[Review EP: Noose – Flawless Darkness]

Lewat mini album perdananya tiga pemuda ini berhasil memberi pembuktian jika tanah heavy metal/stoner metal negeri ini masih terbentang luas dan masih perlu untuk dijelajahi lebih jauh.

Suburnya tanah heavy rock di negeri ini nyatanya menyisakan sedikit kegelisahan. Tidak banyak band muda yang berani muncul lalu mendobrak kemudian menghadirkan kejutan. Kebanyakan hanya bermain aman; mengikuti apa yang sudah pernah dipresentasikan oleh band yang telah lebih dulu hadir (di ranah lokal) dan mendapat jaminan pendengar. Alhasil, banyak dari band seperti itu sekedar menjadi bayangan dan mirisnya tak berumur panjang. Entah karena eskpekstasi yang kadung membuncah atau faktor lainnya.

Untungnya Noose memilih jalan lain. Band baru yang dihuni tiga wajah muda asal kota Malang ini baru saja melahirkan debut mini album yang dikasih judul Flawless Darkness. Lewat mini albumnya itu Noose memilih meramu musik heavy metal dengan resep berbeda. Hasilnya; drum yang menghentak cepat, distorsi gahar, musik rapat dan vokal beringas.

Lagu berjudul “N.O.D (Nauseous on Disarray)” menjadi pembuka yang sudah membuktikan pandangan di atas. Noose memberi asupan pendegarnya dengan distorsi gahar nan berat yang kemudian dimainkan dengan rapat dan cepat  sebelum diikuti isian gitar serta nada vokal yang berpotensi langsung menghadirkan sing along dan stage diving di arena moshpit.

Enerji serta intensitas kecepatan Noose semakin meningkat pada lagu, “Witchtray”. Band ini tampak tak suka berbasa-basi. Langsung hajar dengan geberan distorsi dan ketukan drum lalu kemudian disambut vokalis bak melolong di bawah malam purnama.

Kelebihan band ini juga hadir dari departemen gitar yang banyak menyajikan permainan atraktif tanpa harus menuduh terlalu hiperaktif.  Terasa selaras dengan musik yang mereka usung. Sesuai kebutuhan. Dengar saja part gitar yang menyelinap di antara lagu “Surreal Way Of Paradise” dan “Children Of The Grief” yang anthemic itu.

Sampai pada tiga lagu tersisa Noose tetap tak merubah apapun yang menjadi identitas musik mereka. Mereka malah tampak semakin girang menyajikan keberingasan. Seperti di jalur lagu “Devil’s Envy” di mana lewat lagu ini Noose bermain di ranah tema fiksi mengenai datangnya Lucifer ke bumi yang menimbulkan kehancuran dan mengajak manusia menjadi pengikutnya.

Intensitas musik Noose barulah menurun seperkian angka tatkala sampai pada trek berjudul “Deathwish”. Lagu ini seperti menuntun pendengar menuju ketenangan setelah menempuh jalan panjang nan mencekam di bawah langit yang semakin gelap sebelum disudahi dengan tembang “Territorial Pissings” milik Nirvana yang sayangnya membuat pertanyaan muncul; mengapa Flawless Darkness tak disudahi di trek sebelumnya saja?

Bagaimanapun juga Flawless Darkness bisa menjadi seamacam penegasan untuk band-band muda di negeri ini jika tanah heavy metal/stoner metal masih terbentang luas dan masih perlu untuk dijelajahi lebih jauh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s