It’s A Long Way To The Top If You Wanna Rock ‘n’ Roll

Tenggakan susu jahe baru mencapai tahap seruputan kedua ketika tiba-tiba telepon genggam berdering pertanda ada pesan masuk. Waktu itu jam menunjukkan waktu pukul dua belas malam. Tebakanku, isinya pasti ajakan untuk mencari wedangan di tengah udara kota Malang yang belakangan dinginnya menusuk hingga tulang. Setelah dibuka, ternyata tebakan saya salah.

“Mau isi acara workshop?” begitu ajaknya tanpa ada embel-embel keterangan lainnya.

Workshop apa?” jawab saya singkat.

“Menjadi pembicara perihal pasca band,” balasnya.

Dahi saya mengernyit mencoba menerka maksud balasannya. Tidak lama kemudian kawan saya kembali mengirim pesan.

“Jadi workshop nanti membicarakan soal pra dan pasca band, nah, kamu yang menjelaskan perihal pasca band.” Begitu katanya.

Dari penjelasan itu saya baru mendapat gambaran, mungkin yang dimaksudkan kawan saya ini membicarakan apa yang harus dilakukan oleh mereka – yang membentuk grup musik – sebelum dan sesudah mengeluarkan materi atau album.

Saya tidak langsung mengiyakan ajakan itu. Entahlah, saya merasa masih banyak orang yang lebih pantas dan berkompeten untuk menjadi narasumber perihal wacana tersebut. Toh, selama ini saya juga belum pernah membahas urusan ini secara lebih serius. Jadi, rasanya memang belum pantas saja jika tiba-tiba saya menjadi pembicaranya.

Terlintas beberapa nama yang mungkin bisa memberikan resep-resep yang jauh lebih mutakhir. Seperti Mas Fajar yang punya segudang pengalaman bersama bandnya, Babirusa dan Neurosesick. Mas Galih dari Brigade07, Iksan Skuter, Mas Bee dari Wake Up, Iris!, atau Novita dari The Display juga manajer band yang berhasil melambungkan nama Beeswax. Bisa juga Mas Afril dari Extreme Decay, Mas Didit No Man’s Land, atau Mas Alo dari pihak label rekaman Barongsai Records. Dan tentu saja Lord Sammack.

Mereka itu semua yang harusnya jadi pembicara dan membagikan resep-resep yang selama ini mereka terapkan di dalam kepengurusan band. Dan resep yang mereka berikan nanti pasti jauh lebih relevan karena sudah pernah diterapkan dan jalankan. Bukankah pengalaman adalah harta yang paling berharga?

Sebenarnya wacana ini memang sudah saatnya untuk dibawa ke forum untuk didiskusikan bersama. Terlebih jika melihat suburnya arena musik kota Malang belakangan melahirkan talenta-talenta yang patut diperhitungkan di kancah musik nasional.

Namun, memang ada sebuah tanda tanya besar yang sampai detik ini membayangi arena musik di kota Malang. Mengapa band yang berpotensi kerap tiba-tiba hilang saat nama mereka sudah mulai melambung tinggi?

Baiklah, dari tulisan ini saya ingin menjawab pertanyaan tersebut. Dan tentu saja tulisan ini sangat bisa dibantah atau diperdebatkan. Karena memang itu tujuannya. Toh, ini hanya jawaban dari apa yang saya lihat, bincangkan dan dengar selama ini.

Tentukan Tujuan Bermusik (Visi dan Misi)

Setiap orang pasti memiliki alasan atau motif berbeda-beda mengapa mereka memilih berkecimpung di arena musik sebagai pelaku. Dan kebanyakan dari mereka jawabnya untuk bersenang-senang – ini yang sering saya dengar dari beberapa pelaku musik. Hal yang wajar, mengingat dari mereka para pelaku kebanyakan memilih membentuk sebuah grup musik untuk menghilangkan penat atas kesibukan sehari-hari. Mulai dari sekolah, kuliah hingga kerja.

