gEEz, Proyek Solo Hip-Hop Penuh Murka dan Kegelapan

Mendekati detik-detik waktu mudik lebaran kemarin, seorang kawan yang hendak menunaikan perjalanan pulang kampung masih sempat mengirim pesan singkat. Kiranya kawan ini hendak menawarkan titipan buah tangan khas dari daerahnya. Namun, ternyata di dalam pesan itu berisikan tautan musik digital.

“Coba dengerin ini,” begitu rekomendasinya.

Sopo iku? (Siapa itu?).” jawab saya singkat.

Saya memang tak langsung membuka tautan yang dikirimkannya itu karena kebetulan memang sedang dalam usaha menghemat kuota. Ha!

westalah, rungokno dewe… (sudahlah, dengarkan sendiri).” jawabnya terkesan misterius.

“Oke, engko tak rungokno (nanti aku dengarkan).” balas saya sekaligus menyudahi obrolan.

Kawan saya satu ini memang canggih. Saya sempat curiga jika dirinya adalah seorang ilmuwan yang berhasil menciptakan alat pendeteksi paling mutakhir dalam menangkap radar keberadaan potensi-potensi baru di arena musik, khususnya di kota Malang. Bayangkan saja, si band belum woro-woro, kawan saya ini sudah punya materinya bahkan menjadi orang yang paling getol menyebarkannya daripada band itu sendiri!

Berjalannya waktu, sebagai manusia biasa, saya pun tak luput dari lupa. Apalagi rekomendasi membuka tautan itu dibarengi oleh tawaran membuka tudung saji dengan aneka menu seperti opor ayam, sambal kentang dan masakan khas Hari Raya lainnya. Jelaslah sudah pilihannya jatuh ke mana.

Toh, ada dua alasan yang membuat manusia tak bisa disalahkan; ketiduran dan lupa. Ha!

Sampai akhirnya beberapa minggu kemudian saya teringat dengan rekomendasi itu dan segera mengarahkan jemari untuk mengunjungi tautan yang dikirimkan melalui pesan di jauh-jauh hari.

Tautan itu menggiring saya menuju kanal musik digital pada akun bernama gEEz dengan single berjudul “VO)))ID”. Tombol play ditekan, seketika suara mencekam dari piranti elektronik membuka dengan begitu dinginnya sebelum disambut dengan lolongan sang vokalis serta pukulan noise bertegangan tinggi dan hentakan musik elektronik yang terus mengiringi geraman vokal yang bernyanyi bak melontarkan murka. Maut. Brengsek!

Jujur, itu semua membuat saya cepat terkesima dengan gEEz. Gelap, sadis, berkabut dan mampu membuat bulu tengkuk berdiri seketika.

***

gEEz merupakan proyek solo dari pria bernama Gilang. Di arena musik kota Malang, nama Gilang mungkin belum banyak dikenal. Namun, sejatinya Gilang bukanlah wajah baru di arena musik kota Malang yang belakangan kian subur melahirkan nama-nama baru.

Sebelumnya Gilang pernah terlibat di beberapa proyek musik, yang paling diingat tentu saja sebagai penggebuk drum Maul – duo doom metal. Tapi sayang, pemilik single “Doomed Morale” itu memutuskan hiatus terlalu cepat tanpa pernah meninggalkan bukti fisik apapun selain kompilasi Semburat #2 edisi Padepokan Tapak Racun.

Tak lama setelah Maul memutuskan hiatus, Gilang ternyata tak berhenti berkarya. Bahkan dirinya mengaku jika sebelum memutuskan membuat proyek solo, bersama kawannya bernama Bagas, Gilang sempat membentuk grup hip-hop.

“Sebenarnya sebelum aku punya proyek solo ini, setahun belakangan aku punya proyek hip hop/trap sama temanku, proyek itu namanya Ominou$,” kata Gilang.

Bersama proyek musik Ominou$ itu Gilang dan Bagas sukses melahirkan debut album berjudul EASTSIDELOWKEY yang kental berwarna hip-hop dan jauh dari apa yang dirinya presentasikan ketika bersama Maul. Album yang berisikan Sembilan lagu itu dirilis secara digital lewat label rekaman, Sykoloud Records.

