suara vokal lah yang ternyata harus dipaksan mengalah.

Meski demikian penampilan Woodplane cukup memukau dan membakar. Mereka tampil rapi walaupun suara vokal berada pada barisan paling belakang instrumen lainnya.

Guns mengambil alih panggung yang langsung beralaskan tanah. Dari sekian banyak band yang lahir dari rahim kampus, hanya beberapa band saja yang berani keluar untuk menunjukkan taji materi mereka ke pendengar yang lebih luas. Guns adalah salah satunya. Sayang, lagu pertama yang dibawakan secara apik tak berlanjut ke lagu-lagu selanjutnya. Tiap instrumen tampak berbebut siapa yang harus pada posisi suara paling depan, sedangkan pada divisi vokal tak bisa berbuat apa-apa karena memang posisinya ‘dipaksa’ berada posisi paling belakang. Belum lagi ketukan drum dan suara gitar yang kerap kehilangan kontrol permainannya.

Sampai kemudian arena moshpit kembali memanas tatkala Guns membawakan satu materi cover milik Nirvana. Uhm, belakangan ini banyak band yang seakan mulai menunjukkan penggemar Nirvana masihlah terus beregenerasi. Atau ini semacam peringatan jika Grunge memang belum mati? Entahlah apa benar jika grunge belum mati jika berbicara grunge hanya melulu di sekitaran Nevermind dan In Utero.

Ketika Guns menyelesaikan set panjangnya. Di area belakang penonton ternyata ada tiga orang paruh baya yang sibuk membuat kerajinan tangan dengan bahan dasar tanah liat. Ada yang membuat patung dan adapula yang membuat semacam piring dan guci mini. Seketika area workshop langsung sesak dengan wajah-wajah yang penasaran. Beberapa penonton pun tanpa malu mengajukan diri untuk mencoba. Dan ternyata membuat kerajinan keramik menggunakan tanah liat tak semudah yang dilihat.

Workshop

Tak sadar Gaung dengan tiga personil sedang bersiap di area panggung. Mereka tampak butuh sedikit waktu sebelum bersiap menunjukkan aksinya. Tapi maaf saya harus mengatakan ini, penampilan Gaung malam itu tak memuaskan ekspektasi yang telah mengendap selama berbulan-bulan akibat mendengarkan rekaman Opus Contra Naturam. Mereka tampak seperti tiga orang yang sudah kelelahan akibat perjalanan jauh. Tak banyak cakap, lalu menggeber lagu yang maha chaos. Sayangnya, itu tak diimbangi dengan presentasi sound atau permainan yang apik.

Entah karena faktor  tempat atau soundsystem yang digunakan, menikmati Gaung malam itu tidaklah bisa melalui jarak yang dekat karena saling berebutnya suara antar instrumen gitar, bass dan drum. Beberapa materi yang terkandung dalam Opus Contra Naturam tentu saja dibawakan, ditambah lagi mengenalkan materi baru yang konon akan hadir di album akan datang. Namun, kembali lagi, sayang malam itu penampilan Gaung masih jauh dari ekspektasi.

Grup punk super cepat dan liar, The Coming Backs, dipercaya menutup acara Tarrrkam. Seperti biasa, band ini tak akan mengurangii laju kecepatan musik mereka untuk menabrak telinga siapapun yang berada di depan mereka. Mungkin selanjutnya, bagi para pegiat yang hendak membuat acara di eks pabrik keramik Dinoyo, spesifikasi soundsytem atau tata letak area panggung benar-benar harus dipikirkan secara matang.

Tapi itu semua tak mengurangi rasa hormat kepada penyelenggara Terrrkam yang berani untuk pertama kalinya menyulap eks pabrik keramik Dinoyo menjadi venue musik. Bukan khayal jika acara ini akan menginspirasi pegiat lainnya untuk menggeber acaranya di tempat yang sama. Semangat kolektif serta keberanian Terrrkam tak boleh kurang diberikan jempol empat. Salut!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s