Membentuk grup musik memang terkadang menjadi pilihan paling masuk akal menghilangkan penat khususnya bagi mereka yang selama ini pernah atau masih berhubungan dengan seni musik. Entah sebagai penonton, penikmat, atau hanya sekedar pengamat – yang terkahir mungkin karena faktor lingkungan.

Terlebih kebanyakan dari mereka memang memiliki sejarah atau setidaknya pernah membuat grup musik di masa-masa sebelumnya. Dan itu menjadi trigger paling mujarab untuk membentuk sebuah grup musik. Nge-band rasanya bisa menjadi jalan keluar atas penatnya kehidupan yang merongrong pikiran, raga dan jiwa.

Singkat kata, setelah membentuk band kemudian latihan plus manggung di beberapa gigs. Muncul secara alami pikiran untuk membuat materi serta menggarapnya lebih serius. Apalagi sepanjang awal perjalanan bermusik banyak kawan-kawan yang mulai menyukai penampilan serta musik yang kalian usung serta memberi pecutan motivasi untuk segera melahirkan materi dalam bentuk album. Secercah harapan tampak di depan mata sehingga membulatkan keputusan untuk melangkah ke jenjang berikutnya, memiliki materi atau album sendiri!

Dari sinilah harapan baru muncul. Satu persatu personil memiliki imajinasi berbeda-beda bagaimana nasib band ini ke depannya. Ada yang mimpinya sudah ke negeri kahyangan, ada yang di Belanda dan Negeri Cina, adapula yang masih di tempat dan hanya menanti dan mengikuti saja arus ke mana perginya.

Materi selesai kemudian dibungkus rapi dalam bentuk kaset pita atau cakram padat dan siap untuk didistribusikan. Dari sini mulai muncul lagi harapan-harapan baru lainnya. Album laku, tur promosi album, dan kemudian lanjut garap materi baru.

Salahkah mereka berekspektasi demikian? Tentu saja tidak!

Tapi ekspektasi ini justru bisa menjadi bomerang yang berbahaya untuk band itu sendiri. Pasalnya, secara tidak sadar mereka lupa akan tujuan awal membentuk band ini. Bersenang-senang! Tidak lebih dan tidak kurang.

Mungkin sebelumnya tidak pernah ada bayangan untuk bisa sampai tahap seperti sekarang. Sampai pada akhirnya eskpektasi itu diruntuhkan oleh realita. Naiknya jenjang dan tujuan membuat bicara aktifitas bermusik bukan hanya untuk sekedar bersenang-senang. Ekspektasi yang tak kunjung nyata perlahan muncul ke permukaan. Perhitungan dana yang dikeluarkan mulai dipergunjingkan. Ungkapan nge-band hanya untuk senang-senang kini menjadi manis di bibir saja. Sekarang semuanya harus dilakukan secara terarur, terstruktur dan serius!

Padahal diantara personil lainnya masih memiliki tanggung jawab lain di luar bermusik yang tak bisa ditinggalkan, belum lagi setiap personil memiliki ekspektasi yang berbeda-beda. Kemudian muncul konflik. Dari band yang awalnya ingin melepas penat malah segalanya menjadi penuh tekanan dan aturan.

Tak jarang dalam periode ini band memutuskan hiatus karena faktor tujuan awal yang sudah berganti haluan. Oleh karenanya rasanya penting untuk memulai band dengan lebih dulu memantapkan tujuan hingga membicarakan kemungkinan-kemungkinan kedepannya. Apa salahnya jika memungkinkan untuk merintis karir di jalur musik jika itu memang besar kemungkinannya. Memperbesar kemungkinan disudut ruang ketidakmungkinan tidak ada salahnya bung!