“Terus pingin eksperimen musik sendiri aja, gabungin hip hop ke genre beda,” ungkapnya mengenai alasan bersolo karir.

Hati memang tak bisa dibohongi. Jiwa gelap Gilang ketika bersama Maul sepertinya masih terus memanggil dan seperti meminta untuk dibangkitkan kembali. Dan akhirnya lahirlah gEEz, di mana Gilang mencoba meleburkan pelbagai elemen musik yang pernah ataupun ingin dirinya racik. Komposisinya terdiri dari metal, hip-hop, noise dan lain sebagainya.

Meski mengaku menggabungkan banyak elemen musik di dalam karyanya, mengenai pelabelan warna musik yang dimainkan, Gilang mengaku tak ingin ambil pusing.

“mending dikategoriin hiphop/trap aja sih,” kata pria yang mengaku terpengaruh dari proyek musik seperti Ho99o9, Death Grips, Six ft Ditch, Lil Ugly Mane dan Koopsta Knicca ini.

Langkah Serius gEEz

Proyek solo Gilang ini ternyata telah menarik perhatian banyak orang. Beberapa kawan bahkan tak sungkan memujinya hingga merekomendasikannya ke media sosial juga kawan-kawan lainnya.

Akan tetapi, ada satu keraguan yang mengikuti kemunculan gEEz. Seberapa serius proyek ini ke depannya?

Bukan tanpa sebab keraguan ini dilontarkan oleh beberapa kawan atau penikmat musik jika mengingat dalam perkembangan musik sekarang sulit menemukan potensi baru yang menunjukkan keseriusan dalam menjalankan proyek musiknya.

Dalam lingkup pelaku musik, berkembangnya teknologi yang semakin pesat kini sudah mempermudah pelaku dalam menciptakan musik; mulai dari merekam hingga merilis karya.  Namun, perkembangan itu malah kerap membuat pelaku musik seperti kehilangan arah hingga menyebabkan para penikmatnya ragu untuk berharap terlalu tinggi.

Pasalnya, sekarang ini memang cukup mudah menemukan proyek baru yang melahirkan karya dengan kualitas jempolan. Akan tetapi proyek tersebut terkadang cuma semacam angin segar yang hanya lewat sepintas lalu menghilang begitu saja. Inipula yang menghantui Gilang dengan proyek solonya, gEEz.

Akan tetapi Gilang meyakinkan pendengarnya akan keseriusan proyek solonya ini dengan berencana mengemas seluruh materinya dalam bentuk album dalam waktu dekat.

“Ini masih proses mau rilis tape sendiri,” janji Gilang.

Karena penasaran yang kadung membuncah, kami mulai menggali ingatan siapa saja proyek musik di lanskap kota Malang yang memainkan musik serupa. Alhasil hanya unit eksperimental noise/doom/sludge bernama Gufo dan proyek misterius bernama Harass yang mendekati meski tidak bisa dikatakan sama persis.

Gilang pun sependapat jika dirinya belum pernah menemukan proyek musik serupa di kota Malang. Setelah saling berbagi referensi musik, Gilang pun memberikan gambaran bagaimana musik dalam albumnya kelak.

“materi-materiku nanti juga ada warna musik itu (eksperimental, doom, sludge, noise),” tutur Gilang. “cuma aku campur dengan beat musik funk.” lanjutnya sambil tertawa.

Mendengar pengakuan Gilang, album gEEz tentu saja layak untuk ditunggu. Sebab, selain akan menjadi angin segar, gEEz harusnya mendapat predikat pendatang baru yang memiliki nyali dalam mengeksplorasi musik yang belakangan tengah menjadi primadona. Dan harusnya keraguan akan keseriusan proyek solo ini memang bisa dienyahkan, mengingat bagaimana Gilang selama ini tetap berkarya meski dalam minimnya sorotan publik apalagi media.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s