Tetapkan Target dan Menyusun Rencana

Nah, setelah memiliki tujuan serta visi dan misi, susun target untuk mencapai itu semua. Jangan hanya berjalan ala kadarnya saja mengikuti arus. Tapi kalo hasil tujuannya membentuk grup musik hanya untuk bersenang-senang ya sudah terserah kalian. Tapi jika kalian ingin serius berkecimpung di ranah musik, maka target dan rencana itu harus disusun dan ditentukan.

Mulailah dari hal-hal kecil seperti latihan hingga main di acara atau gigs. Semisal kalian beri tenggat waktu dua hingga tiga bulan sambil untuk mengumpulkan materi dan chemistry personil dan juga mengenalkan diri ke publik. Kemudian setelahnya masuk dapur rekaman untuk memasak materi. Lima bulan ke depan album sudah harus berada di tangan. Target awal ini harus dipenuhi.

Jangan berhenti di sini. Susun pula target jangka panjang, jangan setengah-setengah lalu kemudian kembali kehilangan arah!

Saya pernah berbincang dengan beberapa kawan perihal mengapa band-band di Malang kerap hanya lalu-lalang kemudian sekelebat menghilang. Padahal materi mereka layak diperhitungkan, massa juga sudah terbentuk, tinggal memuluskan jalan dan terus bergerak juga berkarya. Jawabnya kawan saya singkat.

“Coba sebutkan band di Malang yang punya target atau rencana jangka panjang, bukan hanya enam bulan saja. Tapi setidaknya satu hingga tiga tahun ke depan.” Begitu katanya.

Saya terdiam tak bisa memberikan nama. Karena sejauh ini – dari hasil obrolan bersama pelaku musik – target mereka mungkin hanya sejauh bikin album lalu tur promosi album. Selanjutnya? Ikuti arah angin saja. Atau istilahnya menyelam sambil minum air, ya keselek.

Awalnya saya berprasangka mungkin mereka punya rahasia dapur yang tak mau dibocorkan. Tapi memang pada kenyataan dewasa ini jarang band yang bisa membuktikan jika mereka memiliki rencana jangka panjang. Semuanya tekesan mengalir dan menuggu nasib baik.

Itulah fungsi menentukan target dan rencana. Mulai dari merancang langkah promosi setelah album rilis, menentukan kerja sama titik distribusi, berjejaring ke kota-kota lain untuk merencanakan tur, hingga menciptakan formula-formula lainnya.

Hal-hal tersebut musti diatur dengan target dan direncanakan dengan baik. Pasalnya perlu diingat, sebagai band baru kalian jangan berharap bisa meraih impian hanya sekali rilis album saja. Meski bisa saja itu terjadi, tapi itupun jika dewi fortuna sedang ‘main mata’ dengan band kalian. Tapi alangkah baiknya percayalah dengan slogan “kerja keras tak akan mengkhianati”.

Oleh karenanya album dan tur itu hanyalah target, tapi yang perlu disusun adalah rencana-rencana untuk mencapai target tersebut. Karena banyak langkah yang bisa kalian lakukan untuk mencapai goal tersebut. Mulai dari menyusun siaran pers, menyusun kerja sama distribusi atau dengan pihak-pihak terkait, meluncurkan video dan lain sebagainya.

Pasang ancang-ancang juga setelahnya. Seperti mulai mempromosikan materi album pasca tur hingga kemudian kembali mengumpulkan materi yang untuk cikal bakal album selanjutnya. Jangan lupa juga belajar dari pengalaman, evaluasi semua kegiatan yang kalian lakukan sebelumnya bersama personil untuk menyongsong langkah selanjutnya.

Ini yang terpenting, kembangkan terus langkah kalian. Jika di periode pertama kalian telah menjalankan resep ini dan itu, maka di periode selanjutnya olahan resepnya harus ditambah, ditingkatkan dan dikembangkan. Itulah fungsi evaluasi dan belajar dari pengalaman. Berani mencoba inovasi-inovasi baru dan pastikan target itu dilakukan semaksimal mungkin.

Di antara kalian mungkin pernah mendengar jika membentuk band sama halnya membangun sebuah perusahaan. Dan membangun perusahaan bukan hanya modal keberanian atau keberuntungan saja. Harus ada rencana-rencana panjang yang sudah disusun matang untuk menjalankan aktifitas bisnisnya. Termasuk pula jalan keluar untuk kemungkinan-kemungkinan buruknya. Begitupula dengan band.

Bangun Band Lebih Serius (Manajemen)

Target sudah berjalan dan dikerjakan, hasilnya tidak maksimal? Itu tandanya kalian butuh bantuan orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Band indie bukan berarti semuanya harus dikerjakan sendiri.

Ajak kawan atau orang yang menurut kalian memiliki kapasitas dan mampu diserahi tanggung jawab di bidang yang kalian butuhkan. Tidak perlu terlalu muluk-muluk cari orang yang memiliki pengalaman segudang, meskipun itu juga semacam jaminan atau lebih menjajikan.

Ajak kawan atau orang terdekat dulu yang kalian anggap mampu dan bisa membantu kalian dalam meraih target agar hasilnya maksimal. Semisal kemampuan Si A bisa dimaksimalkan di bagian Manajer, bakat Si B bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dokumentasi, kelebihan Si C bisa membantu kita di bidang publikasi dan promosi, atau lain-lainnya.

Ajak mereka dan kalian jelaskan maksud dan tujuan mengajaknya. Di sini kalian otomatis memberikan mereka kesempatan untuk menunjukkan bakat terpendamnya yang menurut kalian bisa lebih dimaksimalkan. Ciptakan semangat kolaborasi yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) dengan lingkungan terdekat lebih dulu adalah jalan paling masuk akal untuk band yang notabenya masih tahap awal seperti sekarang.

Meski demikian bukan berarti kalian bisa berleha-leha memasrahkan semuanya pada orang tersebut. Bantu mereka, belajar bersama-sama dan maju bersama. Ini semua demi kepentingan band kalian juga kan?

Kehadiran mereka – orang-orang di luar personil – memberikan kesempatan untuk kalian agar lebih serius dan mantap dalam menciptakan karya yang lebih baik. Gunakan waktu sebaik-baiknya agar target yang telah disusun bisa dicapai secara maksimal.

Perlu diingat juga, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Belajar dari pengalaman dan jangan mudah melimpahkan keselahan apalagi mudah untuk memutuskan asa. Api harus tetap menyala. Benahi perlahan manajemen band kalian dan tetap kejar target panjang yang telah disusun. Jangan berhenti bergerak dan menciptakan karya yang berkualitas.  Dan yang terpenting konsisten serta teguh pendirian dalam mengejar target dan rencana yang telah disusun.

Pelihara dan Bentuk Ekosistem Musik Yang Sehat Di Lingkungan Terdekat Lebih Dulu

Ini juga tidak kalah penting, jika kalian memilih terjun di arena musik itu berarti kalian harus mengenal ekosistem di arena musik juga. Berbicara ekosistem arena musik tidak hanya seputar kalian – para pelaku musik. Tapi ada penikmat musik, pengamat musik, pegiat dan lain sebagainya. Kalian juga mesti mempelajari dan mengenal baik ranah-ranah itu.

Mulai dari sistem kerja media, kinerja label rekaman, distribusi rilisan fisik – mengenai apa itu wholeshale atau distribusi, mengenal lebih dekat inisiator acara, membangun jaringan dan lain sebagainya. Dan kembali lagi jangan terlalu jauh, perhatikan dulu saja mereka yang ada di sekitar kalian.

Saya kerap mendengar anggapan para pelaku musik yang menilai kurangnya ranah musik di kota Malang adalah keberadaan media. Jujur, saya merasa penilaian itu seolah tak menganggap keberadaan media-media lokal semacam Common Ground, Apokalip Webzine, Mindblast, Blast!, Loudly Press, Sintetik, Escort dan lain sebagainya yang dulunya pernah menghiasi ranah musik di kota Malang. Keberadaan mereka ini – yang sekarang sudah menjadi artefak – sejatinya sudah membuktikan jika kota Malang sedari dulu sudah melek media.

Lantas apa yang membuat ranah musik kota Malang kurang terekspos?

Tentu saja jawaban tegasnya karena kebanyakan dari kita tak mau tahu atau menganggap mereka sebelah mata. Tidak keren selayaknya media-media tersohor tanah air macam, uhm, sudahlah lupakan. Intinya masuk media lokal memang bagus tapi tidak sekeren masuk media nasional. Sampai mirisnya, banyak yang menilai masuk media lokal adalah sesuatu yang biasa saja, tidak patut untuk dibanggakan. Semoga pikiran saya ini salah.

Belum lagi cara kinerja media yang musti kalian pahami pula. Posisi media adalah perantara saja, Mereka mengapresiasi kalian dengan cara mengulas, mengabarkan berita dan lain sebagainya. Objek yang dipilih tentu tergantung tim redaksi masing-masing. Dan yang perlu diingat, setiap media, apalagi yang diorganisir dengan etos mandiri, tentu punya keterbatasan waktu dan tenaga. Sangat mustahil untuk media yang dikelola secara mandiri untuk bisa menangkap radar seluruh pelaku musik yang belakangan tumbuh subur di kota Malang.

Oleh karenannya jangan tunggu mereka untuk mendatangi kalian. Jalin komunikasi dengan mereka, kabarkan karya kalian, diskusikan kepada mereka untuk memberikan ruang untuk band kalian. Jikalau bisa berkontribusi dengan media mereka, itu jauh lebih baik.

Pelihara media dan ekosistem yang berhubungan dengan ranah musik di sekitar kalian dulu dengan cara mengapresiasinya. Jangan bicara apresiasi jika kalian sendiri tidak sudih mengapresiasi orang-orang yang berada di lingkungan terdekat.

Ikuti perkembangan ekosistem musik di lingkungan terdekat, ajak mereka berdiskusi, saling bertukar pikiran dan saling memberi masukan, berkolaborasilah, ciptakan atmosfir yang saling mendukung di antara kalian. Jangan hanya datang ketika ada butuhnya saja, atau baru mendukung mereka jika ada hubungannya dengan kepentingan kalian saja.

Kita bisa besar bersama-sama dengan cara bergerak maju bersama-sama. Kota Malang sejak dulu sudah bergerak maju, tinggal generasi muda yang melanjutkan dengan resep-resep yang lebih jitu dan ide segar. Kita patut berterima kasih kepada mereka yang telah membukakan jalan serta memberikan pengalamannya dengan cara melanjutkan kerja keras mereka. Bukannya menganggap mereka tak pernah ada dan kemudian kembali membangun ekosistem mulai dari awal lagi.

Kita hanya perlu belajar dari pengalaman yang sudah ada. Dan pengalaman di kota Malang saya kira sudah lebih dari cukup panjangnya. Sekarang, tinggal bagaimana anak muda di kota ini mau mengembangkannya.

Ini juga bisa kalian terapkan kepada label rekaman, distribusi rilisan, penggagas acara dan bidang kreatif lainnya. Usik keberadaan mereka, terlibat dan bergerak bersama. Jangan malu apalagi berburuk sangka lebih dulu.

Sudah menjadi tugas kita semua untuk membangun dan menjaga kelestarian ekosistem musik di kota masing-masing. Jika buka kita, siapa lagi?

Optimalkan Media Band

Perkembangan jaman tak mengenal kata tunggu. Pergerakannya kian cepat. Namun, perlu diingat, kecepatan terkadang kerap menyesatkan. Oleh karenanya kita harus cerdas dalam memanfaatkannya. Seperti penggunaan platform digital yang dewasa ini tumbuh kian berkembang mewarnai kehidupan sosial kita.

Keberadaan media sosial harusnya bisa membuat langkah kita dalam mempromosikan karya lebih mudah. Tapi pada kenyataannya, banyak pelaku musik yang sampai detik ini belum bisa memaksimalkannya.

Menurut saya, janganlah terlalu gegabah mengikuti perkembangan teknologi. Tidak semua platform digital, menurut saya, perlu dimiliki oleh sebuah band. Pertimbangkan dulu fungsi dan penggunaannya benar-benar bisa menopang aktifitas bermusik kalian atau tidak.

Lohkan demi mengikuti perkembangan jaman dan kepentingan promosi?

Ya, benar. Namun, kembaali menurut hemat saya, jika materi kalian berisi dan bagus, yakinlah pendengar yang akan mencari kalian. Tak perlu menggunakan banyak media sosial untuk mempromosikan materi. Toh, sudah saya jelaskan sebelumnya, kalian bisa berkolaborasi dengan media di lingkungan terdekat. Atau cukup dengan menggunakan beberapa media sosial resmi band yang kalian miliki. Maksimalkan dulu yang ada. Terkadang jika ada platform baru, band seolah tidak boleh ketinggalan. Dan yang terjadi platform yang lama dilalaikan. Padahal banyak penikmat musik yang mengikuti perkembangan kalian lewat platform sebelumnya.

Belum lagi, banyaknya media sosial yang digunakan seringkali membuat band bingung akan diisi dengan konten apa. Alhasil, band mengisinya dengan perihal yang tak memiliki kesinambungan dengan kegiatan bermusik band itu sendiri. Semisal, diisi dengan aktifitas ngopi, pacaran, sharing meme, lawakan (yang hanya dimengerti lingkaran si personil) hingga aktifitas di kamar mandi.

Demi eksistensi? Uhm, rasanya orang-orang lebih menanti kabar karya musik kalian. Atau mungkin buat jaga-jaga? Jika lawakan kalian lebih sukses ketimbang musik band kalian, kedepannya tidak menutup kemungkinan kalian menjadi pelawak saja. Jika itu rencananya, kami sepakat. Ha!

Alangkah baiknya, setiap band, entah baru atau lama, mulai memikirkan untuk membuat website atau blog sendiri untuk diisi dengan segala aktifitas bermusiknya. Karena pada kenyataannya, penikmat musik sekarang kerap kebingungan ke mana mereka bisa mengikuti kabar band yang disukainya. Belum lagi jika menuju ke media sosial band-nya, kontennya malah tak ada sangkut pautnya dengan karya musik band tersebut. Menjengkelkan bukan?

Oleh karenanya segera pertimbangkan untuk membuat website atau blog sebagai ‘rumah’ kreatif band kalian. Tujuannya jelas, selain agar pendengar dan pengamat mengetahui perkembangan band kalian, website juga bisa menjadi salah satu langkah pengarsipan yang jitu untuk perjalanan musik band kalian.

Itulah resep singkat yang ingin saya berikan menurut hemat pribadi. Sejatinya masih banyak yang bisa didiskusikan. Tapi alangkah serunya jika kita bertatap muka. Kalian boleh sepakat boleh juga tidak. Karena saya percaya setiap pelaku musik memiliki motif dan tujuan berbeda-beda dalam bermusik. Jelasnya, hal-hal di atas bisa dijadikan salah satu referensi untuk kalian yang ingin serius meniti karir di industri musik. Terus saling berjejaring, tumbuhkan atmosfir baik di lingkungan kreatif terdekat, dan yang terpenting jangan mudah menyerah serta terus hasilkan karya-karya berkualitas.

Atau kalian ingin membagikan resep, menyanggah atau merespons? Sangat dipersilakan kirim resep itu ke alamat surel angsaruka@gmail.com

Hilman, 2018.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s